Catatan Lepas Setelah Membaca Na Willa

Dalam novel ‘Na Willa’, kacamata kepolosan seorang anak justru menggelitik kita tentang kehadiran persoalan-persoalan kompleks yang sebetulnya tidak jauh-jauh amat dari kehidupan anak-anak.

Na Willa adalah novel anak yang ditulis oleh Reda Gaudiamo. Pada tahun 2018, novel ini diterbitkan oleh POST Bookpress, dengan ilustrasi dari Cecilia Hidayat. Novel ini juga telah memiliki sekuelnya, Na Willa dan Rumah dalam Gang.

Berlatar kota Surabaya pada tahun 60/70-an, Na Willa berisi tentang cerita-cerita pendek keseharian seorang gadis kecil bernama Na Willa (atau biasa dipanggil Willa) dengan keluarga, teman-teman, dan gurunya. Ia memiliki Pak dan Mak, serta seorang Mbok yang menjaga dia saat Pak dan Mak tak ada di rumah. Pak, seorang pelaut yang cukup jarang ada di rumah. Kulitnya putih, matanya sipit, badannya tinggi, dan rambutnya lurus juga kaku. 

Mak seorang ibu rumah tangga. Ia tidak bermata sipit, kulitnya coklat, rambutnya berombak dan berbelok-belok. Willa seperti Pak. Kulitnya putih, rambutnya lurus dan kaku, dan matanya selalu hilang saat Willa tertawa. Rumah Willa ada di tengah-tengah gang. Temboknya dicat putih, pintunya warna hijau tua, dan di depannya ada pohon cemara yang selalu diambil batang terkecilnya oleh Mak saat hari Natal sudah dekat.

Saat membicarakan dunia anak dan cerita anak, kita sering membayangkan dunia yang terpisah dari dunia orang dewasa. Ada cerita yang disunting dari hal-hal yang dianggap tidak patut. Ada cerita tentang hidup indah dan bahagia selamanya, yang penuh pesan moral untuk “menyiapkan” anak-anak sebelum mereka menjadi dewasa (Shiraishi, 2002:195-196). Gagasan tentang anak-anak dan dunia anak yang indah, tapi terpisah dan dipisahkan dari dunia dewasa sering menjadi bingkai dalam banyak penulisan cerita anak. 

Premis dasar inilah yang dibalik dalam Na Willa. Melalui kacamata kepolosan seorang anak, novel ini justru menggelitik kita mengenai kehadiran persoalan-persoalan kompleks yang sebetulnya tidak jauh-jauh amat dari kehidupan anak-anak, yang biasanya selalu enggan kita bicarakan saat berhadapan di dalam dunia anak, padahal justru sebetulnya malah perlu dibicarakan. Dalam catatan ini, sedikitnya ada dua hal yang saya beri garis terang setelah membaca Na Willa: pengalaman ras dan identitas anak, serta agensi anak untuk memahami dunia yang rumit dan penuh dengan masalah yang tidak terselesaikan.

Rasisme dan di-Ras-kan

Dalam satu babnya Willa menuturkan cerita tentang salah seorang anak tetangganya, Warno, yang kerap menyerukan kepada Willa, “Asu Cino!” Satu bagian kecil ini mengeksplorasi begitu banyak emosi dan pengalaman Willa yang sedang di-ras-kan sebagai Cina melalui ejekan “Asu Cino” yang diungkapkan Warno. Dalam dunia kecil Willa, “Cina” ia pahami sebagai sebuah ejekan alih-alih identitas.

Dia bilang, “Willa, memukul orang yang cacat itu perbuatan yang sangat salah! Sampai kapan pun kamu tidak boleh menyakiti orang yang cacat!”
“Tapi dia bilang aku Cino!”
Mak berteriak, “Kamu memang Cino! Bapakmu Cino!”

(hlm. 20)

Kebingungan Willa atas kompleksitas ambivalensi identitas sebagai seorang keturunan Cina dan Jawa diungkapkan pula dalam kesempatan lain, ketika ia sedang bermain boneka dengan Farida, tetangganya. Willa menamai bonekanya Melly, yang ditertawakan Farida karena nama tersebut terdengar “Seperti Cino”. Menurut Farida, Willa bukan Cina karena ia tidak sipit. Meski bapak Willa adalah Cina, ibu Willa bukan. Karena itu, Willa bukan Cina. Farida kemudian membuatkan bubur merah putih, untuk merayakan boneka Willa bernama “Melly” yang sudah berganti nama menjadi “Atik”.

Dia melihat aku lalu sambil menunjuk mukaku dia bilang, “Kamu bukan Cino! Kamu ireng. Matamu tidak sipit, tidak begini….” lalu dia menarik lagi ujung matanya.
Dan dia tertawa lagi. Aku tertawa juga.
“Tapi, bapakku Cino!” kataku lagi.
“Mak-mu bukan Cino,” kata Ida. “Jadi kamu bukan Cino.”

Melly kami temukan di pelukan Gorila. Kami lalu lari ke halaman. Main masak-masakan. Ida bilang, mau bikin bubur merah putih, selametan ganti nama.

Hari itu Melly jadi Atik.
Karena aku bukan Cino, jadi anakku juga bukan.

(hlm. 29)

Kedua kejadian tersebut cukup menggelitik. Setidaknya, Willa yang masih belum duduk di bangku sekolah dasar tentu belum memahami sepenuhnya mengenai bagian identitasnya sebagai Cina yang selalu diposisikan “di tengah”. Ia barangkali juga belum benar-benar memahami betul apa itu rasisme. Tapi pengalaman-pengalaman Willa menunjukkan bagaimana Cina diliyankan, yang tidak jarang juga didiskriminasi secara rasial.

Bubur merah putih yang dibuatkan Farida untuk Willa secara simbolis “merayakan ke-Indonesia-an” Willa yang sudah “mengganti nama bonekanya dari Melly menjadi Atik”. Hal ini mau tidak mau mengingatkan kita dalam salah satu babak kebijakan pada masa Orde Baru, ketika masyarakat keturunan Cina di Indonesia dilarang merayakan Imlek dan dituntut untuk mengganti namanya masing-masing menjadi “nama Indonesia” untuk menunjukkan bahwa mereka sudah menjadi orang Indonesia.

Barangkali, paradoks membingungkan yang muncul atas “penolakan” Willa untuk menjadi Cina adalah, “Bukankah Willa tetap seorang Cina meski ia enggan disebut Cina? Lantas apakah identitas ke-Cina-annya akan menjadikan ia menjadi ‘kurang Indonesia’ dibandingkan kawan-kawannya?”

Tentu saja pertanyaan-pertanyaan ini tidak untuk dijawab dalam novel ini, dan memang tidak perlu. Tetapi, fenomena mencari identitas yang demikian rumit rupanya bisa ditampilkan secara sederhana namun mengena dalam novel anak, melalui penuturan polos Willa, seorang gadis kecil yang bahkan belum menginjak bangku sekolah.

Dunia Dewasa dan Dunia Anak: Seterpisah Apa?

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, diskursus mengenai masa kanak-kanak kerap dibicarakan dalam bingkai bahwa anak-anak adalah tabula rasa. Kepolosan mereka perlu dilindungi dari dunia dewasa yang korup. Tetapi, batas antara “anak-anak” dan “dewasa” terasa kabur dan malah menjadi sebuah pertanyaan dalam novel Na Willa, seperti dalam cerita Mbak Tin, kakak Dul dan Farida, yang dinikahkan kala ia masih remaja.

Dari jauh aku lihat Mbak Tin dengan bajunya yang berkelap-kelip. Pipinya merah. Bibirnya merah. Matanya merah juga. Di sebelahnya berdiri seorang laki-laki. Tinggi besar. Berkumis. Berjenggot. Perutnya gendut. Gigi depannya berwarna emas, kelihatan jelas dari jauh setiap kali dia tersenyum lebar. Dan ia tersenyum terus-menerus. Mbak Tin tidak tersenyum sama sekali. 

(hlm. 73)

Jika banyak cerita anak menghadirkan premis “hidup bahagia selamanya”, novel ini hendak memberi perspektif lain kepada Willa, bahwa hidup tidak selalu indah dan bahagia. Ketidakindahan dan ketidakbahagiaan tentang “dunia dewasa” yang barangkali belum sepenuhnya Willa pahami, tetap ada dan terjadi dalam dunia Willa sebagai anak-anak. Potret pernikahan anak dalam cuplikan tersebut memang tidak memberikan jawaban final ataupun solusi terhadap permasalahan tersebut. Jangankan Willa, bahkan orang-orang dewasa di sekitarnya tidak bisa begitu saja memiliki kekuasaan untuk membuat perubahan atas permasalahan sosial ini. 

Dalam hal ini, sebagian malah menjadi agen yang mempraktikkan pernikahan, seperti orang tua dan suami Mbak Tin.

Namun, yang patut digarisbawahi bahwa Willa bertanya-tanya kenapa Mbak Tin harus menangis “di hari bahagianya”, ketika ia mengenakan gaun cantik dan tampak cantik hari itu? Jawaban dari Mak yang cukup untuk rasa ingin tahu Willa, bahwa hidup tidak selalu bahagia. Menikah tidak hanya soal memakai baju cantik, dan Willa boleh menikah kalau ia sudah lebih besar, tumbuh lebih tinggi daripada Mak dan Pak.

Ketika membicarakan anak-anak sebagai “warga”, mereka sering diposisikan sebagai pihak yang lebih inferior. Mereka belum sepenuhnya menjadi manusia dewasa, belum perlu menjalankan kewajiban-kewajiban sebagaimana orang dewasa lakukan (Cockburn, 2013:1). Hal-hal ini yang membuat orang dewasa memegang otoritas yang lebih dalam kehidupan anak-anak. 

Tidak jarang, seringkali otoritas ini mengesampingkan fakta bahwa anak-anak adalah manusia juga memiliki kesadaran, yang memiliki agensi, yang meski dunianya masih kecil dan pengetahuannya masih terbatas, mereka memahami dan menyerap hal-hal yang terjadi di sekitar mereka.

Dalam wawancaranya dengan Tirto.id, Reda menyampaikan bahwa cerita anak juga tidak harus berisi pesan moral. Melalui cerita yang ia angkat berdasarkan pengalaman masa kecilnya, ia hendak memberikan narasi bahwa anak-anak juga manusia yang bisa merasakan kesedihan.

Meski dalam wawancara tersebut Reda menyampaikan bahwa pada awalnya Na Willa tidak dimaksudkan sebagai cerita anak, pada akhirnya novel ini berhasil menceritakan dinamisnya kehidupan seorang anak, serta kegembiraan-kegembiraan dan rasa ingin tahu anak melalui kacamata anak sebagai seorang subjek yang memiliki agensi.


Referensi
Cockburn, Tom. 2013. Rethinking Children’s Citizenship. Hampshire: Palgrave Macmillan.
Gaudiamo, Reda. 2018. Na Willa. Jakarta: POST Bookpress.
Shiraishi, Saya Sasaki. 2002. Pahlawan-Pahlawan Belia: Keluarga Indonesia dalam Politik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Editor: Agustinus Rangga Respati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts