Ketika Warga Melawan dengan Arsipnya Sendiri: Catatan-Catatan dari Thailand

Warga selalu punya cara merawat ingatannya, punya cara sendiri terhadap pemeliharaan—tentu tidak dengan kaidah konservasi ala lembaga resmi, kaidah pengarsipan ala otoritas. 

Akhir Februari, saya sampai di Bangkok sore hari, menjelang gelap. Bangkok sore itu adalah taksi dan bus yang berkejaran dengan mobil-mobil, tak beda dengan Jakarta atau Kuala Lumpur sebagai sesama metropolis Asia Tenggara. Di tengah jalanan riuh dan ratusan mobil yang merayap, saya bergegas menuju kawasan padat, tepat di pinggir sungai bernama Chao Phraya. 

Tanggal 26 Februari, di ruang rapat Universitas Thammasat, pada pinggir sungai itu, saya berkumpul bersama Under the Banana Tree Archival Network—sebuah jejaring pegiat arsip warga, arsip gerakan sosial, dan aktivisme kultural di Asia Tenggara. Selama tiga hari kami mengikuti lokakarya tentang pengarsipan, keamanan, panduan etik, hingga banyak hal lainnya soal arsip warga dan isu-isu sejarah alternatif. 

Monumen 6 Oktober 1976 di Universitas Thammasat (dok. Amos Ursia)

Saya belajar banyak dari kawan-kawan pegiat pengarsipan warga, gerakan sosial, dan aktivisme kultural di Asia Tenggara. Selama lokakarya, saya mendengar presentasi soal praktik-praktik pengarsipan berbasis warga, dari Thailand, Malaysia, Filipina, Singapura, Indonesia, dan Myanmar. Sesi dengar dan pemaparan jadi momen untuk merefleksikan bersama, soal arah gerak aktivisme kultural di Asia Tenggara—juga, soal bagaimana warga mengelola arsipnya hingga terlibat dalam produksi pengetahuan sejarah. 

Pada hari terakhir, 28 Februari, kami diajak ikut tur berjalan kaki sekitar area Universitas Thammasat dan Monumen Demokrasi di tengah Bangkok. Tur berjalan kaki dipandu oleh Museum of Popular History, sebuah museum partikelir yang mengumpulkan arsip hingga artefak-artefak warga, mulai dari selongsong gas air mata saat demonstrasi besar tahun 2020 sampai surat-surat tahanan politik di Thailand.

Kami berjalan kaki ke situs-situs tempat tragedi 6 Oktober 1976 terjadi—Thailand yang berada dalam diktator militer waktu itu, situasi peperangan di Vietnam, dan Asia Tenggara yang jadi proksi Perang Dingin. Gerakan masyarakat sipil waktu itu menolak Thailand kembali dikuasai diktator militer Thanom Kittikachorn, lalu Universitas Thammasat menjadi lokasi berdarah, ratusan mahasiswa yang berkumpul dan mengorganisir gerakan protes dipersekusi oleh paramiliter sayap kanan hingga polisi. 6 Oktober 1976 adalah momen sejarah yang mencekam, momen ketika massa aksi diberondong senjata, dan disiksa dengan keji.

Pada waktu itu, mereka yang berada dalam gerakan perlawanan dituduh sebagai komunis, beberapa mahasiswa diarak secara mengerikan di lapangan sepakbola, beberapa digantung di pohon—Wichitchai Amornkul salah satunya, mahasiswa fakultas sosial dan politik yang meninggal secara tragis. Kami berkeliling di lapangan sepakbola, mendengar kisah tentang bagaimana mencekamnya 6 Oktober.

Monumen 6 Oktober 1976 di Universitas Thammasat (dok. Amos Ursia)

Kami lalu melihat monumen peringatan dibangun pada beranda Universitas Thammasat, merekam bentuk-bentuk persekusi pada korban dalam gerakan protes, mengingat kembali gestur-gestur kekerasan. Rute berjalan kaki kemudian berlanjut pada situs-situs demonstrasi dalam sejarah gerakan warga untuk demokrasi di Thailand, dari 1976 sampai 2020, dari peristiwa berdarah di Thammasat sampai protes pada rezim yang militeristik.

Sampai akhir tur, kami berkumpul pada Monumen Demokrasi, semacam situs penanda gerakan warga dari masa ke masa. Tur berjalan kaki jadi wahana diseminasi pengetahuan sejarah alternatif, hal ini jadi salah satu refleksi yang kuat dariku, karena praktik semacam ini dilakukan juga oleh Arungkala, kolektif yang jadi ruangku untuk beraktivitas. 

Pada sela-sela lokakarya, saya banyak berbicara secara personal dengan kawan-kawan di Asia Tenggara yang mengerjakan pengarsipan alternatif. Ya, selama beberapa hari ikut lokakarya, saya merasa perlu mencatat bagaimana pengarsipan warga yang tumbuh dalam kawasan Asia Tenggara.

Arsip Warga, Pembangkangan Historis, Merebut Ulang Penulisan Sejarah

Perjumpaan dengan praktik-praktik serupa sangat melegakan, mengetahui kawan di Asia Tenggara memiliki giat produksi pengetahuan alternatif, untuk melawan rezim pengetahuan dominan. Sejarah kelas pekerja, petani, masyarakat adat, dan gerakan kiri yang dihapus—Thai Grassroot Women’s Archive, Philippine Labour Archive Movement, Pusat Sejarah Rakyat, dan berbagai inisiasi arsip warga hingga gerakan sosial di Asia Tenggara.

Untuk menulis ulang sejarah alternatif, maka kita tak cukup hanya memposisikan warga, kelas pekerja, petani, masyarakat adat, hingga perempuan sebagai “topik kajian” semata. Dibutuhkan praktik yang konkret untuk merawat arsip warga, mengelola sistem informasi alternatif, dan mengorganisir produksi pengetahuan berbasis warga.

Ruang arsip dari Thai Grassroot Women’s Archive (dok. Amos Ursia)

Saya belajar banyak dari Thai Grassroot Women’s Archive, sebuah kolektif yang merawat dan meriset arsip-arsip petani perempuan di Thailand. Salah satu praktik pengarsipan jangka panjang mereka adalah mengelola arsip-arsip Pornpet Muensri, seorang petani perempuan yang puluhan tahun melawan pencaplokan lahannya oleh negara. Begitu juga Philippine Labour Archive Movement, dengan praktiknya untuk merawat dan meneliti arsip gerakan buruh di Filipina. 

Selain itu di Thailand ada sebuah museum, namanya Thai Labour Museum. Dengan berbagai arsip, diorama, hingga artefak, museum ini menuturkan sejarah panjang perjuangan buruh di Thailand. Didirikan oleh beberapa serikat buruh, didanai oleh dana dari beberapa serikat buruh juga, museum ini jadi penting dalam kerja perawatan dan produksi pengetahuan sejarah yang langsung diartikulasikan oleh buruh juga serikat buruh di Thailand.

Thai Labour Museum di Bangkok (dok. Amos Ursia)

Ungkapan bahwa “warga perlu menulis sejarahnya sendiri” juga menuntun kita untuk memikirkan kerja-kerja perawatan arsip warga. Toh, warga punya caranya sendiri merawat arsipnya, baik yang berbentuk dokumen atau tuturan lisan. Kita menyadari bahwa warga selalu punya cara merawat ingatannya, punya cara sendiri terhadap pemeliharaan—tentu tidak dengan kaidah konservasi ala lembaga resmi, kaidah pengarsipan ala otoritas. 

Saya jadi ingat, beberapa kali Ita Fatia Nadia, menceritakan kisah tentang pohon pisang. Ibu Ita bercerita, bagaimana tulisan-tulisan para penulis Lekra yang ditahan tanpa pengadilan di pulau Buru, membungkus tulisan-tulisan mereka dengan sebuah kantong plastik dan dikubur pada sebuah lubang di bawah pohon pisang. Taktik menyembunyikan tulisan—sebagai taktik merawat sekaligus menyembunyikan tulisan dari razia sipir di pulau Buru—adalah bagian yang terhubung dengan bagaimana arsip dirawat dan dilindungi dari pemusnahan. 

Maka, menjadi semakin penting untuk terhubung dengan sejarah bersama di Asia Tenggara, terkoneksi dengan kerja perawatan arsip warga, dan kerja produksi pengetahuan sejarah dari pinggir. Untuk kembali menuturkan arsip perjuangan petani perempuan seperti Pornpet Muensri di pedesaan Thailand, untuk kembali membaca kekerasan struktural negara pada gerakan sosial, untuk kembali membaca sejarah serikat pekerja di Filipina hingga Malaysia—untuk tetap membangkang dengan merawat arsip warga, untuk mengobati luka sejarah, untuk merebut masa kini dari kuasa yang tiran.

Catatan: Versi panjang dari esai ini akan dipublikasikan dalam bentuk zine, pantau Instagram @kolektifarungkala untuk mendapatkan zine tersebut.


Editor: Zhafran Naufal Hilmy
Foto sampul:
Amos Ursia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Pelajaran Mencintai Bumi: Kumpulan Puisi Imam Budiman

Related Posts