Album 2020: Gejolak Semangat White Shoes & The Couples Company

Jika tahun 2020 dimulai dengan situasi tak terduga dan menyerang berbagai aspek kehidupan, White Shoes & The Couples Company mencoba menutup tahun tersebut dengan semangat dan harapan yang dikemas apik pada album 2020 ini.


Ibu mengirimkan pesan yang masuk ke gawai saya tanggal 1 Februari 2021. Ia mengatakan, ada paket yang sampai di rumah. Setelah melihat fotonya, saya tahu paket itu adalah album White Shoes & The Couples Company, 2020

Sontak saya girang bukan main, rasanya tidak sabar ingin segera pulang ke Jakarta. Sayangnya, waktu itu saya masih menyelesaikan urusan kuliah di Yogyakarta. Akhirnya, hasrat untuk bisa memegang rilisan fisik ini baru terwujud tanggal 9 Februari 2021 kemarin.

Pendaftaran untuk memesan album fisik ini memang sudah dibuka akhir tahun lalu. Saat tahu, saya langsung memesan album ini tanpa tedeng aling-aling. Sebenarnya sejak pertengahan 2020, White Shoes & the Couples Company acap kali menampilkan proses latihan atau bocoran tentang lagu-lagu barunya lewat fitur snapgram. Benar saja, 18 Mei 2020 lalu muncul cuplikan pembuatan album baru pada kanal Youtube mereka. 

Jika tahun 2020 dimulai dengan situasi tak terduga dan menyerang berbagai aspek kehidupan, White Shoes & The Couples Company mencoba menutup tahun tersebut dengan semangat dan harapan yang dikemas apik pada album 2020 ini. Butuh waktu kurang lebih sepuluh tahun bagi pendengar White Shoes & The Couples Company untuk mendengar lagu baru setelah album Vakansi mengudara 2010 silam. 

Band yang digawangi Aprilia Apsari, Saleh Husein, Yusmario Farabi, John Navid, Aprimela Prawidyanti, dan Ricky Surya Virgana ini berhasil membuat pendengar setianya menunggu dengan antusiasme yang tinggi. 

Irama Cita jadi perkenalan bagi album ini. Sebab di antara total sebelas lagu, Irama Cita yang perdana diputar pada tanggal 6 November 2020 di radio-radio kesayangan para pendengar. Single ini dirilis pula dengan format piringan hitam. 

Bagi saya, 2020 tergolong unik karena di dalam album ini, diselipkan cerita-cerita pada setiap lagu dan foto atau ilustrasi yang memanjakan mata. Hal ini juga semakin selaras dengan foto sampul album yang bertemakan industri film. Lalu, di dalamnya terdapat pula dua Compact Disc (CD) dengan sisi B yang berisi beberapa kompilasi lagu. 

Album 2020 dibuka dengan lagu Rumah. Suara Nona Sari yang khas dengan iringan musik gitar dan selo berhasil memberikan esensi rumah dengan segala macam hiruk-pikuk dan peran tiap anggota keluarga yang membuat suasana di dalamnya menjadi nyaman. Seperti yang dilantunkan Nona Sari,

“Hangat dan nyamannya, rumah mungilku. Oh senangnya hati tinggal di situ. Wujudnya tak rapi dan berantakan. Dekorasinya pun cukup lumayan”.

Kemudian, suara meracau anak-anak yang menyebut “Spiderman. . .” pada pertengahan durasi membuat hati pendengar kian tentram.

Lagu kedua adalah Irama Cita yang penuh semangat dengan gebukan drum bertemakan disko. Permainan bas yang seksi dari Ricky Surya Virgana pada awal lagu seakan menarik hati para pendengar untuk bergoyang tipis sembari melepas penat yang ada di setiap punggung para pendengar. 

Tinggalkan duka, ikuti irama” memiliki makna konotatif untuk menghibur diri dengan mendengarkan lagu ini dan hal itu didukung pada kalimat selanjutnya yakni, “jangan tenggelam dan membiru” karena kata tenggelam menurut KBBI daring (2021) artinya ‘masuk terbenam ke dalam air’, ‘karam (tentang perahu, kapal)’, terbenam (tentang matahari)’, ‘jatuh ke dalam kesengsaraan (kesusahan dan sebagainya)’, hilang’, dan ‘asyik’. 

Kata selanjutnya, membiru berarti ‘menjadi berwarna biru’. Kata membiru biasa dipakai juga untuk seseorang yang terbentur sehingga meninggalkan lebam. Dari dua kata tersebut muncul makna konotatif jangan sampai kita merasakan sakit atau sedih yang terlalu dalam. Maka dari itu, kalimat “tinggalkan duka, ikuti irama” menjadi negasi kata tenggelam dan membiru.

Lagu ketiga adalah Folklor. Repetisi akan lirik,

Beratnya beban tidak dirasa, setiap saat riuh bekerja, terus berputar bagaikan roda, jeda tersimpan ‘tuk sementara. Beratnya beban tidak dirasa, setiap saat fajar menyala, terus berputar bagaikan roda, jeda tersimpan di dalam dada”.

Rasa-rasanya lagu ini layak didedikasikan kepada kalian para pekerja yang tak kenal lelah demi segenggam emas dan berlian.

Hidup hanya Sekali sebenarnya sudah melanglang buana di telinga saya sekitar tahun 2017 atau 2018. Track ini menjadi salah satu lagu dalam pementasan teater Perempuan-perempuan Chairil dengan Reza Rahadian sebagai Chairil Anwar. White Shoes & The Couples Company juga membuat video klipnya. Yang menakjubkan dari lagu ini, di samping menggunakan beberapa puisi Chairil Anwar sebagai materi lagu, nuansa Melayu terasa betul seperti era-era ketika Chairil masih hidup. 

Menilik sejarah sedikit, Chairil Anwar lahir di Medan tanggal 26 Juli 1922 dan meninggal tanggal 28 April 1949. Budaya Melayu pada tahun tersebut memang kental dan White Shoes & The Couples Company sukses menuntun para pendengarnya untuk bisa melihat kehidupan Chairil, apalagi pergumulan hidupnya di Batavia yang tercermin melalui Hidup hanya Sekali

Berikutnya, Sam dan Mul akan membuat siapa saja terngiang akan ucapan, “Senyumanmu, wahana bagiku.” Entahlah, terasa ada sebuah makna yang begitu intim dari kalimat tersebut. Terlebih ketika diselipkan tawa kecil dan hela nafas dari Nona Sari setelah melantunkan lirik “Roman membekas menatap nakal, tak kunjung pergi”.

Portrait of S.A.S hadir sebagai lagu instrumental yang memiliki ciri khas dengan adanya monolog dari seorang bapak-bapak seperti pada film Indonesia di masa lampau.

Pada Variasi Barongko, terpikir barongko adalah nama suatu daerah, benda, atau peristiwa. Ternyata, setelah ditelusuri, barongko adalah makanan khas Makassar. Benar saja, lirik Variasi Barongko tidak lain mencakup bahan-bahan dan proses membuatnya secara garis besar. Cukup menarik juga lagu ini karena pada awal lagu, pendengar disuguhkan bebunyian seperti permainan gamelan, tentu saja ini bermakna implisit untuk menumbuhkan rasa penasaran akan barongko bagi mereka yang belum tahu rasanya..

Hey Waktu! Kau Kalah!! hadir pada urutan delapan. Atensi khusus perlu diberikan pada lagu dengan durasi 02.20” ini dengan adanya suara gendang pada lagu bertempo cepat. Jujur, alat musik gendang biasanya selalu muncul di acara dangdut dan memang peran gendang dalam acara dangdut menjadi penting karena suaranya menjadi penentu kapan penonton harus berjoget lepas. 

Permainan gendang dalam Hey Waktu! Kau Kalah! justru menjadi warna baru atau referensi yang mestinya bisa dieksplorasi bagi siapa saja yang bergelut di bidang musik. Sebab suara gendang semakin menyemarakkan nuansa progresif pada lagu ini.

Lagu kesembilan adalah Oktober. Lagu ini memiliki daya tarik pada suara yang dihasilkan dari organ. Entahlah, ada kecurigaan terhadap organ yang dipakai. Barangkali organ yang digunakan adalah Rhodes atau Vox Continental, karena saat pertama kali terdengar, sulit untuk tidak mengasosiakannya dengan The Doors.

Ray Manzarek, kibordis The Doors sering menggunakan kedua organ tersebut. Jika kalian mendengar lantunan organ pada lagu The Doors – Riders on the Storm, warna suara yang dihasilkan sama persis dengan Oktober. Suaranya menimbulkan kesan tersendiri. Apalagi permainan organ tersebut hanya diiringi oleh gebukan bas drum.

Lagu ini berhasil menciptakan imajinasi suasana ketika kau pulang kerja malam hari dengan sepeda motor kemudian beristirahat di warung sambil memesan kopi hangat. Istirahat sembari mendinginkan kepala serta mesin motormu. Pun, matamu itu kosong. Benar-benar kosong, tapi di balik kekosongan tersebut, sebenarnya kau sedang melakukan ragam aktivitas, entah memikirkan esok hari atau selayang pandang tentang penyesalan di masa lalu.

Yang jelas, dari riuhnya pikiran yang bergumul jadi satu, sebenarnya tendensi utamamu yakni mengisi daya bagi badanmu untuk melanjutkan perjalanan. Oktober menjadi lagu yang sangat apik ketika menjadi latar untuk situasi tersebut.

Lagu kesepuluh adalah Semalam. Nomor ini membawakan nuansa yang santai, dan sarat ajakan untuk lebih mensyukuri hidup yang dimiliki. Mengapa? Ada dua kalimat yang mewakili esensi lagu ini. Pertama, “Hiruplah sedetik dan hempaskan lega.”. Kedua, “Ringan hati adalah kemewahan.” 

Penutup dari 2020 adalah Halaman Ekstra. Lagu ini mungkin bisa jadi rangkuman sempurna dari album 2020. Nuansa intim perihal ikatan dengan orang lain, bisa keluarga, teman seperjuangan masa sekolah, dan rekan sejawat diwakilkan dengan sangat halus melalui penyusunan lirik dan aransemen lagu yang menyayat hati. Lagu ini memiliki gambaran layaknya perjalanan hidup yang pasti akan dirindukan dan selalu mengharapkan adanya mesin waktu agar bisa menilik masa-masa itu kembali. 

Sungguh, di setiap kegiatan atau situasi yang sedang kujalani, aku selalu berkelakar pada lirik,

“Derap-derap langkah, yang beramai dengan tujuan hati nan serupa, berpacu dengan penuh ambisi, hasrat merona merangkai halaman ekstra”.

Sampai-sampai, kelakarku akan kata “derap-derap” ini menular kepada beberapa kawan. Panjang umur segala hal baik untuk White Shoes & The Couples Company.

 

Editor: Agustinus Rangga Respati

Foto: Bramantyo Yamasatrio Kumoro

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts