Siapa yang bisa menjamin bahwa di ujung jalan kita akan menemukan rumah, dan bukan kesepian yang baru?
Bagi banyak orang, kota Jakarta kerap terasa seperti labirin dari pertanyaan itu. Ia sering disebut sebagai muara bagi yang patah, sebuah solusi yang terdengar pragmatis ketika pilihan lain terasa buntu. Namun mungkin saja, Jakarta hanyalah mesin besar yang menampung impian yang gagal kita rawat sejak awal
Barangkali anak-anak daerah yang tumbuh dengan narasi tentang ibu kota sebagai pusat segala kemungkinan adalah sisa-sisa dari sebuah pertempuran yang tak pernah kami mengerti.
Di peron Stasiun Jatinegara suatu hari, tiba pertempuran yang sama sekali di luar ideologi atau senjata, tetapi bagaimana bisa dengan waktu yang singkat dapat menggelontorkan emas ke kampung, sedikit, demi sedikit.

Jakarta, dalam khazanah keputusasaan identik sebagai dewa penyelamat. Kalimat “ya sudah, ke Jakarta saja” tidak pernah lahir dari sebuah kemenangan di atas gelanggang. Ia adalah tendangan, semacam upaya terakhir manusia balungan ringkih dan wong papa untuk menyambung napas yang kian senin-kamis.
Namun bukankah ijazah sudah digenggam? Siapa lagi yang menyeret langkah seorang sarjana ke Stasiun Jatinegara dengan membawa ransel berisi harapan dan makna hidup yang menipis? Ya, simpul ekonomi khas kelas menengah yang sering menjadi pemantik, meski tak jadi satu-satunya sebab.
Sejak kecil kita dijejali narasi tentang perusahaan gedung tinggi, tentang nasib yang konon bisa berubah dalam sekali gebrak. Imajinasi itu dibentuk oleh sejarah sentralisasi yang panjang. Terutama sejak era Orde Baru ketika kebijakan pembangunan terkonsentrasi di Jawa, terlebih di ibu kota.
Sudah sejak kecil, kita dibesarkan oleh televisi nasional yang bersiar dari Jakarta. Kantor pusat perusahaan besar bercokol di sana. Media besar ada di sana. Keputusan penting negeri ini, hampir selalu, diambil dan dirumuskan di sana. Bahkan, berita bencana besar di daerah pun terasa sah jika sudah disebutkan di studio-studio ibu kota.

Secara ekonomi juga demikian. Kontribusinya terhadap negara nyaris seperlima lebih dari keseluruhan kue nasional. Perputaran uang lebih cepat, jaringan lebih padat, peluang lebih tampak di permukaan. Wajar jika kepala pelan-pelan menyimpulkan ketika ingin mencari duit, sugih berpangkat, ya pergilah ke Jakarta. Selesai.
Di Jogja, kota yang saya tinggali, memang segalanya terasa cukup. Namun kata itu juga seringkali jadi sebuah eufemisme untuk kompromi. Upah minimum yang jauh di bawah ibu kota, lapangan kerja formal yang terbatas, dan ketergantungan ekonomi pada sektor jasa berskala kecil membuat banyak orang harus menguntir banyak keran penghasilan. Lagipula, bukankah hidup ini juga saling menggantungkan?
Apa artinya merasa cukup jika jantung kehidupan atau orang sekitar kita, paling dekat dengan kita, paling kita sayang justru terhempas dalam ceruk penderitaan?
Maka, pada sebuah dini hari di 6 Februari 2026 yang getir, jempol saya bergerak di atas layar gawai. Memilih tiket KAI termurah menuju Jakarta. Sebuah langkah yang nyaris tanpa perhitungan, sebuah gerak refleks dari manusia yang mendapati kebuntuan.
Siapa tahu bahwa angka-angka lapangan kerja di sana justru membantu ramainya “sekolah bertahan hidup” di trotoar-trotoar yang panas. Sementara itu, kita belum tahu pasti sampai sejauh mana gerbong-gerbong kereta yang sesak itu meningkatkan harkat manusia atau malah hanya mengukuhkan pesan lama bahwa upah regional yang “jongkok” adalah kutukan yang harus diterima dengan sabar, dan Jakarta adalah satu-satunya hakim yang boleh memutus perkara nasib.
Setibanya di Jatinegara, kesadaran itu datang serupa angin subuh yang menampar saya. Di antara ribuan orang yang melangkah cepat, saya berdiri linglung. Rasa aman yang saya bayangkan hadir begitu tiba di Jakarta, hanyalah fatamorgana.
Di warung stasiun, seorang advokat yang baru saya kenal bercerita tentang biaya hidup yang mencekik dan ribuan orang yang setiap tahun datang dengan kesunyian yang sama. Mereka hanya untuk berdesakan dalam kompetisi yang tak pernah ada garis finish-nya. Barangkali sebagian dari mereka duduk satu gerbong dengan saya?

Di titik itu, saya betul berada di persimpangan antara Jakarta memang sebuah solusi, atau kita yang terdidik sampai percaya bahwa ia solusi. Dua hal ini terasa sama, tetapi sejatinya berbeda.
Sungguh kota itu tak pernah meminta untuk disembah, dikultuskan menjadi wilayah terdepan, paling superior. Lagi, Jakarta mungkin bukanlah raja terakhir. Jakarta memang menyediakan banyak peluang. tetapi tak pernah berjanji menyediakan segalanya untuk semua orang.
Bisa jadi di situ duduk perkaranya. Kota itu tak pernah mengaku sebagai penyelamat, kitalah yang memberinya mahkota.
Maka ketika kaki menginjak peron tanpa rencana, menimbang kota-kota lain juga dengan mata yang ragu. Kemudian kita sadar, Jakarta hanya cermin besar untuk melihat pucatnya wajah kita bersama. Sialnya, hampir semua dari kita pernah berkaca di sana.
Editor: Agustinus Rangga Respati
Foto Sampul: Kind Shella
