Pada kepulangan-kepulangan yang tertunda: Kumpulan Puisi Aldi Hermawan

Kumpulan puisi ini: Pada kepulangan-kepulangan yang tertunda, Pada akhirnya kita., dan Senja yang biasa di selatan kota. Ditulis oleh Aldi Hermawan, seorang guru TK yang aktif dalam Kelompok Teater Fiktif bernama Moroseneng
Sebuah toko elektronik sudut perempatan Patung WR Soepratman, Purworejo. (Dok. Aldi Hermawan)

Pada kepulangan-kepulangan yang tertunda

Malam jatuh singkat dipersimpangan dan nama kota.

Kota yang hampir sepenuhnya pensiun semenjak kita lupa mengejanya. Lalu pesta-pesta dirayakan tanpa keroncong, jazz bahkan vodka.

Bangunan-bangunan sisa kolonial yang masih menyimpan amis darah.

Dan desa-desa utara kota yang terbuat dari musim hujan.

Tempat yang tak menjanjikan apa-apa untukmu, untukku untuk kita bahkan sejak nama itu kembali teringat dalam benak.

Pulanglah ingatan lewat surau-surau berkumandang. 

Pada hari yang menua harapan yang melapuk dan berlumut.

Hingga waktu yang akan menghapus airmata kita dengan keheningan doa.

Ingatkah kau, kita pernah mencuri cinta lewat anak-anak sungai lalu menukarnya dengan kelapa serta jagung.

Mengikat kail diujung pagi dan mengantar senja pulang dipersimpangan—tak sepatah kata terucap. 

Hingga hujan yang jatuh menyisakan genangan, berharap bisa menghapus dosa kita.

Air mata yang jatuh tak terbendung menunggu bergantinya musim.

Sesekali menikmati minuman di warung kopi tanpa nama tanpa harga tanpa menu—yang membuat waktu seolah melambat.

Kau dan aku yang berusaha kembali mengingat.

Diujung harapan kita masing-masing.

Pada waktu yang menjelang sampai.

Buku-buku tak lagi terbaca.

Kota-kota mulai menyilaukan mata membuat kita lupa titik temu pertama

Pada akhirnya kita.

Semalam di bawah lampu jalan yang temaram.

Dingin memeluk tubuh kita masing-masing.

Kau dan aku yang tak lagi berjarak.

Di persimpangan batas kota, angin selatan bertemu utara.

Januari yang lambat juga daun daun yang berguguran.

Bulan demi bulan terlewat Desember tiba—babak baru.

Senja yang biasa di selatan kota

Perjalanan 11-13km menuju selatan dengan earphones yang terpasang di telinga. 

Tak ada kantuk yang menyerang selain rasa kesal dan sesekali menangis sepanjang bagelen roads. 

Berharap sore tak melulu berwarna jingga. Biarlah sesekali biru, kuning, merah, hijau atau bahkan apapun warnanya. Ah sudahlah, lagipula siapa peduli.

Sepertinya kita memang selalu tergesa-gesa, mengumpat dan sesekali ribut soal hujan yang tak kunjung rampung dengan meminum kopi tanpa gula atau teh yang seharusnya nasgitel. 

Lebih baik kembali Kita dengar Iris dengan setengah mabuk KTI atau jackpot oleh arak bali. 

Lalu awan-awan gelap datang dari tenggara, pesawat menuju bandara lewat diatas kepala. 

Senja yang biasa tanpa cerita sukap dan alina. 

Penyelaras aksara: Zhafran Naufal Hilmy
Foto sampul: Aldi Hermawan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

KRVBAR: Program Belajar Bareng Sudut Kantin Project

Related Posts