Kumpulan puisi ini: Revisi Hidup, Ah Sudahlah!, dan Bersitabik. Ditulis oleh Rifqi Septian Dewantara, pegiat sastra asal Balikpapan, Kalimantan Timur.
Revisi Hidup
(dari aku; kepada aku di masa lalu dan surat untuk aku di masa mendatang)
Akhir-akhir ini aku merasa selalu terbangun dengan sebuah kesalahan, selalu ada tumpukan tugas-tugas hidup yang menumpuk di kepala, membebaninya. Jika kutahu bahwa pengelanaan masih saja belum menemukan juntrungannya. Kepada hari pun sudah kutikam kepala dan pikiranku sendiri. Barangkali, aku adalah jiwa yang terbelenggu — dalam ketidakpastian — aku berserakan. Aku hanya ingin merenung dengan mereka yang berkalung derita di setiap pendakian kebenaran. Layaknya mendaki kebahagiaan; kan kulintasi arah yang gamblang. Hingga kutemukan diriku sendiri sebagai manusia yang utuh kembali.
2025
Ah Sudahlah!
Aku adalah api
Kau terlanjur air
Aku sebongkah tanah
Kau haluan angin
Aku mendiam batu
Kau ah sudahlah!
2025
Bersitabik
“Sekian lama kau berkurung di dalam kamar. Tidakkah kau bertanya kepada dunia sekarang? perihal gempar atau damainya di sekitarmu?”
“Tidak, aku ada keperluan. Bukankah keperluan bisa saja tanpa melibatkan mahluk-mahluk lain?”
Tentu saja tidak, keperluan pasti akan mengontakkan kepada siapa kau bercengkerama. Bukan hanya lewat mata, pendengaran, dan mulut tapi juga melalui batinmu.”
“Ah, kalau begitu aku balik saja lagi”
“Tunggu! sebelum kau kembali, apa yang kau lakukan?”
“Bercengkerama”
“Kepada siapa?”
“Kepada percakapan-percakapanku yang dulu.”
2025
Penyelaras aksara: Arlingga Hari Nugroho
Foto sampul: Bima Chrisanto
