Sepuluh tahun lalu adalah masa gemilang untuk bergiat musik—mendengarkan, berkarya, dan mengelola dansa bawah tanah—mengingat label indie sedang mengorbit memecah kebuntuan belantika musik Indonesia. Saat itu, lagu-lagu bernuansa folk atau senandung rakyat dari musisi pinggiran juga makin diterima masyarakat di tengah riuhnya industri pop dan rilisan artis besar.
Tahun itu juga, saya banyak memulai eksperimen Do It Yourself (DIY) untuk menabung modal nge-gigs lewat swakelola: beberapa artikel kaus dari hasil belajar menyablon hingga segelintir edisi zine dari proses belajar menulis esai, membuat kolase, dan menjajal fotografi. Semua itu saya lakukan diam-diam, di luar relasi dengan pergaulan sekolah, lebih tepatnya bersama beberapa sejawat yang mula-mula mengenalkan saya pada sebuah entitas bernama kolektif.
Pergaulan semacam itu membawa saya melampaui batas-batas dunia. Salah satunya ketika mengulik saran seorang kawan untuk meramban di situs digital milik netlabel Yes No Wave Music. Di medio tahun 2016, belum banyak rilisan yang terpampang di sana, tetapi sebuah sampul album berwarna hijau yang dijejali beragam tumbuhan semak telah menyita sepenuhnya perhatian saya.
Album bertajuk Dunia Milik Kita (2016) karya Paduan Suara Dialita itu menyajikan sepuluh trek dengan irama yang asing di telinga orang muda. Namun, menariknya, beberapa nama musisi di bawah setiap judul lagu justru terdengar akrab seperti Frau, Cholil Mahmud, dan Sisir Tanah, sehingga mendorong saya untuk mendengarkan album itu secara komplet.
Album itu lahir dari upaya para penyintas, korban dan keluarga korban Peristiwa September 1965 merawat ingatannya. Sebagian besar lagu Dialita diciptakan di dalam penjara atau bercerita tentang pengalamannya dipenjara, terpisah dari keluarga yang ditahan sebagai tapol, maupun berbagai upaya untuk bangkit menyusun ulang hidup setelah menghirup udara bebas.
Berpaut Layaknya Beluntas
Menukil dari Tirto.id, Dialita tak lagi bernyanyi sendiri, sebagaimana biji beluntas yang jatuh di bebatuan; ia akan tetap tumbuh, berbunga, dan menyebarkan biji-bijinya melewati tiap-tiap himpitan celah dan retakan. Beluntas tampil dengan alasan yang kuat, mengingat para penyintas tahanan politik di penjara saat itu sering disajikan makanan dan sayuran dari bulgur, genjer, bunga ayam, dan olahan gulma atau tanaman liar lainnya.
Ingatan akan beluntas melintang kekal dalam benak para penyintas selama menahan derita penindasan, bukan sebagai tanda kalah, melainkan sikap yang penuh harapan. Semangat itu terpancar dalam riuhnya lagu-lagu bernada ceria nan berseri: Padi Untuk India, Viva Ganefo, Dunia Milik Kita, dan Asia Afrika Bersatu, berisi doa dan cita untuk menghapus penjajahan dan mewujudkan dunia yang adil dan setara.
Sejauh ingatan saya, pengalaman mendengarkan album itu dapat diimajinasikan seperti berada di skenario yang bermula dengan berdiri bingung di ambang pintu dekat bangunan megah yang lama terbengkalai, di mana gema Ujian terdengar dari jauh, seakan berasal dari ujung panggung. Suasana getir kemudian mengundang diri agar masuk lebih jauh, mencari celah-celah kosong untuk menyambut hangatnya Salam Harapan.
Penampilan berjalan lambat di sana, beberapa lampu sorot seolah mengubah latar panggung menjadi lorong penjara yang sibuk mengawasi tahanan, utamanya ketika tembang pelipur lara terlantun sayup, seperti di Taman Bunga Plantungan. Namun, seiring dengan lagu yang lanjut-bergantian, bertambah dalam pula dentum di relungan, seakan terbantu oleh ketuk kaki, kepalan, dan semarak orang-orang yang saling melebur hingga seisi ruangan pun ikut bergetar; memanggil-manggil keadilan.
Barangkali, pengalaman mendengarkan itu bakal selalu melatih pendengarnya untuk ikut memahami penderitaan yang kompleks dan tersembunyi, bukan hanya lewat telinga, tetapi juga hati. Tentang kebenaran yang tak lagi mudah dijumpai, di mana kemanusiaan kerap diabaikan dan kerja-kerja perawatan hanya menjadi ikhtiar segelintir manusia. Dalam nyanyian Di Kaki-kaki Tangkuban Perahu dan Kupandang Langit, Dialita menyerukan agar setiap perjuangan hendaknya tak kenal menyerah, tidak bakal mati, dan tetap berlawan.
“Di sini juang berpadu / Dalam lapar terlantar / Badan takkan menyerah”
“Biarpun badan lagi terkurung / Tetaplah engkau bertarung”
Pada perjumpaan utuh dengan album itu, sebongkah kebingungan akan melewati serangkaian titik temu yang dipandu oleh rasa ingin tahu di mana segala duka kolektif—apapun namanya nanti—tidak melulu harus segera meletus, tetapi lebih dulu membasuh dengan cekal segala lebam penderitaan sehari-hari untuk mengingatkan bahwa sederet luka di sepanjang tragedi bangsa perlu dirawat bersama agar keadilan lekas terobati. Seperti tulusnya Dialita ketika menitip pesan harapan yang paut-memaut dengan generasi muda melalui Lagu untuk Anakku.
“Lihatlah pagi cerah indah, anakku / Lihatlah mawar merah merekah, sayangku / Secerah pagi indah, hari depanmu / Semerah mawar rekah harapanku / Duka derita kubawa setia / Cita dan cinta lahirkan segala / Nan indah di hari mendatang, anakku / Jadilah putra harapan bangsamu”
Berbekal Cekal, Bertahan Lebih Lama
Kini, sepuluh tahun telah berlalu sejak rilisnya Dunia Milik Kita, tetapi para penguasa tampaknya tak sekalipun mendengarkannya. Kalaupun pernah, mengapa negara justru membiarkan kriminalisasi sistematis dengan dalih tahanan politik kembali terulang?
Permulaan tahun 2026 ini, Aliansi Gerakan Muda Lawan Kriminalisasi (GMLK) mencatat sekitar ±689 orang ditangkap sebagai tahanan politik, selepas gelombang aksi Agustus-September 2025. Sebagian besar masih ditahan dan tersebar di 43 kota/ kabupaten. Kejadian ini terasa begitu pelik, mengingat sejatinya, duka yang dibawa dalam aktivisme selalu terbit untuk menstimulasi proses berbenah di sepanjang pengguliran kekuasaan.
Di tengah perenungan ini, saya mengerti bahwa gerakan telah mengalami kelelahan hebat, tetapi bukan kekalahan. Karenanya, saya (barangkali juga kau) hendaknya terus-menerus memilih bangkit meski sepuluh ribu kali bangkrut secara ideologis. Bukan sekadar sebagai jeda, tetapi dedikasi pada kerja-kerja perawatan. Sebab, tahun ini, senandung pesan dari Dialita makin tertanam relevan untuk menjawab pertanyaan klise yang dulu sering saya dengar: Musik sebagai hobi tampak masuk akal, tetapi kalau cita-citamu untuk hidup, apakah cukup hanya dari membuat lagu?
Sependek pengetahuan saya, bermusik tentu saja bukan sekadar hobi, mengingat pengertiannya sebagai “bukan pekerjaan utama” hanya akan ampuh untuk mendepolitisasi musik sebagai medium pergerakan.
Karenanya, dengan berbekal pengetahuan dan pengalaman selama mendengarkan Dialita, saya (barangkali juga kau) bakal menempuh tahun ini dengan belajar memaknai setiap pertemuan sebagai bagian utuh dari kerja-kerja perawatan.
Pada beberapa kesempatan bersolidaritas dengan tahanan, saya menyaksikan bagaimana keberanian hadir melingkupi mereka, termasuk dari anggota keluarga yang datang. Seperti yang terjadi pada 30 Agustus 2025 malam, ketika Denpasar mendadak mencekam. Kekhawatiran mencapai puncaknya setelah ratusan peserta aksi ditangkap secara acak, sesaat setelah membubarkan diri. Penggunaan kekerasan yang masif juga diketahui dari banyaknya korban yang terluka, bahkan ada yang ditembak dengan peluru karet.
Karenanya, sepulang dinas kerja, saya ikut melebur dalam rombongan untuk bernegosiasi dengan kepolisian. Malam itu juga, banyak orang tua datang membawa kegelisahan yang sama: anaknya yang masih di bawah umur belum kunjung pulang. Hebatnya, mayoritas kerumunan di sana tetap bertahan dan menunggu di luar kantor polisi dengan sabar, bahkan saat berdialog dengan aparat yang terus menghalangi akses bantuan dan pendampingan hukum.
Sementara itu, di pekan awal tahun ini, seorang rekan lama juga menyampaikan kabar kalau kawan kami di Solo ditetapkan menjadi tapol akibat aktivitasnya sebagai admin akun Instagram. Mereka masih muda dan tidak punya rekam jejak yang berbahaya: gemar menonton pertandingan klub bola favoritnya serta melapak selonggarnya bersama perpustakaan jalanan.
Pada 14 Januari 2026, setelah berhasil bangun pagi, saya segera berangkat ke Pengadilan Negeri Surakarta. Dalam setengah hari saja, saya sudah dibuat takjub dengan ketangguhan dari keluarga tahanan, baik di dalam dan di luar persidangan. Tak satu pun dari mereka yang mengutuk perbuatan anaknya, malahan mereka yakin bahwa apapun yang telah diperbuat anaknya bukanlah kejahatan, melainkan upaya membela keadilan untuk kepentingan orang banyak. Sepanjang sidang berlangsung, praktis tidak ada yang masuk akal dari dakwaan, selain pengetahuan kalau hukum memanglah senjata, tak peduli seberapa buruk kepentingannya.
Surat kepada Sejawat
Tumbuhlah tabah seliat Dialita. Sepanjang apapun perlawanan ini nantinya, tetaplah berbekal cekal dan saling berpaut layaknya beluntas. Tetaplah hidup dan bergiatlah lebih lantang; membaca, berpuisi, mendengarkan lagu, berkarya, apa saja, apapun untuk merawat ingatan.
Mendengarkan Dialita membuat saya mengerti arti penting kerja-kerja perawatan. Termasuk lewat bermusik maupun keseharian lain yang terbit sebagai ruang afektif sekaligus politis untuk merebut kembali agensi atas ingatan yang selama ini dikontrol oleh negara melalui narasi maskulin yang penuh kekerasan. Lagu-lagu serupa karya Dialita telah melampaui medium estetika, menjadikan pengalaman penyintas sebagai pengetahuan politik, arsip alternatif, juga narasi tandingan yang melatih ingatan kolektif agar senantiasa berpihak pada marginal.
Itu sebabnya saya memulai tahun ini dengan bersaksi sekaligus mendedikasikan kerja-kerja pengetahuan untuk merawat aneka aktivisme bersama para sejawat. Tahun ini hendaknya menjadi tahun kesaksian yang ampuh dalam mencatat keberpihakan guna memperpanjang usia berlawan. Tahun ini, mari merebut nasib baik itu bersama-sama.
Teruntuk kawan, tahanan politik dan keluarganya, terima kasih atas segala perjuangan yang tak kenal lelah. Terima kasih karena senantiasa tersenyum dari balik jeruji penjara, di ruang-ruang persidangan, dan di setiap seruan untuk terus melawan ketidakadilan. Pada semua Ibu yang memeluk erat tubuh anaknya, tersemat puji dan sembah atas tangguhnya rasa percaya serta dedikasi untuk terus merawat, memberi kasih dan sayang bagi semua anak-anak bangsa.
Barangkali, ini juga saatnya kita meninggalkan romantisisasi jargon-jargon yang dilanggengkan gerakan patriark, dan beralih kepada bahasa kasih; melawan kekerasan bukan dengan kekerasan, tetapi ikhtiar yang abadi, regeneratif, juga ketekunan pada kerja-kerja perawatan sepanjang hayat. Selayaknya akronim dari Dialita yang berarti Di Atas Lima Puluh Tahun, estafet juang orang muda hendaknya terus berlanjut dan tak lekang oleh waktu.
Sampai nanti kita berjumpa lagi di ruang-ruang aman yang tercipta, di mana akan ada masa baik dan musim yang cerah. Saat ini, tumbuhlah dulu setabah Dialita, serupa lagu-lagu yang membentuk perjuangan kita serupa dengan tanah liat: tidak akan hancur, tak akan tercerai dan putus, justru bersiasat mencari ketakberhinggaan bentuk.
Editor: Arlingga Hari Nugroho
Foto sampul: YouTube/swandi ranadila

