Bertamasya di Kota Tak Kasat Mata: Kumpulan Puisi Cahaya Daffa Fuadzen

Kumpulan puisi ini: Kereta Dewasa, Hutan yang Belajar Menjadi Tua, dan Bertamasya di Kota Tak Kasat Mata. Ditulis oleh Cahaya Daffa Fuadzen, seorang penulis yang sedang menempuh Sastra Indonesia di Universitas Mulawarman dan bagian dari Komunitas TerAksara.


Kereta Dewasa

Beri aku waktu sejenak: 
Apakah ia sebuah kereta remaja?
Haruskah aku memeriksanya kembali?
Aku mengintip dari kedatanganku 
di stasiun yang entah kapan dia akan pubertas.
Wujud setiap gerbong itu seringkali bermekar.
Aku pikir itu jinak, wajahku terus disembur oleh
asap gelap gulita yang tersimpan penuh
sejak ia lahir.
Palang yang berdiri dengan bersilang itu
tidak lagi mempan. Barangkali, ia juga
butuh sarana edukasi tentang seni merawat tubuh kereta.
Aku segera membujuknya untuk pergi menuju
mimpi basah yang tidak hanya sekadar bergerak
sebagai mimpi basi.
Kali ini, Tuhan terlihat cuek.
Apakah Tuhan tidak menyayanginya
seraya tumbuh menjadi kereta dewasa?
Sepertinya ia akan kembali terlelap
hingga sela-sela jalur rel kereta tumbuh bulu.

(Jember, 2023)

Hutan yang Belajar Menjadi Tua

Aku tersesat di hutan penuh pohon lansia dengan
menapakkan kaki di tanah bolong-bolong dosa.
Lalu, mengapa mereka cemas dengan kedatangan api? 
Bukankah Tuhan selalu bersama hutan-hutan
yang berani menentang kobaran api?
Udara semakin terkikis oleh api yang rakus
dan aku hanya bisa diam menyaksikan dari jauh
tubuh hutan semakin ringkih. Sudah saatnya,
mereka dituntut untuk belajar menjadi tua.

(Samarinda, 2023)

Bertamasya di Kota Tak Kasat Mata

Cucu-cucu sedang bermain dengan bayang-bayang
dan aku tidak sengaja tertawa lugu, ikut bergabung
dengan mereka menikmati panorama di atas
gedung-gedung mewah yang sepi tiada interaksi.
Burung-burung berkicau dengan harokat
dan aku ikut bergabung untuk saling berkumandang.
Kota ini adalah tempat leluhur, tempat para bayi pintar
membuat robot dengan menyisipkan alat kelamin.
Kota ini sudah tidak memerlukan kartu tanda pengenal
untuk membayar lunas riwayat hidup kaum proletar.
Bagaimana aku bisa bertahan hidup di pusat kota
yang tidak terdeteksi oleh google maps?
Bagaimana kota kabut ini akan membawa peradaban
yang mengutuk dirinya sebagai kota misteri?
Apakah Tuhan turut serta untuk mengawasinya?
Aku berharap, di masa depan, aku bisa membawa
keluarga besar untuk merantau, menetap,
merayakan lebaran di kota yang tak kasat mata ini. 
Seperti hidup lebih terjamin.

(Samarinda, 2023)


Penyelaras aksara: Arlingga Hari Nugroho
Foto sampul: Akwila Chris Santya Elisandri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts