“Sebagai malam penutup kongres, maka semalam bertempat di Paviliun Chung Hua Ta Chung Sze, Karangturi telah dilangsungkan malam gembira jang antara lain dihadiri pula oleh wakil gupernur Djawa Tengah, resident T/b sdr Sugeng, Bupati Semarang dan para undangan lainnja lagi,” tulis surat kabar Suara Merdeka (6 Juni 1950) perihal penutupan kongres organisasi-organisasi perempuan yang kemudian berfusi menjadi Gerakan Wanita Indonesia Sedar (Gerwis).
Gerwis lalu berganti nama menjadi Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) melalui kongresnya yang ke-II pada 19541. Gerwis atau Gerwani sendiri adalah organisasi perempuan progresif yang aktif selama kurun waktu 1950-an hingga pertengahan 1960-an. Kedekatannya dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) dalam payung “keluarga kiri” membuatnya ikut tersapu dalam gelombang pembersihkan antikomunis oleh militer Indonesia–terutama Angkatan Darat (AD)–pasca Peristiwa Gerakan 30 September (G30S).
Potongan berita di atas (mungkin) adalah satu-satunya informasi yang menerangkan secara cukup spesifik lokasi kelahiran Gerwis. Dalam banyak literatur sejarah mengenai organisasi perempuan ini, disebutkan bahwa Gerwis terbentuk di Semarang pada 4 Juni 1950.2
Percikan informasi itu menjadi pintu masuk penting dalam upaya menjawab pertanyaan atas kegelisahan saya selama ini: Di alamat mana atau bangunan mana Gerwis dibentuk? Sebuah pertanyaan sederhana dengan jawaban yang seharusnya juga tidak rumit seperti menuliskan alamat ketika berkirim surat atau mengirimkan paket. Sayangnya, jawaban itu belum tersedia dalam banyak tulisan yang membahas kemunculan Gerwis.
Berita Suara Merdeka Sebagai Pintu Masuk
Saya telah menelusuri berita di pelbagai surat kabar yang terbit sepanjang bulan Juni 1950.3 Selain Suara Merdeka (6 Juni 1950) yang telah disebutkan di atas, saya juga menjumpai berita terbentuknya Gerwis di surat kabar Antara (9 Juni 1950), Republik (10 Juni 1950), Merdeka (13 Juni 1950), dan Kedaulatan Rakjat (20 Juni 1950). Kelima surat kabar itu tidak ada yang menaruh berita kelahiran Gerwis di Semarang di halaman depan.
Berita dari Republik menukil dari berita Antara yang isinya organisasi-organisasi perempuan yang berfusi menjadi Gerwis dan susunan pemimpinnya; berita Merdeka berfokus pada resolusi kongres; berita Kedaulatan Rakjat menginformasikan terbentuknya cabang Gerwis Jogja setelah pembentukan di Semarang. Hanya Suara Merdeka dengan beritanya yang bertajuk “Gerwis Berdiri di Semarang” yang mengcover banyak informasi terkait kemunculan Gerwis, termasuk lokasinya. Hal ini membuka pintu untuk penelusuran berikutnya yang lebih detail.

Suara Merdeka memiliki alasan kuat mengapa mampu memberitakan dengan informasi yang lebih kaya ketimbang surat kabar lain. Kantor surat kabar itu, berada di satu kota yang sama dengan titik kelahiran Gerwani. Sehingga wartawannya lebih mudah menjangkau langsung ke lokasi acara. Menjadikannya sebagai surat kabar terdepan dan paling awal dalam menurunkan pemberitaan, yakni pada 6 Juni 1950.
Berselang dua hari dari tanggal resmi kelahiran Gerwis atau sehari setelah kongres selesai pada 5 Juni 1950. Bandingan dengan berita dari Antara yang di bagian atas memuat keterangan “Semarang, 6/6 (Antara dg pos)” yang mengindikasikan bahwa ada delay atau keterlambatan karena berita harus dikirim ke Jakarta setelah diliput, dan baru dimuat pada 9 Juni 1950.
Walau memberikan informasi yang melimpah, berita Suara Merdeka memiliki kekurangan tersendiri yang cukup penting. Suara Merdeka tidak menyebutkan nomor gedung atau bangunan yang digunakan. Mereka hanya menuliskan, “bertempat di Paviliun Chung Hua Ta Chung Sze, Karangturi.” Ketiadaan informasi yang lebih spesifik membuat saya harus menggali lebih dalam dengan metode pencarian silang melalui pemanfaatan informasi yang tertinggal, yaitu pemilik bangunan.
Alamat di Karangturi 115
Bangunan yang menjadi bagian saksi bisu kelahiran Gerwis itu adalah milik Chung Hua Ta Chung Sze (CHTCS). CHTCS adalah organisasi atau klub sosial kaum Tionghoa yang tampak tidak memiliki kecenderungan politik.
CHTCS didirikan pada 1946 hasil dari gabungan beberapa klub sosial dan olahraga. Pendiri dan ketua pertamanya adalah Liem Siauw Tjong seorang Peranakan.4 Salah seorang anggotanya yang terkemuka, Oei Lion Thay juga wakil ketua Partai Nasional Indonesia (PNI) cabang Semarang (1948-53) seperti dicatat Leo Suryadinata.5
Berdasarkan sebuah iklan dalam surat kabar De Locomotief (22 Juni 1950)–tanggal yang tidak berjauhan dari terbentuknya Gerwis, lokasi jelas gedung CHTCS ada di Karangturi 115.6 Dalam surat kabar yang sama dengan berbagai macam pemberitaan dan iklan, dari edisi Oktober 1947 hingga September 1950, lokasi tetap konsisten atau tidak berubah.7

CHTCS menempati gedung di Karangturi 115 hingga pertengahan Juli 1951 atau 13 bulan setelah pembentukan Gerwis. Surat kabar Java Bode dan Nieuwsgier pada 14 Juli 1951 menurunkan berita yang serupa.8 Mereka menampilkan dua alamat CHTCS, gedung klubnya di Karangturi 115 dan sekretariatnya di Jalan Mataram 427. Alamat terakhir inilah yang nantinya banyak disebut dan digunakan oleh CHTCS pada tahun-tahun berikutnya.9 Kedua alamat itu saat ini diperkirakan berada di ruas Jalan M.T. Hariyono, Semarang.
Menariknya, jika surat kabar Suara Merdeka menyebut gedung di Karangturi 115 sebagai “paviliun”, surat kabar seperti De Locomotief menyebutnya sebagai “clubgebouw” atau “gedung klub”.10 Situasi ini memantik pertanyaan lebih lanjut tentang bangunan (lainnya) yang ada di alamat Karangturi 115. Butuh penyelidikan lebih lanjut untuk memperoleh jawaban yang lebih terang.
Selain menjadi tempat lahirnya Gerwis, lokasi di Karangturi 115 juga menjadi alamat penerbitan Shih Chien milik CHTCS. Sebuah terbitan bahasa Indonesia dan Tionghoa yang terbit dua kali dalam sebulan.11 Gedung yang sama juga sempat digunakan oleh perkumpulan Khong Kauw Hwee, sebuah kelompok kebatinan yang mempelajari Kong Hu Chu. Keterangan dari website mereka, Khong Kauw Hwee menggunakan gedung CHTCS dari 1946 hingga pertengahan Juli 1948 untuk mengadakan pendalaman ajaran setiap minggunya.
Sebagai tambahan cuilan informasi, sebelum pecah Perang Dunia II atau masa Pendudukan Jepang, alamat di Karangturi 115 pernah muncul dalam sebuah iklan lelang di surat kabar. Diterbitkan pada ujung 1938, iklan itu menginformasikan akan adanya lelang perabotan di rumah Karangturi 115 pada 5 Januari 1939.12 Hal ini paling tidak mengindikasikan bahwa alamat tersebut sudah dijejaki kehidupan.
Pertanyaan-Pertanyaan Tersisa
Untuk sekadar menemukan alamat, potongan-potongan informasi selayaknya permainan puzzle yang berserakan telah disusun. Menjadi jelas bahwa bangunan milik CHTCS di Karangturi 115 telah memiliki andil dalam kemunculan Gerwis. Masalahnya, sebagaimana ditulis oleh Suara Merdeka, lokasi itu berperan “sebagai malam penutup kongres”.
Informasi yang ada tidak menjelaskan apakah organisasi-organisasi perempuan yang berkongres menggunakan gedung CHTCS sebagai pesta penutupan saja atau juga menggunakannya sepanjang kongres dari 3-5 Juni 1950 (versi lain menyebut kongres dimulai dari 4 Juni)? Tidak juga ada informasi apakah organisasi-organisasi perempuan yang berkongres itu meminjam atau menyewa bangunan CHTCS? Bagaimana dan sejauh mana hubungan organisasi-organisasi perempuan yang berkongres dengan CHTCS terbentuk?
Ucapan Terima Kasih
Saya mengucapkan terima kasih kepada Yvonne Sibuea untuk korespondensi dan salinan gambar gedung CHTCS serta izin penggunaannya serta Nouval Murzita untuk bantuan menyalin berita Antara (9 Juni 1950) di Perpustakaan Nasional, Jakarta.
1 Kongresnya yang ke-II pada 1954 di Jakarta memutuskan untuk mengubah nama organisasi agar tidak terkesan elitis dan bisa menjangkau lebih banyak kaum perempuan. Secara khusus dalam Peraturan Dasar Gerwani yang disahkan dalam Kongres ke-IV pada 1961, mereka mengatakan–perihal periode sebelum berganti nama, “Gerwani telah membuang sifatnya jang menyempitkan diri, jang menghinggapi tubuhnja selama 3 tahun, jaitu dari Kongres ke-I tahun 1951 sampai Kongres ke-II tahun 1954.”
2 Buku-buku yang sering dirujuk untuk menerangkan soal Gerwani: Saskia Eleonora Wieringa, Penghancuran Gerakan Perempuan, Politik Seksual di Indonesia Pascakejatuhan PKI, Yogyakarta: Galangpress, 2010, hlm. 214; Hikmah Diniah, Gerwani Bukan PKI: Sebuah Gerakan Feminisme Terbesar di Indonesia, Yogyakarta: CarasvatiBook, 2007, hlm. 88; Donald Hindley, The Communist Party of Indonesia 1951-1963, Barkeley dan Los Angles: University of California Press, 1964, hlm. 203.
3 Karena sumber daya yang terbatas, saya hanya bisa menjangkau surat kabar periode awal 1950-an di Jogja Library Center (JLC) dan yang sudah didigitalisasi oleh Perpustakaan Nasional melalui website Khazanah Pustaka Nusantara (Khastara).
4 Donald Earl Willmott, The Chinese of Semarang: A Changing Minority Community in Indonesia, Ithaca: Cornell University Press, 1960, hlm. 87, 131, dan 157.
5 Leo Suryadinata, Prominent Indonesian Chinese: Biographical Sketches (4th edition), Singapura: ISEAS-Yusof Ishak Institue, 2015, hlm. 193.
6 De Locomotief (22 Juni 1950). Saya memanfaatkan situs Delpher untuk mencari sumber-sumber surat kabar bahasa Belanda. Selanjutnya, karena keterbatasan kemampuan berbahasa Belanda, untuk semua sumber bahasa Belanda saya menggantungkan pada mesin terjemahan dan kecerdasan buatan, Gemini.
7 De Locomotief (3 Oktober 1947; 13, 17 Februari, 1 Mei, 5 Juni, 5, 29 Juli 1948; 11 Februari, 9 Maret, 29 April, 22 Juni, 23 September 1950).
8 Java Bode (14 Juli 1951) dan Nieuwsgier (14 Juli 1951).
9 Lihat misalnya berita dan iklan dari surat kabar De Locomotief (8 Juni, 17 Oktober 1952; 13 Januari 1953) dan Suara Merdeka (8 Juli, 15 September 1952; 5 Januari, 27 Februari, 25 Oktober 1954).
10 Suara Merdeka (6 Juni 1950) dan De Locomotief (11 Februari 1950).
11 Kementerian Penerangan, Daftar Persuratkabaran Jang Diterbitkan di Indonesia, Jakarta: Kementerian Penerangan Bag. Dokumentasi,1953, hlm. 35.
12 Alegemeen Handelsblad (31 Desember 1938).
Editor: Zhafran Naufal Hilmy
Foto sampul: Willy Alfarius
