Cinta dan Kemenangan; Kumpulan Puisi Azman Hassam

Kumpulan puisi ini; Maghrib, Cinta dan Kemenangan, Hujan di Kota Malang, dan Ke Lekuk Cangar, ditulis oleh Azman Hassam. Lahir di Singaraja, Bali. Biasa dipanggil Ajeman, seorang mahasiswa yang kini hijrah sementara dan menempuh pendidikan di UIN Maulana Malik Ibrahim kota Malang. Tergolong aktif di komunitas sastra, salah satunya di Pelangi Sastra Malang. @azmnhssmb


Maghrib

Mencarimu di kesengsaraan ini membuatku kehilangan akal dan kewarasan
Kegersangan memuncak dan menderu di bibirku
Aku melihat keharumanmu tandus, dikentalkan hari-hari penuh kelam
Dan kebisingan di luar meronta-ronta masuk ke jiwaku yang muram.

Cahaya panas yang menusuk dinding langit, kasihku
Mungkin adalah isyarat kepunahanku dari rencana-rencanamu
Aku sempat kehilangan arah dan tujuan, tersesat di belantara
Namun kekuatan rindu seperti memahami, ke mana kaki ini harus pergi.

Menuju maghribmu, kasihku, menuju maghribmu
Matahari berjalan mundur dan tenggelam di balik bukit yang mengambang di laut
Aku menemukan kecantikanmu yang jatuh di antara kilauan pasir-pasir
Melebur menjadi untaian kata-kata yang terselip di ruang dzikir serta melangit bersama adzan-adzan.

Aku mendengarmu, kasihku, aku mendengarmu
Aku menggapaimu dengan sayap-sayap yang merembes
Lalu tubuhmu yang menjelma kata-kata kuremah
Dan kusampaikan kepada dunia bahwa cinta memang sukar tuk dipisah.

Singaraja, 5 November 2019

 

Cinta dan Kemenangan

Aku mencintaimu
Aku mencintaimu dengan tangan yang dipuntungkan adat istiadat
Mulut yang dibisukan mitos-mitos orang tua
Tubuh yang dikuliti tradisi dan budaya.

Aku mencintaimu dengan melawan mereka
Mengacaukan perbudakan-perbudakan
Menghancurkan kedudukan-kedudukan
Memborgol sistem marga-marga yang setara, ras yang sama dan suku-suku yang sepadan.

Sampai keadilan di dalam cinta mengudara
Lalu jatuh berserakan di sepanjang jalanan kota
Merobohkan sekat-sekat yang payah, pemisah kau dan aku
Dan mengiris daging-daging persekutuan.

Hingga para muhibi berlepasan juga berlarian
Menyelamatkan ketulusan-ketulusan yang masih tersisa
Juga menghujani balai kota dengan petasan
Dan sorakan kemenangan.

Malang, 26 Maret 2021

 

Hujan di Kota Malang

Entah kenapa akhir-akhir ini
Kota Malang masih diselimuti hujan
Membatasi ruang-ruang pertemuan
Segala rencana dan wacana hanyut di aliran Brantas
Mungkin tak ada lagi
Tak ada lagi kasih sayang di deretan bangku-bangku Ijen, tak ada
Tak ada persahabatan di sepanjang keramaian Sudimoro.

Hujan deras di Joyo Agung
Jetis
Kalpataru
Merjosari
Dan Tirto yang memanjang
Membawa kita melihat tanah yang menyerap kata-kata percuma, kalimat tanggung dan pernyataan yang tak sampai
Membawa kita kembali
Ke sudut-sudut sempit
Persembunyian kelam masing-masing.

Malang, 8 April 2021

 

Ke Lekuk Cangar

Kulewati pohon-pohon jati
Berdaun besar
Yang luruh pada musim kemarau
Musim kekuningan; menyengat tubuh, mengkeringatkan waktu.

Ke lekuk Cangar, nona
Cuaca berwarna api
Ahhh, sumuk!
Tapi masih kulihat gumpalan kelabu berpindah ke jurang
Menuju perkebunan.

Aku berdiri di atasnya, di trotoar
Memandang ladang tomat yang dicabutkan peristiwa-peristiwa
Ada yang segar, seperti binar matamu
Ada juga yang membusuk, seperti kebisuan kita
Termakan usia
Termakan kelelahan.

Pedagang bersaf-saf
Disusun rejeki
Menawarkan apel-apel kecil
Ada yang manis
Ada juga yang mengecewakan.

Sambil menghisap rokok aku bayangkan sosokmu
Berdiri di sekumpulan batu itu
Dibalut jilbab keunguan
Tubuh terbungkus baju hitam
Sepatu berwarna putih.

Di lekuk Cangar yang curam, nona
Arwahku bersipacu melawan khayalan
Dan aku tak mengerti bagaimana kesadaran membatu
Ketika penjuru angin membawa tatapanmu
Membuatku ingin jatuh ke dalam gelap
Ke dalam senyap
Ke dalam lelap.

Cangar, 26 Maret 2021

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts