Dari Jendela Usang; Kumpulan Puisi Ardhi Ridwansyah


Tiga puisi ini; Dari Jendela Usang, Tak Seirama, dan Hari Kematian, ditulis Ardhi Ridwansyah, seorang yang aktif menulis esai dan penulis buku antologi puisi tunggal Lelaki yang Bersetubuh dengan Malam.


Dari Jendela Usang

Dari jendela usang,

Kutengok di luar sana,

Orang-orang bekerja,

Dengan keringat yang tak cukup,

Diusap oleh kertas bergambar pahlawan.

 

Tiap langkahnya adalah doa;

Yang ia selipkan juga di dompet,

Di antara foto;

Senyum rekah anak dan istrinya.

 

Teguk air mata diam-diam,

Bersama  ramai lalu lalang kendara,

ia pelihara sunyi di balik mata,

lapangkan dada dengan senyum derita.

Jakarta, 2020

 

Tak Seirama

Pada puncak tubuhmu,

Tebal halimun datang, mendekap.

Selimuti segala romansa yang kau ungkap semalam.

Saat jiwamu dan jiwaku duduk di tengah bintang gemerlap.

Kita bercerita tentang hari di mana, kau dan aku,

Akan lelah bicara, sebab mata dan hati tak lagi seirama,

Degup jantung legato, lemah lembut, akan mati,

Di saat itu mesra kata-kata sekadar basa-basi.

 Jakarta, 2020

 

Hari Kematian

O, hari ini aku mati;

Hatiku, segalanya,

Dan wajah anak-anak yang mengais,

Tong sampah karena lapar,

Datang mendoakanku agar dicabik,

Oleh segerombolan serigala.

 

Sesal hanya akhir dari jiwa yang dulu,

Semayam di tubuh ringkih.

Bibir mahir tebar janji kosong di sana-sini.

 

Serta kulit kian hari kian busuk,

Dengan lalat-lalat hijau penebar teror;

Di tubuhku yang layu. Sisakan sesal dan benci pada diri.

Jakarta, 2020  

 

Foto: Christina Audrey


Leave a Comment