Catatan Sebelum Pentas: Monolog Topeng Topeng karya Rachman Sabur


Catatan Sebelum Pentas Monolog Topeng Topeng karya Rachman Sabur

dimainkan oleh Syahrul Iman dan Komunitas Omah Laras

21 September 2020

di Omah Laras.

 

Ada baiknya sebelum masuk ke pembahasan yang lebih serius tentang proses, karya, dan pentas alangkah baiknya kami paparkan dulu sinopsisnya.

Sinopsis

Seorang Anak Panggung yang sekaligus sebagai narator telah mengingatkan audience bahwa ia akan memerankan dua tokoh, yakni: Waska dan Semar.

Perjumpaan pada Waska menjadi titik dimana ia menaruh simpati yang dalam pada Waska. Anak Panggung adalah sahabat Waska. Lantas ia mencoba untuk menghadirkan Waska, yang kemudian Waska malah mengaku sebagai Semar; berbicara tentang proyek kemanusiaan, membeberkan pengalaman sebagai mantan anak wayang, dan pemain sandiwara.

Anak Panggung adalah sahabat sekaligus pengikut setia Waska. Ia berkeyakinan bahwa Waska mengganti nama menjadi Semar hanya untuk kepentingan administrasi dan fortmalitas saja. 

Lalu Anak Panggung juga bersiasat untuk menghadirkan Semar yang barangkali Semar punya berita penting tentang peristiwa zaman yang harus segera diwartakan kepada semua orang. Ketika Semar muncul, Semar malah mengaku sebagai Waska. Waska se-Waska-Waska-nya dengan sangat meyakinkan. 

Kegelisahan menyelimuti Waska,

Menyadari kekalahan dalam hidup,

Berupaya merebut kejayaan,

Berusaha menjadi manusia lagi,

Seorang Waska tidak mau dikatakan sebagai Waska,

Ia sudah menjadi Semar,

Seorang Waska tidak mau dikatakan menjadi Semar,

Karena Ia adalah Waska,

Seorang Waska adalah seorang Waska,

Seorang Waska menginginkan menjadi Semar,

Seorang Waska tidak menginginkan menjadi Semar.

 

Tubuh Yang Terbelah

Dalam monolog Topeng Topeng, tubuh Anak Panggung yang sekaligus narator terbelah menjadi dua tokoh, yakni: Waska dan Semar.

Topeng Topeng menghadirkan pengalaman Anak Panggung dalam jalinan peristiwa di luar dirinya. Bisa dikatakan bahwa Waska dan Semar adalah akumulasi diri Anak Panggung yang terbentuk dari norma-norma sosial yang diserap lewat pengalaman-pengalaman, sehingga terbentuk emosi dalam pikiran dan jiwa Anak Panggung.

Baca juga: Serba-Serbi Teater Jalur Otodidak: Diskusi Virtual Seputar Teater

Monolog Topeng Topeng menghadirkan banyak pertanyaan juga interpretasi, baik di dalam teks maupun di luar teks. Tokoh Waska, seperti yang dikatakan oleh narator dalam naskah, Waska adalah tokoh dalam lakon sandiwara Orkes Madun (1999) karya Arifin C. Noer. Lebih spesifik pada bagian Orkes Madun II atawa Umang-Umang. 

Ada pembacaan terhadap naskah monolog Topeng Topeng dengan naskah Umang-Umang. bisa dikatakan ada peristiwa interteks dalam naskah monolog Topeng Topeng karya Rachman Sabur. 

Interteks bisa diartikan sebagai jaringan hubungan antara teks yang satu dengan teks lainnya. Menemukan sebuah keterhubungan dalam teks. Hubungan tersebut bukan hanya sebatas bersifat persamaan genre, namun teks yang hadir belakangan bisa menjadi kritik terhadap teks yang terdahulu. 

Dalam teori post-strukturalis, dikatakan bahwa “pembaca bukan lagi sebagai konsumen, melainkan produsen, teks tidak dapat ditentukan secara pasti sebab merupakan struktur dari struktur, setiap teks menunjuk kembali secara berbeda-beda kepada lautan karya yang telah ditulis dan tanpa batas, sebagai teks jamak.”

 

Tidak ada karya yang orinisnil

Tidak ada wacana yang paling pertama dan terakhir

Setiap wacana merayakan kelahirannya

 

Monolog Topeng Topeng karya Rachman Sabur adalah bentuk kritik terhadap naskah drama Orkes Madun II atawa Umang-Umang, yang terangkum dalam Caturlogi Orkes Madun. Orkes Madun sendiri bercerita tentang kehidupan kelompok pencuri, perampok, pelacur, dan anak-anak jalanan yang dipimpin oleh Waska. 

Waska pertama kali muncul dalam naskah Madekur dan Tarkeni, seorang nabi kejahatan yang dimintai saran oleh Madekur dan Tarkeni yang sedang gundah gulana.

Di naskah Sandek, Pemuda Pekerja atawa Orkes Madun III, dikisahkan bahwa Waska memiliki anak yang dibaptis dengan siksaan. Sandek adalah anak buruh pabrik yang juga menjalani kehidupan pabrik. Dalam naskah ini, dikisahkan betapa kejamnya kehidupan pabrik yang tengah dijalani oleh Sandek. 

Lalu dalam naskah Umang-Umang, Waska dikisahkan tengah menghadapi kematian. Ia belum ingin mati karena masih ingin mengurusi umang-umangnya (para pengikutnya). Kemudian ia mendapat cara untuk menjadi abadi dan terhindar dari kematian. Dan ia berhasil hidup abadi bersama para pengikutnya yang setia. 

Lalu dalam naskah terakhir Ozone, menceritakan keinginan untuk mati Waska yang telah hidup sangat lama dan ia sangat menderita dalam keabadian. 

Jika dibandingkan, naskah Umang-Umang dan Ozone ada kejanggalan antara keinginan Waska untuk hidup abadi dan Waska yang tengah memohon untuk mati.

Kembali dalam pembahasan naskah monolog Topeng Topeng, tidak ada pemisahan yang jelas antara naskah Topeng Topeng dan Umang-Umang. Dan memang tidak perlu dipisahkan. Monolog Topeng Topeng tetap bisa berdiri sendiri sebagai naskah yang utuh tanpa harus menengok ke naskah sandiwara Umang-Umang. Namun juga bisa melihat naskah Topeng Topeng sebagai peristiwa intertekstual. Artinya, ada sebab yang melatarbelakangi lahirnya naskah Topeng Topeng.

Naskah Topeng Topeng dapat dikatakan sebagai bentuk kritik dan mungkin juga apresiasi terhadap Arifin C. Noer dalam membingkai tokoh Waska; kehidupan abadi dan keinginannya untuk mati. Hal ini menyangkut hasrat dalam diri Waska. Hasrat dalam diri Waska dapat mengungkap tentang konsep diri. 

Hasrat dapat membentuk dan menggerakkan tubuh. Tiap tubuh terdapat hasrat yang dapat menghidupi tubuh. Mengubah keinginan menjadi kebutuhan. Hasrat muncul karena adanya kekurangan yang belum bisa terpenuhi.

Menurut Lacan, hasrat dibagi 2, yaitu hasrat untuk menjadi (narsistik) dan hasrat memiliki (anaklitik). Hasrat menjadi atau narsistik merupakan hasrat yang membuat seseorang ingin menjadi ideal. Sedangkan Hasrat Memiliki atau anaklitik adalah hasrat untuk mendapatkan sesuatu yang disukai, untuk kebaikan atau kesejahteraan diri sendiri maupun orang lain.

Waska yang dalam sandiwara Umang-Umang telah memperlihatkan hasrat untuk merampok semesta dan ia dihadapkan pada sebuah realita bahwa dirinya akan segera menemui ajal karena umurnya sudah tua. Itulah kemudian Waska berhasrat untuk memperoleh kehidupan yang panjang agar ia bisa menjalankan rencananya yang semata-mata untuk memperoleh kepuasan batin.

Hadir juga tokoh Semar dalam naskah Topeng Topeng. Tokoh Semar juga ada dalam naskah sandiwara Umang-Umang, yang hidup dalam tubuh Waska yang penuh ambisi dan kejahatan. Waska sebenarnya sudah mati, namun dihidupkan lagi oleh Arifin C. Noer di lakon sandiwara Umang-Umang. Semar dalam naskah tersebut menjadi narator sekaligus menjadi Waska. Semar adalah Waska, dan Waska adalah Semar.

Naskah-naskah sandiwara yang ditulis Arifin C. Noer memang mengandung unsur-unsur surealis. 

Rachman Sabur menggunakan pendekatan intertekstual dalam menulis naskah monolog Topeng Topeng, ada kecendrungan menghancurkan naskah terdahulu yaitu Umang-Umang. Mendekonstruksi naskah Topeng Topeng dengan menghadirkan Anak Panggung. Membalikkan peran Waska dan juga Semar.

Pikiran dan jiwa bersamaan dengan hasrat dapat menghidupkan tubuh. Tanpa itu tubuh tidak bisa dikatakan hidup. 

Apa kepentingan Waska mengaku sebagai Semar? Dan mengapa Semar yang malah mengaku sebagai Waska se-Waska-Waskanya?

Monolog Topeng Topeng, lagi-lagi berbicara tentang hasrat yang dapat menghidupkan tubuh seseorang. Waska jelas berkepentingan dengan mengaku sebagai Semar. Dan Semar jelas tidak mau mengaku sebagai Semar, lantas ia mengaku sebagai Waska se-Waska-Waskanya. Pengalaman untuk menjadi yang lain justru membunuh diri sendiri.

Baca juga: Repertoar menjadi Kreatif di balik Akun Instagram @dom.inan

Reinterpretasi Pentas Monolog Topeng Topeng

Ada banyak simbol yang hadir, seperti: peti, topeng hitam dan putih, kain hitam dan putih.

Simbol-simbol tersebut telah ada dalam petunjuk teknis naskah. Dan bagi kami itu klise. Kami menabrak batas-batas tersebut agar tidak terjebak dalam logika pemaknaan atas pentas dan penulis naskah. Topeng hitam dan putih tidak menjadi tolak ukur yang pasti tentang baik dan buruk. 

Kami tidak menghadirkan simbol-simbol seperti yang telah ada dalam petunjuk teknis naskah. Topeng misalnya, aktor tidak memakai banda-benda simbolik tesebut sebagai penguat karakter tokoh Waska atau Semar. 

Topeng-topeng telah ditanggalkan dari wajah. Topeng-topeng hanya dijadikan pajangan yang menghias panggung. 

Ini adalah sebuah persoalan negosiasi artistik yang dipilih ketika banyak tawaran-tawaran untuk melakukan reinterpretasi ulang sebuah sebuah pementasan karena benturan keadaan dan segala macam, yang bagi kami dapat menghadirkan pemaknaan yang sama sekali baru, baik oleh sutradara, aktor, atau juga penonton pementasan. 

Topeng bagi kami adalah ekspresi dari emosi jiwa dan pikiran. 

Peti jelas merupakan simbol kematian. Kematian tubuh yang lain. Entah Waska. Entah Semar. Dan Anak Panggung hanyalah orang yang menghidupkan kembali Semar dan Waska. 

Proses menghidupkan yang lain dalam diri Anak Panggung, justru telah meniadakan tubuh aslinya. Tubuh Anak Panggung menjadi milik Waska dan Semar. Peti adalah tempat yang pas untuk menempatkan tubuh sendiri atau tubuh yang lain.

Monolog Topeng Topeng mengajak kita untuk merefleksikan banyak hal dalam diri kita. Pengalaman atas sebuah peristiwa di masa lalu dapat membentuk suatu sikap atau bahkan ideologi yang berguna untuk merefleksikan banyak hal, hari ini, dan masa depan. Bahkan lebih bertahan lama dibanding kematian tubuh. 

Editor: Arlingga Hari Nugroho


Leave a Comment