Repertoar menjadi Kreatif di balik Akun Instagram @dom.inan

Photo: Judha Jiwangga

Kamis, 16 April 2020, saya berkesempatan mengundang pendiri usaha kreatif di Instagram yaitu @dom.inan yang berdiri sejak tahun 2017 untuk berdiskusi daring dengan judul Kreativitas: Jelajah dalam Penciptaan Karya Seni.

Narasumber saya ini lebih memilih disebut dengan Dom sebagai pena. @dom.inan sendiri merupakan akun di Instagram yang menggaungkan karyanya melalui quote-quote seputar kehidupan sehari-hari serta secara spesifik mengenai topik seputar dunia seni. Tidak hanya itu, @dom.inan juga menggagas adanya produk merchandise, showcase dari para seniman, konten di Youtube, dll.

Jargonnya adalah Arty, Provoke, Sarcasm.

Saya memilih topik kreativitas sebagai pembahasan karena aspek kreativitas sering sekali digaungkan dalam dunia kesenian bahkan juga di bidang lain. Kreativitas dianggap sebagai skill yang dimiliki oleh generasi muda untuk menjawab tantangan zaman 4.0.

Baca juga: Serba-Serbi Teater Jalur Otodidak: Diskusi Virtual Seputar Teater

KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) mendefinisikan kreativitas sebagai ‘daya cipta’. Namun, definisi daya cipta menjadi cukup ambigu ketika dibicarakan karena merupakan hal yang bersifat sangat subjektif. Melalui diskusi ini, kami mencoba untuk mendefinisikan kata ‘kreativitas’ melalui perjalanan Dom berkarya di dunia seni.

Kami mengawali diskusi kami untuk memahami kreativitas dengan kisah di balik berdirinya @dom.inan.

“Aku bikin @dom.inan itu ingin mencoba menyampaikan gagasan yang menjadi refleksiku secara sederhana. Walaupun yang diomongin berat tetapi orang mudah menangkap maknanya walaupun masih ambigu,” ujar Dom menjelaskan motivasi didirikannya @dom.inan.

Ambiguitas yang dimaksud adalah quote-quote yang diciptakan bisa memiliki keleluasaan tafsir berdasarkan konteks pembaca sehingga bisa lebih membaca. “Aku lebih senang memilih area abu-abu sih supaya orang lain yang mengartikan walaupun mungkin aku punya maksud tersendiri,” jelas Dom.

Selanjutnya, Dom menjelaskan seputar bagaimana proses kreatifnya bisa muncul untuk menciptakan karya. “Tentu yang utama adalah mengumpulkan referensi,” tutur Dom. Pengalaman mengumpulkan berbagai informasi menjadi modal dalam merumuskan gagasan dalam berkarya. “Risetku untuk mencari referensi biasanya dengan melihat quote-quote dari tokoh seni, akun-akun Instagram lainnya, nontonin Instastory dari pengikut akunku, dan isu-isu terkini. Jadi, referensi itu bisa datang dalam bentuk apapun tidak hanya dari buku, dll,” jelas Dom mengenai konsep referensi bagi dirinya.

Dom melanjutkan pembahasannya dengan mengungkapkan bahwa menjadi orang kreatif atau memiliki daya cipta itu masalah proses perkembangan dari jam terbang dan pembiasaan.”Kalau mau kreatif ya harus menjadikan proses berkarya itu sebagai sebuah kebutuhan layaknya seperti kebutuhan kita untuk makan tiap hari,” ujar Dom.

Konsistensi dari proses berkarya inilah yang kemudian akan menujukkan perkembangan kemampuan dari tiap karya yang sudah diciptakan. “Kalau kita sering membuat karya, entah itu baik atau buruk, kita bisa melihat sudah sejauh mana sih pencapaian kita dan kemampuan yang kita miliki. Pasti akan kelihatan kok dari tiap karya yang kita buat ada progress-nya,” jelas Dom.

Baca juga: Catatan Sebelum Pentas: Monolog Topeng Topeng karya Rachman Sabur

Dom pun menceritakan kisahnya bagaimana tiap hari dia mencoba untuk menciptakan karya. “Tiap hari, aku mencoba minimal aku harus bisa bikin quote. Padahal susah juga sih mikirin gimana rima, diksi dan gagasan yang mau ditulis,” tutur Dom. Namun, Dom juga tidak memungkiri bahwa kadang-kadang mengalami buntu ide atau death lock dalam mencipta karya.

“Kalau macet sih biasanya aku berhenti dulu terus coba merenung dan refleksi untuk merajut segala informasi yang sudah aku temuin. Ya susah juga sih menjelaskan definisi merenung itu seperti apa yang jelas aku coba menggunakan imajinasiku untuk mencari segala kemungkinan. Namanya juga komitmen,” jelas Dom lebih lanjut.

Di akhir diskusi, Dom menegaskan bahwa jika ingin kreatif kita harus berani menantang diri kita sendiri. “Kalau mau punya kreativitas, kita harus berani menantang diri kita sendiri sehingga kita punya ekspektasi dan kriteria ideal untuk diri kita sendiri. Orang itu paling suka kalau ditantang karena mereka pasti akan mencoba untuk membuktikan,” ucap Dom. Melaui proses menantang diri inilah, kreativitas itu akan terasah dengan prosesnya yang terus berlanjut.

“Coba aja untuk terus berkarya, nanti kita akan menemukan tantangan baru, baik itu dari diri kita sendiri atau faktor dari luar diri kita. Perkara selera dan kualitas pasti akan berkembang seiring dengan diri kita yang mau membuka untuk terus belajar. Kritik itu penting sebagai pelajaran. Kalau antikritik berarti kamu goblok,” ujar Dom sembari tertawa untuk menutup sesi diskusi daring seputar kreativitas.

 

Editor: Arlingga Hari Nugroho

Foto: Judha Jiwangga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts