Mencicipi Hidangan Musik Metal Jawa Kalacakra dalam Single ‘Marana (Megatruh)’

Seperti menyantap makanan tradisional Selat Solo, racikan musik metal-jawa khas Kalacakra dalam single ‘Marana (Megatruh)’ sedap didengarkan.

Siapa sangka, musik tradisional Jawa Tengah yang mengalun lembut dan mendayu akan selaras dengan hentakan musik cadas yang menggebrak? Harmoni yang tampaknya mustahil tersebut mampu dikemas apik oleh band etnik metal asal Kota Bengawan, Kalacakra.

Belum lama ini, band yang digawangi Setya Nugraha alias Tyok (vokal), Daniel Guguk (gitar), Malik Sampurna (gitar), Breffy Abhimata (bass) dan Bonvaya (drum), mengeluarkan single terbarunya yang berjudul Marana (Megatruh).

Menikmati lagu rilisan terbaru Kalacakra seperti halnya menyantap makanan tradisional Selat Solo. Selat merupakan perpaduan daging giling, sayuran, dan kuah kental yang terinspirasi dari hidangan Eropa. Percampuran padu gurihnya daging dan kuah legit yang telah disesuaikan dengan selera lokal, membuat pamor Selat melejit. Bahkan, makanan ini menjadi salah satu menu wajib dalam rangkaian hidangan di Kraton Solo.

Marana (Megatruh) merupakan hasil kepiawaian sang ‘koki’ Kalacakra dalam memadukan aliran musik, membuat lagu ini begitu sedap didengarkan.

Pada detik-detik pertama, pendengar akan disuguhi lantunan rebab, alat musik gesek tradisional Jawa yang menyayat hati. Memasuki bagian selanjutnya, musik semakin intens menghentak ditambah vokal gahar sang penyanyi. Uniknya, terdengar pula suara tabuhan kendang yang mengiringi tempo cepat lagu tersebut.

Belum lagi, lirik sarat makna mengenai salah satu fase dalam kehidupan manusia, yakni kematian. Ada bagian yang cukup berkesan didengarkan di tengah-tengah lagu. Sang vokalis, Tyok, secara deklaratif melantunkan lirik yang ditulisnya sendiri bak merapal mantra. Bagian ini cukup membuat merinding karena kesan seram dan pesan kontemplatif yang disampaikan.

Weruhana sejatining urip, urip ana ing alam donya // Aja sombong aja duraka, yen ora pengin dadi cilaka. Yen sira ora ngerti sampurnaning urip, tangeh lamun sira bisa ngerti sampurnaning pati
(Ketahuilah sejatinya hidup, hidup di dunia, jangan sombong, jangan berbuat dosa, jika tidak ingin celaka. Jika kau tak mengerti kesempurnaan hidup, masih jauh lamunanmu untuk mengerti kesempurnaan kematian)

Sesuai judulnya, lagu ini terinspirasi dari tembang Macapat kuno, Megatruh, yang secara harfiah berarti perpisahan antara roh dan jasad. Penggambaran tersebut tertera jelas lewat lirik di bagian akhir lagu, “Raga wis ora aji, katinggal ruh kang wus suci // Jiwane kamulyan, lelungan ruwet kadonyan” atau “tubuh sudah tak ada nilainya, ditinggal roh yang telah suci. Jiwanya dimuliakan, pergi meninggalkan kacaunya dunia.

Lirik selanjutnya menceritakan tentang jasad yang kemudian dikuburkan. Menariknya, disebutkan pula tradisi budaya Jawa, di mana saat seseorang dimakamkan akan diletakkan kelapa muda atau cengkir di pusaranya. Setelah prosesi pemakaman selesai, kelapa muda tersebut dibelah dan dibuang separuh.

Dalam filosofi Jawa, cengkir merupakan singkatan dari “kenceng ing pikir”, dapat diartikan beban pikiran. Sehingga sesuai falsafah tersebut, cengkir perlu dibelah agar kerabat yang ditinggalkan tak dihantui pikiran atau kesedihan karena kepergian mendiang.

Badan tutup mori, nyawiji ing lebet siti // Sumebaring sekar, paesan cengkir kang sigar
(Tubuh dililit kain kafan, menjadi satu di dalam tanah. Kelopak bunga tersebar berhiaskan cengkir yang terbelah)

Sebagian besar lirik lagu Marana (Megatruh) ditulis oleh Tyok, serta secara khusus oleh Guguk sebagai komposer musik Kalacakra di bagian akhir lagu. Rangkaian kata dalam chorus tersebut adalah manifestasi pengalaman pribadinya saat kehilangan ayah dan kakak pada waktu yang berdekatan.

Kolaborasi Band Kalacakra dengan penyanyi Whawin Lawra (YouTube Seniman Eling Gusti)

Menu Baru Kalacakra

Kalacakra awalnya dikenal dari penampilan mereka di Festival Pager Desa pada tahun 2016. Acara seni yang disponsori Kemendikbud ini dilaksanakan di pelosok Desa Suru Kulon, Eromoko, Wonogiri, Jawa Tengah. Meskipun sengaja memilih lokasi terpencil, event tersebut berhasil menarik animo masyarakat, khususnya para seniman untuk datang menyaksikan.

Dalam festival yang dihadiri puluhan ribu orang ini, Kalacakra jadi sorotan karena kolaborasi mereka dengan Orkes Keroncong Swastika. Kalacakra dan Orkes Keroncong Swastika membawakan lagu sinden kondang, Waldjinah, berjudul Rujak Uleg. Gebrakan harmonisasi musik metal-keroncong yang dibawakan saat itu masih terasa asing namun begitu memikat.

Keduanya lanjut menyajikan duet unik tersebut dari festival ke festival. Termasuk menampilkan lagu berjudul Dongengan karya maestro keroncong Gesang dengan sentuhan musik yang belum pernah terdengar sebelumnya.

Tak surut di situ, Kalacakra kembali berkolaborasi dengan penyanyi tradisional Jawa kenamaan, Whawin Lawra untuk menggarap lagu Lanang Sejati. Di bawah naungan komunitas Seniman Eling Gusti, duet nyentrik tersebut mampu menyedot perhatian penikmat musik tanah air. Bahkan, Lanang Sejati sempat diliput beberapa akun media sosial komunitas metal dan menjadi bahan diskusi kelompok seniman.

Meskipun sudah beberapa kali tampil dalam berbagai event seni, baru kali ini Kalacakra resmi merilis karyanya. Setidaknya, single terbaru ini mampu menghibur penggemar yang selama ini kesulitan mencari sang ‘koki’ untuk memuaskan rasa laparnya. 

Lewat Instagram resminya @kalacakrabandofficial, Kalacakra menuturkan, Marana (Megatruh) merupakan bagian dari total 11 lagu dalam album Babad Macapat. Bayangkan, masih akan ada hidangan-hidangan lain yang sama lezatnya dengan menu terbaru mereka. Ah, rasanya tak sabar ingin segera mencicipi rasa unik hasil olahan Kalacakra lainnya.


Editor: Arlingga Hari Nugroho
Foto sampul: dok. Komunitas @pengenpinterphoto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts