Nostalija; Kumpulan Puisi Juan Antony

dok. Kedung Rukem

Kumpulan puisi Nostalija berisi puisi; Aynat, Trotototoar, Hormance, Simponomi, dan Bukan Pijat Refleksi, ditulis oleh Juan Antony, mas-mas biasa.


Aynat

Bagaimana malam ini bisa tidur jika seharian ketiduran?
Bagaimana siang esok bisa kerja jika masih pengangguran?

Sebentar.
Mengapa aku mempertanyakannya?

Aduh.
Mengapa aku mempertanyakan pertanyaanku?

Siapa tanya siapa?
Jawab apa pada siapa?
Siapa siapa tanya?
Tanya siapa pada siapa?

Lalu aku pun terlelap dalam tanya
?

Trotototoar

Udah bisa melek, lanjut belajar jalan.
Sekarang matanya cacat, tapi masih bisa jalan.
Gak tau ke mana, mana gak tau.

Yang pasti cuma mata yang dua. (Gak tau kalo bakal tercungkil atau nggak.)
Kadang mampir ke pasang mata lain. Kadang liat-liatan. Tapi gak bisa selama tanah liat. Jejaknya aja yang tertinggal, penjejaknya tetap berjalan.

Jalan jalan aku jalan jalan.
Kadang juga ada yang tiba-tiba ngeludah. Pengen kubalas tapi peludahnya langsung kabur, katanya mau lapor polisi. Lah.

Mungkin karena mataku yang cacat.
Jalan jalan.

Anjing minusku tambah!

Hormance

Aku ingin menghantuimu dengan awam, biar tidak heboh negara ini

Tapi di balik itu, taukah kamu bahwa menjadi hantu berarti harus mati?
Baiklah aku mengaku
Sebenarnya aku menghantuimu dengan penasaran
Tidak tau kapan dan siapa
Bahkan tidak tau ketidaktauanku

Yang kutau nisanku sudah kokoh di atas sawah depan rumah
Tempat kamu sering melamun di lantai dua
Di luar jendela
Di samping tong air
Di dua tahun kemarin

Kala itu aku bukan hantu
Bukan juga anak adam
Tapi aku dihantui
Ketika mencoba melahirkan

Simponomi

Hadir duluan
Lalu selesai
Tiba kembalian
Joget-joget barongsai

Yang lain cuma ndeprok liat loncat-loncat
Eh yang loncat kegirangan diliat-liat
Peliat pun disuruh dekat panggung
Dengan patuh jadi injakan
Diinjak diinjak biar pintar
Katanya

Sudah sore uang penuh
Penonton pulang hilang jenuh
Selamat kalian sudah pandai sekarang
Barongsai pun pulang beli babi

Bukan Pijat Refleksi

Mulutku penuh liur
Tapi kering saat meludah
Otakku kaku perlu yoga

Tanganku kusut
Aku bingung mana jari tengah mana jempol
Jari manis terlalu kelingking
Jari telunjuk menunjuk telunjuk

Untungnya mereka mau mengepal
Lalu memukul
Dada ini
Bukan dadamu
Karena saru

Meskipun seru

 

Penyelaras Aksara: Agustinus Rangga Respati
Foto sampul: Kedung Rukem

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts