Adakah Sastra dalam Covid-19?

Photo: Suzy Hazelwood (Flickr)
Pertengahan abad ke-14, dunia atau terlebih khusus benua Eropa dihantam oleh sebuah gejala penyakit menular dengan ciri-ciri kulit penderita menghitam akibat pendarahan subdermal, atau disebut Maut Hitam.

Dijelaskan Wikipedia bahwa “Maut Hitam adalah suatu serangan wabah Bubonik yang disebabkan bakteri Yersenia Pestis dan disebarkan oleh lalat dengan bantuan hewan seperti tikus rumah (Rattus rattus)”. Namun penelitian yang menyebutkan bahwa hewan seperti lalat dan tikus penyebab dari munculnya wabah tersebut masih terbilang tentatif.

Beberapa penelitian bahkan menyebutkan bahwa pemicu utama dari wabah ini adalah kutu manusia dan kutu tubuh. Dikutip dilaman Kompas, 18/01/2018, penelitian yang dilakukan oleh para peneliti Oslo mendapat hasil bahwa penyebaran penyakit ini disebabkan oleh kutu manusia dan kutu tubuh.

Dari sumber yang ditemukan, terdapat beberapa teori yang menjelaskan bahwa Maut Hitam berasal dari dataran Stepa di Asia Tengah, lalu menyebar ke Eropa melalui perdagangan oleh pedagang dan tentara Mongol. Kemudian wabah ini menyebar di Asia dan merebak di Provinsi Hubei, Cina. Sedangkan di Eropa, wabah ini muncul pertama kalinya di Kota Caffa yang berada di Krimea pada tahun 1347.

Kemunculan wabah tersebut membuat dampak yang besar bagi kehidupan manusia di masa pertengahan dan akhir abad ke-14. Dampak utama adalah angka kematian yang terbilang banyak, diperkirakan 200 juta orang meninggal dunia dalam wabah tersebut.

Dampak yang lain adalah penganiayaan terhadap orang-orang Yahudi. Penganiayaan tersebut dilakukan oleh orang-orang Eropa yang pada saat itu di Eropa sendiri fanatisme dan semangat religi tengah berkembang. Masyarakat Eropa lalu mengubah sudut pandang kepada astrologi, gempa bumi, dan sumur yang telah dicemari oleh orang-orang Yahudi. Dengan alasan itu lah yang kemudian dipakai sebagai penyebab wabah itu muncul. Dampak yang terjadi selain itu adalah hilangnya norma dan sosialisasi masarakat.

Pandemi Maut Hitam pada pertengahan dan akhir abad ke-14 membuat dunia berubah. Umat manusia seakan-akan telah diberikan kewajiban menaiki “Stairway to Black Death”. Ditambah pula jangkauan penelitian para dokter yang kala itu belum mencakupi.

Mesin-mesin canggih yang menghasilkan obat-obatan secara ekspres pun belum ditemukan. Masyarakat yang berada ditengah-tengah wabah terpaksa lari dari daerah yang terjangkit wabah. Keberadaan yang mencekam, kematian, ketakutan yang dirasakan oleh masyarakat ketika itu, lalu kemudian menjadi sebuah bingkai cerita dalam “The Decameron” yang ditulis Giovanni Boccaccio, seorang penulis dari Italia. Pengalaman perasaan itu lah yang mengilhaminya untuk menulis kisah tragis yang dilalui oleh masyarakat Florence, tempat kelahirannya.

Pada abad ke-21, 20 Januari 2020, otoritas kesehatan di Wuhan menyebutkan setidaknya tiga orang dinyatakan tewas setelah menderita pneumonia yang disebabkan oleh Corona Virus Disease 2019 atau disingkat Covid-19. Virus ini terbilang sangat berbahaya. Pasalnya, data kematian terupdate saat ini mencapai 1,7 juta kasus, 108.862 dinyatakan meninggal dunia dan 404.236 berhasil sembuh, dikutip dari tirto.id, (12/04/2020).

Peristiwa ini juga menjadi pandemi di seluruh dunia. Bahkan beberapa negara mengeluarkan suaranya dengan wacana lockdown dan memberhentikan segala aktivitas di luar rumah untuk menghindari pandemi Covid-19. Dari beberapa negara, selain dari negara munculnya Covid, data yang diterima dari tingkat kasus dan kematian akibat Covid-19 adalah Italia, dengan kematian 19.468.

Tentunya, wabah yang sekarang menjadi fobia masyarakat dunia atau mungkin secara kasar paranoid mengingat penyebarannya dari manusia ke manusia lainnya. Kemudian muncul pertanyaan, apakah ketika seluruh dunia telah mewacanakan akan terjadinya lockdown dampak-dampak seperti wabah Maut Hitam abad ke-14 akan terjadi di masa ini? Dimana faktanya bahwa kasus virus semakin bertambah dengan jumlah kematian dari angka kesembuhan yang terbilang tidak horizontal. Dan mengingat fakta berikutnya bahwa obat penangkal virus ini belum ditemukan.

Maut Hitam membuat kebudayaan Eropa bahkan dunia berubah. Kesusastraan pasca Wabah Hitam pun membawa dampak yang positif pada sumber sejarah yang terbilang sangat minim. Sastra berperan aktif menyumbang sebagian narasi fakta tentang Wabah Hitam atau Black Death.

Giovanni Boccaccio mungkin salah satu dari beberapa penulis yang sebagian ceritanya dijadikan sumber sejarah. Giovanni menceritakan bahwa di Italia selama Black Death, sekelompok tujuh wanita muda dan tiga pria muda melarikan diri dari Florence yang dilanda wabah ke sebuah vila sepi di pedesaan Fiesole selama dua minggu.

Untuk melewati malam hari, setiap anggota partai menceritakan sebuah kisah setiap malam, kecuali satu hari per minggu untuk tugas-tugas, dan hari-hari suci di mana mereka tidak bekerja sama sekali, menghasilkan sepuluh malam bercerita selama dua minggu . Jadi, pada akhir dua minggu mereka telah menceritakan 100 kisah. Kumpulan novel itu menceritakan kisah cinta yang erotis bahkan tragis dengan dibalut komedi. Novel itu pun dianggap sebagai mahakarya prosa klasik Italia awal.

Guru, sahabat, sekaligus korespenden Boccaccio, yaitu Petrarca atau disebut “Bapak Humanisme” juga menghasilkan karya terkait Black Death, Geoffrey Chaucher melahirkan karya The Canterbury Tales, dan William Langland menulis Piers Plowman. Lahirnya karya-karya yang lain seperti La Dance Macabre (tarian maut) adalah alegori kontemporer, dengan tema universalitas kematian: tidak peduli dengan kedudukan seseorang dalam kehidupan, Dance Macabre menyatukan semuanya.

Dance Macabre juga mengingatkan orang-orang tentang kerapuhan hidup mereka dan betapa sia-sianya kemuliaan hidup duniawi. Thomas Nashe juga menulis soneta tentang wabah Maut Hitam dengan judul “A Litany in Time of Plauge” yang merupakan bagian wasiat-wasiat terakhir Summers (1549).

 

“Perpisahan, selamat tinggal bumi,

Ketidakpastian dunia ini adalah,

Suka adalah sukacita penuh nafsu,

Kematian membuktikan semuanya kecuali mainan,

Tak satupun dari anakpanahnya yang bisa terbang;

Saya sakit, saya harus mewarnai;

Tuhan kasihanilah kami.

(A Litany di saat Wabah oleh Thomas Nash)

 

Adapun perubahan juga terjadi pada cerita rakyat Eropa. Wabah Maut Hitam di Eropa dipersonifikasikan seperti seorang wanita tua yang bengkok tertutup dan berkerudung hitam sambil membawa sapu dan penggaruk. Dan masih banyak lagi yang belum terungkap dari kesusasteraan yang meliputi Wabah Hitam atau Black Death.

Pasca Wabah Hitam, kesusasteraan Eropa pada akhir abad ke-14 menghasilkan karya-karya yang luar biasa. Di balik wabah mematikan yang selalu mengintai masyarakat, pengetahuan dan sejarah kelam lahir dalam kesusasteraan.

Mengingat karya sastra pada abad ini tergolong umum beraliran romantisme hype of tech seiring perkembangan dunia, bahkan bisa disebutkan bahwa karya sastra abad ini mulai memudar. Padahal, beberapa penulis lahir dari sebuah pengalaman atau kesaksian pahit dari sebuah peristiwa yang terjadi secara global.

Dibandingkan dengan peristiwa, jika kita kembali pada saat ini, apakah peran sastra masih berlaku? Atau kah pelaku terciptanya kesusasteraan telah “mati” dalam fase sterilisasi wabah Covid-19?

Giovanni Boccaccio dan kawan-kawan lainnya telah menjadi perintis lahirnya kesusasteraan Pasca Black Death yang kemudian diekspresikan dalam bentuk tarian maut ‘La Dance Macabre’. Adakah kalannya sebuah mahakarya kesusasteraan dari peristiwa pandemi Covid-19 lahir, yang kemudian diekspresikan dalam bentuk seni tari ‘La Dance Macabre’ ala Covid-19?

 

“Manusia memiliki belas kasihan untuk yang menderita; dan untuk setiap orang ia baik-baik saja, bagi mereka yang paling diminta yang telah memiliki pekerjaan yang menyenangkan, dan telah menemukan beberapa: di antaranya, jika ada yang membutuhkannya, atau disayanginya, atau sudah menerimanya kesenangan, aku salah satunya. “ – Giovanni Boccaccio, The Decameron.

 

Editor: Arlingga Hari Nugroho

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Related Posts