What Does Cherry Taste Like? | Arsip Bau di Cherrypop 2026

Sembari berkeliling di Cherrypop 2026, aku mencari sebanyak mungkin bau dan merekamnya dalam ingatan.

Bagiku, festival musik adalah salah satu momen di mana banyak orang mempertimbangkan atau bahkan mempersiapkan bagaimana ia dibaui. Ya, ini adalah tentang bau, tentang aroma. Bau atau aroma, bagiku adalah hal yang tidak bisa direka ulang. Ia hanya bisa diingat di kepala. 

Tidak seperti bunyi, tidak juga seperti aksi panggung yang bisa rekam dan diputar ulang sesuai festival berakhir. Atau lebam-lebam yang tertinggal di tubuh setelah moshing atau crowd surf. Bau tidak punya padanan di antara ketiganya. 

Di tulisan ini, aku berusaha mencari tahu what does cherry taste like, atau merekam bau yang aku temui di Cherrypop 2026 selama dua hari. Charles Spence dalam tulisannya yang berjudul Musical Scents: On the Surprising Absence of Scented Musical/Auditory Events, Entertainments, and Experiences, menuliskan bahwa musik dan bau adalah dua hal cocok disandingkan. Namun, jarang ada yang mau mencomblangkan mereka, apalagi mengarsipkannya.

Aroma Kategori Pertama: Dari Pintu Depan Menuju Kerumunan

Hari pertama, 22 Agustus 2026, sekitar pukul 14.30 WIB aku berjalan menuju loket masuk. Sebagai warga yang sudah kerap mengunjungi Candi Prambanan, aku sudah tak asing dengan debu yang sedang gila-gilanya di musim kemarau. Debu itulah adalah aroma yang pertama kali aku hirup. Berjalan beberapa meter ke depan, tepatnya di pintu masuk, bau selanjutnya tercium, yakni besi metalik khas pagar festival musik. 

Setelah masuk dan mulai menginjak dalam kerumunan, aku mendatangi temanku satu persatu. Aroma debu dan besi metalik seketika hilang, berganti wangi parfum dan make up. Parfum dan make up menyerbak ke hidung ketika berada di antara ratusan orang. Dua jenis bau tersebut menjadi kategori pertama kala memasuki festival. 

Chilli Stage adalah tujuan pertamaku untuk menikmati penampilan Moctar. Konsep dan dekorasinya amat menyenangkan, seperti berada di dalam koperasi desa yang sedang ramai itu. Di bagian depan sebelum pintu masuk Chilli Stage, terdapat meja yang berisi buah dan sayur. Ketika masuk, rentengan bumbu-bumbuan layaknya warung menjadi latar panggungnya. Aku berharap di sana akan penuh dengan ragam bau, tapi nyatanya tidak. 

Moctar pun tampil. Penonton yang menyaksikan tak sampai berdesakan hingga aku bisa menikmati penampilannya bersama aroma wangi orang-orang di sekitarku. Namun, ketika aku bernafas, ada satu bau yang muncul, yakni bau terpal tenda. Sebab Chilli Stage memang berada di dalam sebuah tenda putih yang dikonsep menyerupai panggung semi indoor. Moctar selesai dengan memuaskan, aku keluar sambil membawa oleh-oleh set list-nya. 

Dari Chilli Stage, aku bergerak menuju panggung di mana Murphy Radio tampil. Murphy Radio tampil di Cherry Stage, salah satu panggung terbesar di Cherrypop 2026. Cherry Stage berada tidak jauh dar Chilli Stage dan pintu masuk. Meski di area lapang yang penuh rumput, entah kenapa aromanya tak begitu tercium waktu itu. 

Di tengah penampilan Murphy Radio, aku memutuskan untuk berjalan ke area food court. Tak seperti festival yang pernah aku kunjungi, area ini berada di luar area menonton. Jika di festival lain, penonton akan menghirup aroma makanan ketika menonton di area belakang, kali ini tidak. Setelah seporsi makanan di tangan, aku mulai berkeliling. 

Sembari berkeliling, aku mencari sebanyak mungkin bau dan merekamnya dalam ingatan. Tidak terasa matahari sudah terbenam, lampu-lampu panggung mulai memancar. Aku memasuki ruang “Skena Sementara, Akhirat Selamanya”. Ruangan ini berada di bagian Barat area venue, tepat di bawah pohon-pohon yang tumbuh mengelilingi kawasan Candi Prambanan. Di sini, aku bisa bernafas dengan cukup lega dan dengan jelas mencium aroma pohon yang membuatku cukup refreshing. 

Mungkin, bau pohon-pohon ini tidak akan tercium jika tempat Cherrypop bukan di Candi Prambanan. Namun tak jadi masalah juga jika tak berniat mencari aroma pohon di tengah-tengah festival. Toh, alasan mendatangi festival adalah untuk mendengar, melihat, bergerak, atau bernyanyi, bukan dengan niatan “mencium”. 

Aroma Kategori Kedua: Di Antara Debu dan Pohon 

Keluar dari ruangan “Skena Sementara, Akhirat Selamanya”, semua panggung berhenti menghidupkan sound-nya, pertanda waktu sedang istirahat. Aku menyempatkan masuk ke dalam area merchandise. Bau di dalam area merchandise cukup familiar olehku dan mungkin juga oleh para pengoleksi cendera mata band lokal. Bau plastik di rilisan fisik, hingga bau yang sangat kukenal: kaos band baru, semuanya ada di sini. Aroma di area merchandise adalah salah satu bau yang sangat aku ingat di kepala sepulang dari Cherrypop, termasuk juga aroma kertas strip photo booth yang kugenggam. 

Malam mulai tiba bersamaan dengan riuh para penonton. Di sinilah waktu di mana aku harus berjalan cepat untuk mengejar penampilan band yang sudah sejak awal masuk dalam watching list. Senyawa, Skandal, The Milo, Dongker, dan FSTVLST. Semuanya tampil dalam waktu berdekatan. 

Dari Cherry Stage menuju Yayapa Stage. Dari Yayapa Stage ke Nanaba Stage dan akhirnya kembali ke Cherry Stage sebagai pemberhentian terakhir. Meski berjalan tergesa-gesa takut tidak kebagian band di setiap stage, aku juga mencoba membaui setiap aroma yang ada di sekeliling. Percampuran antara bau debu dari kaki-kaki yang hilir-mudik, wangi parfum, dan keringat menjadi yang aku ingat. 

Ragam aroma itu aku temui dalam waktu secara sporadis. Namun, semua bau yang kutemui ketika berpindah panggung kesana kemari, bisa aku temui secara bersamaan ketika menyaksikan penampilan Passive Income di Chilli Stage. Bersama dengan suara yang riuh dan ramai penonton moshing, bau debu, wangi parfum, dan udara yang cukup bisa dinikmati berpadu dalam satu waktu. 

Bagaimana Jika Bau Disandingkan dengan Band Idola? 

Never Mind “The” Kick-Jeblogs-Skit adalah penampil pamungkas yang aku nantikan di hari pertama Cherrypop 2026. Meski dengan sisa-sisa tenaga, rambut yang lepek karena debu yang berhamburan, serta bau keringat, aku tetap menonton kumpulan band “The” ini hingga usai. 

Dokumentasi Resmi Cherrypop

Untungnya hidungku masih berfungsi dengan baik dan mencoba merekam bau-bau yang ada. Di sisi lain, tubuhku menjadi lebih banyak bekerja: menyimak lontaran-lontara konyol para personil, menyelamatkan diri dari penonton yang melayang di atas kepala, juga melantangkan lirik demi lirik hingga bait demi bait andalan setiap lagu. Sejenak, sebuah pertanyaan muncul di kepalaku ketika menonton pertunjukan “The”: bagaimana jika sebuah bau, misalnya walang sangit, diidentikkan dengan mereka?  

Pertanyaan itu aku simpan hingga pulang ke rumah dan mencoba mencari-cari referensi apakah pertanyaan itu sekadar imajinasi atau memang begitu kenyataannya. Bertemulah aku dengan Cherles Spence dengan jurnal yang aku cantumkan di awal tulisan ini. 

Cherles Spence menautkan beragam bau atau aroma dengan musik dan mengategorikannya dalam beberapa bagian. Misalnya nada-nada tinggi berpasangan dengan aroma jeruk dan bunga, sementara musik dengan nada rendah identik dengan musik, kopi, dan biskuit. Dari penjelasannya, aku mencoba menerapkannya dengan band-band apa saja yang kusaksikan di Cherrypop 2026. 

Pertama, Skandal. Skandal terasa aroma manis menyerbak layaknya permen karet. Hal itu terlihat dari cara Siddha (vokalis Skandal) melantunkan tiap bait lirik dengan nada naik turun, meski yang dikunyah adalah lirik yang terasa pahit. Kemudian Senyawa, duo eksperimental ini seperti menghadirkan wangi kemenyan atau minyak tradisional, nada-nadanya terdengar bak upacara yang membuat khusyuk.

Dokumentasi Resmi Cherrypop

Juga proyek musik Objek Vital Nasional yang menggabungkan Jenny dan FSTVLST, menjadi bau walang sangit itu sendiri. Hadir dengan intro nyaring yang sudah dihapal banyak orang, bahkan sebelum lirik pertama dilantunkan.  

Pada akhirnya, indra penciuman adalah suatu yang tergandeng ke festival musik, ia tidak pernah jadi yang utama. Namun begitulah, arsip bau di Cherrypop 2026.


Editor: Zhafran Naufal Hilmy
Foto Sampul: Dokumentasi Resmi Cherrypop

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Memilih Tanpa Rencana di Cherrypop 2026 dan Jatuh Hati pada Band Bantul: Bleeedrz

Related Posts