Kartu Ucapan 1983 | Cerita Pendek Christoforus Gita Dananjaya

Hari ini adalah hari minggu Adven ke empat. Seperti semangat Maria yang tak sabar bergegas ke wilayah Yehuda untuk memberi kabar sukacita pada Elisabet, akupun tak sabar untuk memberi kabar sukacita pada Sri. Sri adalah kekasih hatiku yang berhasil kurebut dari tunangannya. Aku dan Sri saling kenal karena kami bekerja sebagai guru di unit sekolah yang sama. Aku guru mata pelajaran Agama Katolik, Sri guru mata pelajaran Ekonomi. Ia baru satu tahun bekerja di sini.

Sri adalah gadis berparas bak bunga anggrek yang mekar di musim hujan dengan rambut panjang sepantat bak sulur anggur di ladang Tuhan. Selain kepada Tuhan, kepada Sri aku memuja.

Pitungku melaju kencang untuk menjemputnya. Sri tengah menanti di depan rumah bapak-ibunya, mengenakan baju atasan merah muda dan rok selutut bercorak kembang. Aku berhenti dan terpukau di depannya. Sri menepuk pundakku, membuyarkan lamunanku, 

“Mas. Mas Totok! Gek ayo, selak telat!” ucapnya.

“Y–ya. Cekelan,” ujarku.

Sesampainya di gereja dan tengah mengikuti misa, rasa kantuk dan bosan menyergap ketika aku mendengarkan homili yang jauh dari makna sabda yang diberikan. Dan tidak mendalam. Aku anggap kapasitas para romo masih dangkal, cupu. Aku berani mengemukakan itu karena aku jauh lebih paham dari mereka jika mengenai Alkitab dan Katolik. Jangankan Alkitab, buku Gaudium et Spes dan Dokumen Konsili Vatikan II sudah kuhabiskan sepuluh tahun lalu.

Bukan hanya satu dua kali baca, hingga aku tak perlu membacanya kembali. Toh, aku sudah khatam dan mampu jika siapapun datang kepadaku untuk bertanya. Setidaknya dua sampai tiga kali seminggu, selalu ada romo yang main ke kos atau bertamu ke sekolah saat aku bekerja, hanya untuk sekadar bertanya hal-hal itu. Mendapat julukan “guru besar kitab suci keuskupan”, menjadi momok rasa percaya diriku untuk mendapatkan Sri. 

Melihat Sri di sampingku, membuatku merasa bahwa tepat keputusanku untuk merebutnya dari pria klenik dungu yang tidak berpendidikan itu. Aku menginjak kaki Sri dengan lembut, berharap ia membalas hal yang sama guna mengusir kantukku. Kenyataan berbeda. Sri melancarkan cubitan pada pinggulku. Mataku terbelalak, kantuk pun lenyap. Sial, hampir aku berteriak dibuatnya. Menyesal. Bukannya memilih untuk tidur, malah kini justru menahan sakit hingga misa usai.

Sepulang dari gereja, aku mengantar Sri pulang ke rumahnya. Dari dalam rumah, ibunya memanggil,

“Mlebu, nak Totok. Ayo sarapan bareng.”

“Nggih, bu,” jawabku.

Di ruang tamu, hanya ada aku dan Sri. Sambil menyantap bandeng goreng dengan sayur bening serta sambal bajak istimewa buatan ibunya, aku merogoh saku belakang celanaku. Aku telah menyiapkan kartu ucapan untuk Sri. Ini adalah kali pertamanya aku memberikan kartu ucapan padanya. Kartu ucapan dengan tulisan “Selamat Natal dan Tahun Baru” serta gambar Arjuna yang tengah mengarahkan lengan Srikandi yang sedang belajar untuk memegang panah Pasupati.

Saat setelah dia membaca, akan kusampaikan kabar sukacita yang telah kusiapkan. Sri membaca isi kartu itu,

“Semoga cinta Kristus hidup dan berkembang di antara kita bagai cintanya Arjuna dan Srikandi.” 

“Selamat Natal dan menjelang tahun baru, dek,” ucapku.

“Kan belum Natal, mas,” timpalnya sambil mengernyitkan dahi.

“Gak apa-apa, dek. Aku karo arep omong, ayo tahun depan nikah,” ajakku dengan gugup.

“Tenan, mas?” Sri bertanya. Lebih tepatnya Sri berteriak. Kabar sukacita ini membuat kaget Sri dan satu rumah yang berisikan bapak, ibu, dan enam saudara-saudari kandungnya itu.

***

Aku kecewa pada mas Totok setelah mendengar kabar dukacita dari sekolah. Kabar bahwa mas Totok di-PHK. Ya, mas Totok dipecat. Bukan karena sekolah diterpa krisis moneter, tapi karena kesalahannya sendiri. Bisa-bisanya ia mengucapkan hal yang tidak pantas diucapkan sebagai seorang guru kepada muridnya.

Hancur hatiku mengetahui kenyataan finansial kami sedang tidak baik. Tahun ini adalah tahun terberat dalam hidupku. Sekalipun selama empat belas tahun usia pernikahan kami dilanda banyak ujian, namun tetap, bagiku tahun ini adalah tahun yang terburuk. Krisis moneter melanda. Harga kebutuhan pokok meningkat. Melihat tiga putraku, tak sanggup aku menahan air mata.

Mas Totok sedang mandi. Aku mencium kening putraku satu per satu. Kuusap dahi mereka dengan tanda salib. Aku berbisik pada si sulung, “Jaga adik-adikmu.” Aku bergegas mengambil tas, berlari keluar rumah dan memanggil tukang becak langganan yang tengah ngaso di dekat perempatan. Isak tangis si bungsu mengiring kepergianku.

Dua minggu lamanya aku meninggalkan rumah. Aku mengurung diri di kamar ibuku. Rambutku berantakan, mataku sembab. Dengan sabar ibu memberikan suapan nasi untuk kumakan. 

“Sri, sepeninggal bapak, ibumu iki hanya berdoa supaya putra-putri ibu bahagia kabeh,” ucap ibu sambil memberikan air putih padaku.

“Jane ibu sedih, ndelokke adik-adikmu wedok kae,” lanjut ibu. Ibu kini tinggal bersama dua adik perempuanku. Dua adik perempuanku telah memiliki anak, masing-masing satu putri. Masing-masing pernikahan mereka telah kandas. 

“Totok tadi telepon lagi. Anak-anakmu nangis terus. Mosok liburan Natal tidak mau bareng sama anak-anakmu?” tanya ibu.

Sambil keluar kamar dan meninggalkanku seorang diri, ibu masih lanjut berbicara,

“Tak pikir kamu sudah sadar bahwa ini akan terjadi nduk, nduk.”

Aku bangkit berdiri, menatap cermin kayu tua di hadapanku. Aku teringat pada kartu ucapan Natal yang pernah diberikan mas Totok padaku.

Aku berteriak pada ibu dari dalam kamar, “Bu, pirsa buku alkitabku sing diparingi bapak?”

“Tak simpan di laci meja rias iku,” jawab ibu, berteriak dari dapur.

Aku mengambil alkitab dari laci meja rias, mendapati kartu ucapan Natal di sela-sela halaman pertamanya. Aku membacanya kembali. Kali ini dalam hati. Teringat rasa sukacita lima belas tahun yang lalu, tetapi sekejap ditutup oleh ingatan dukacita dua minggu lalu. Air mata kembali menetes. Tidak sengaja aku menjatuhkan alkitab itu. Saat aku mengambil alkitab, ada sebuah kartu terjatuh dengan gambar Bunda Maria. Aku mengambil kartu itu. Samar-samar ingatanku hadir tentang kartu ucapan ini. Ada tulisan di balik kartu tersebut, dengan tinta pena berwarna merah,

Oktober 1983

Hatiku bergejolak di bulan itu.
Maria Bundamu membunuh pelita hidupku
Membawa kabar dukacita bagiku
Kabar yang nyata kupahami sebelumnya

Ia tidak pernah hadir dalam batinku
Mimpi! Namun tidak tertidur
Aku yakin bahwa aku ragu
Pandangan matanya tidak membuat hatiku resah

Sadarkah dikau, adinda?
Sedari lama aku mengetahui akhir cerita
Tentang diriku dan dirimu

Meninggalkanku sama halnya dengan lara
Sarat akan luka
Untukmu dan dirinya

Sadarilah, adinda
Lima belas tahun ke depan
Pria itu membuatmu kecewa

—pria yang disebut klenik olehnya

catatan:
33 tahun ke depan, penyakit stroke menyerang pria ber”agama” itu

 


Penyelaras aksara: Arlingga Hari Nugroho
Foto sampul: Christoforus Gita Dananjaya

 

1 comment
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts