Beberapa hal perlu dipetakan. Ada yang membicarakan kemenangan dan kekalahan di sisi lain. Begitulah kerja sistem sosial yang terbaca di permukaan. Di luar itu, pembicaraan mengenai bayang-bayang jarang dilakukan. Mudah ditemukan anggapan bahwa bila sesuatu tak tampak maka bukan sebentuk kenyataan, jika sebaliknya yang terjadi, kejelasan muncul adanya.
Namun, dalam komunikasi kita mengenal persepsi. Dari situ segala sesuatu berkait nilai bermula. Orang mudah mengatakan apa pun, bisa menjelaskan segalanya, dan menggarap tujuannya. Belakangan saya kerap mendengar hal-hal itu dengan makna di balik pengertian “motif”.
Persepsi hadir karena diawali latar belakang. Kita bisa menengok sebab-sebab mengapa fenomena tersebut bisa terjadi. Kondisi sosio-kultural, ekonomi, keluarga, geografis, komunitas, pengetahuan, dan sejenisnya merupakan mula pembentukan persepsi seseorang atas suatu hal. Ketika tersampaikan, bahasa mengambil peran sebagai fasilitator.
Mendiskusikan hal ini, bagi para pemikir bahasa akan menjadi materi yang sangat kompleks. Premis di awal mencoba menjadi pengantar sederhana, mengapa kita, sebagai pengguna bahasa rutin berpersepsi ketika berhadapan dengan sesuatu. Artinya, persepsi hadir dalam posisi yang melekat.
Mari berjalan-jalan ke beberapa tempat. Bertemu dengan ahli bahasa yang kerap membahas hal ini sebagai diskursus. Karena itu, kita melangkah untuk kursus. Pelan-pelan. Aksi-reaksi akan terbahas di belakang. Sejak belia, pemahaman kita akan keindahan tergambar lewat gambar dua gunung dengan satu jalan di tengah, tak lupa termasuk persawahan yang biasa tergores berbentuk centang.
Tak sedikit para pemikir estetika mengritisi habis-habisan pengertian keindahan alam lewat gambar dua gunung itu. Alam Indonesia tidak hanya gunung saja, tetapi juga pesisir, sabana dan masih banyak lainnya. Biasanya, kita akan diajak membayangkan saudara-saudara kita di Miangas yang lebih dekat dengan samudera, namun ukuran keindahan terlanjur dipaksa lewat imajinasi tentang gunung.
Atau, pelajaran membaca bahasa Indonesia lewat mengeja “Ini Budi” serta turunannya yang akan menyentuh anggota keluarga Budi. Karena itu, kegamangan akan hadir bila pertanyaan mengapa kondisi demikian dapat terjadi tanggal diajukan. Kita semua tidak pernah menolaknya. Menerima begitu saja. Sampai kepada anak-anak kita pun, ketika belajar keindahan atau membaca menggunakan metode sama.
“Mengapa?” Pertanyaan ini perlu diajukan.
Sebelum berjalan ke mana-mana, tetangga saya, Mbah Wignyo, ketika menggambarkan kemajuan artinya adalah kota. Bukan ketika ia menghasilkan panen padi berlimpah, memiliki tanah luas, atau sekadar mengambil lauk di kebun depan rumah. Percayalah, ia belum tentu satu tahun sekali pergi ke kota.
Bayangan Mbah Wignyo terjadi karena cerita dari lingkungan sekitarnya yang membicarakan kemajuan dengan penuh mobil, gedung tinggi, dan jalanan besar. Artinya, persepsi yang terjadi kepadanya bersifat imajiner. Namun, ia juga punya persepsi menarik tentang orang kota, menurutnya terlalu banyak bicara ketika harga beras naik, padahal saat-saat semacam itu ia sedang menikmati quality time dengan cucunya. Karena keuntungan sisa panen dapat membayar janji-janji yang tertunda.
“Pengin apa, Nduk? Sate kambing Mbah Sadir?” begitulah pertanyaan Mbah Wignyo kepada cucunya.
“Purun, Kung.”
“Ya, suk ngenteni bar panen, Mbah Uti nggelar beras ning pasar, ya,” sembari menimang cucunya, Mbah Wignyo meyakinkan bahwa dirinya akan mengabulkan janjinya.
Cucunya yang masih belia tidak mempertanyakannya. Ia cukup yakin akan dibelikan sate kambing. Begitulah kenyataan yang terjadi, baik di keluarga Mbah Wignyo atau keluarga lain di sekitarnya. Pernyataan yang mampu membentuk keyakinan cucunya bahwa dirinya akan mendapat kudapan spesial.
Seraya mengunci strategi Mbah Wignyo, penjelasan yang selaras mengenai persepsi hadir jauh dari Italia. Gramsci menyebutnya sebagai hegemoni. Jika ditinjau atas apa yang terjadi kepada Mbah Wignyo, artinya persepsi hadir karena dibentuk oleh lingkungan sekitarnya. Kemudian bentuk yang sama diturunkan ke cucunya. Di tempat lain, dalam kaitannya dengan budaya atau sejarah, bentuk yang lebih serius kita mendengar “dari dulu sudah begitu.” Sebuah kalimat sakti agar tidak dipertanyakan ulang.
Dari Italia, kita menyelundup masuk ke Amerika Serikat mengikuti kelas yang diajar Noam Chomsky. Adanya penasaran terbangun selaras dengan segala pertanyaan Zack de La Rocha kepada ahli linguistik itu berkait politik, namun kita dalam konteks lebih sederhana. Persepsi.
Chomsky lewat Politik Kuasa Media, mendedah bagaimana persepsi dibentuk secara massal. Ingatkah kita dengan dua gunung, “Ini Budi”, dan cerita Mbah Wignyo? Artinya, hal-hal yang kita baca, konsumsi sehari-hari, dan diskusikan telah membentuk segala penilaian terhadap banyak hal.
Karenanya sulit ditolak bahwa sesungguhnya persepsi sangatlah politis. Sejalan dengan pengertian fasilitator yang membersamainya, bahwa bahasa mampu mengatur, mengendalikan, atau mengontrol pikiran.
Sebagian contoh yang telah diterakan adalah perkara persepsi dalam ranah domestik. Sementara, bagaimana dengan persepsi publik? Sudut pandang yang mengatur banyak sekali pandangan umum? Kondisi demikian sepertinya cukup asyik bila diajukan dalam konteks Indonesia.
Hari ini media sosial mengambil peran yang cukup besar membentuk persepsi publik. Tidak sedikit pula penjelasan menyoal keberadaan pendengung (buzzer) dan pemengaruh (influencer). Ditambah dengan hadirnya akal imitasi (AI) yang mengambil peranan sebagai jawaban atas segala pertanyaan. Karena itu, sesekali saya sering menyimpan pertanyaan. Barangkali keliru, mungkin terdengar kolot: di mana posisi penasaran hari ini apabila setiap orang berkehendak menyatakan apa pun tanpa saringan.
Saya kemudian teringat pernyataan Norman Fairclough apabila bahasa sudah beralih bentuk menjadi wacana (modifikasi tanpa argumen: persepsi), maka kondisi sosial akan turut terpengaruh. Turunan langsung yang dapat dilihat adalah realitas. Apakah secara praktis akan mengakumulasikan aksi atau menimbulkan kontra persepsi. Inilah yang fundamental, apabila dari jauh persepsi dilihat sebagai peristiwa bahasa.
Persepsi adalah bagian kecil peristiwa bahasa, namun sudut pandang jauh memahaminya lewat artian peta. Sementara itu, peta akhirnya memberi keleluasaan untuk melihat praktik aksi-reaksi. Sejauh mana bahasa mampu mengendalikan situasi, membentuk fenomena, hingga menciptakan kondisi.
Dengan begitu, kenyataan bahwa bahasa sering terlihat biasa saja bukanlah hal aneh. Praktik berbahasa terlanjur dipersepsikan sebagai bentuk komunikasi semata. Bahasa bukan mercusuar yang dibangun karena semen. Bahasa bukan pula senjata-kokang-target. Bahasa ada dalam pengertian waktu. Keberadaannya adalah bayang-bayang serba kemungkinan.
Editor: Agustinus Rangga Respati
Foto Sampul: Bima Chrisanto
