Puisi Awan: Kumpulan Puisi Antonius Wendy

Kumpulan puisi ini: Awan, Bulan, Bintang, Matahari, dan Angin, ditulis oleh Antonius Wendy. Seorang muda yang menyukai sastra dan sedang belajar Bahasa Inggris di Universitas Widya Dharma Pontianak.


Awan

Awan memang seperti kenangan
Isinya penuh air yang berat
Dan kalau sudah penuh: muram warnanya
Hitam, gelap, kadang petir
Menandakan kecamuk rindu
Hanya dengan mencurahkan isinya
Awan dan kenangan akan kembali bersih
Eh, besok, wujud awan sudah beda.
Awan juga seperti angan
Ia tinggi dan tak bisa digapai tubuh
Tapi pikiran kita perlu melayang
Untuk bisa menyentuhnya
(Atau mengira-ngira bentuknya
Seperti apa wujudnya itu?)
Nah, aku jadi berangan-angan lagi.
Guru sekolahku bilang
Awan muncul dari air yang menguap
Tapi kutahu tubuh manusia terdiri dari air
Kubayangkan kelak aku mati
Kandungan air di tubuhku menguap
Aku mengawang
Dan aku mengambang di semesta
Aku pun jadi awan.

(2022)

Bulan

Banyak orang bilang wajah cantik itu seperti bulan
Tapi kalau kamu pakai teleskop
Bulan itu ada banyak jerawatnya
Kalau bulan memang cantik
Berarti kecantikan muncul ada fase dan tanggalnya
Ada pasang surutnya
Jadi kamu tidak perlu minder
Banyak seniman penyair bilang bulan ada di matamu
Sepertinya sudah ada jutaan puisi seperti itu
Memang benar, di matamu kutemukan bulan
Yang adalah pantulan gambar cantik dari smartphone
Jadi memang benar kalau aku bilang ada bulan di matamu
Aku tak suka kalau kau bilang ingin secantik bulan
Karena aku yakin semua orang juga ingin hal yang sama
Jadi ayo, bayangkan semua orang secantik bulan
Tapi aku lebih memilih untuk kangen wajahmu yang berjerawat itu

(2022)

Bintang

Banyak orang ingin menggapai bintang
Banyak orang ingin menjadi bintang
Bintang film, bintang musik rock
Walau kuharap bukan bintang porno
Kamu bilang ingin kita berdua bagaikan bintang
Tapi aku tak mau kita berjarak sejauh jutaan cahaya
Dan dipisah oleh kehampaan semesta
Aku juga tak mau kita sepanas suhu bintang
Yang jutaan derajat selsius
Nanti kita gampang emosian
Mereka bilang bahwa bintang adalah tanda kesuksesan
Tapi, selayaknya bintang yang berbinar hanya dalam kegelapan
Kubayangkan kita hanya bisa mengapresiasi (dengan mata berbinar)
Kesuksesan kita dalam waktu yang gelap
Mereka bilang kita harus menggantung cita-cita setinggi bintang di langit
Tapi itulah letak masalahnya
Kalau seandainya cita-cita itu tak tercapai
Maka kita akan jatuh dari langit
Dan hati kita akan menghantam bumi
Hingga pecah berkeping-keping
Kuharap kita tidak sampai butuh psikiater

(2022)

Matahari

Kau bilang padaku,
“Aku ingin mencintaimu bagaikan matahari untukmu.”
Dalam hati kujawab,
“Jika kau matahari, berarti kau cahaya.
Aku ingin kau jadi cahaya, sebab semesta nampak karena cahaya.
Sebab semesta nampak, bumi dan tanah tumbuh kehidupan.
Sebab tumbuh kehidupan, muncul makhluk hidup yang cerdas.
Sebab makhluk hidup cerdas, akhirnya ada suatu peradaban di dunia.
Sebab ada peradaban, kebetulan ada kita yang saling bertemu.
Sebab kita saling bertemu, aku jatuh cinta padamu.
Sebab aku jatuh cinta padamu, kuharap gombal kita tidak terlalu klise.”
Tapi aku sulit sekali menjelaskan itu padamu
Aku tidak mau pikiran atau lidahku keseleo
Dan karena aku mencintaimu, aku akan ikut saja denganmu
Kukatakan padamu, “Aku juga ingin mencintaimu bagaikan matahari untukmu.”
Hubungan kita tidak berlangsung lama
Sebab selayaknya dan sejatinya matahari
Kita adalah bola api raksasa yang saling rebutan gravitasi
Hingga kita muak karena terus memancarkan radiasi satu sama lain
Kalau misalnya kekasihmu sok puitis dan bilang,
“Aku ingin mencintaimu bagaikan matahari untukmu,”
Katakan saja padanya bahwa ada sosok bulan terang putih menggoda
Yang muncul di malam hari ketika kekasihmu sedang tidak ada
Karena pada saat itu ia sedang ada di belahan dunia yang lain

(2022)

Angin

Di sekolah, guruku bilang angin adalah partikel bebas
Sehingga ia tidak bisa dilihat, karena ia adalah semilir
Jadi kubayangkan semilir kentut agar gampang kumengerti
Semilir kentut yang membebaskan diri dari pantat
Lalu terbang ke sana kemari, karena ia partikel bebas
Di gereja, pastor bilang angin bagaikan iman dan Tuhan
Sehingga ia tidak bisa dilihat
Seperti merasakan angin memberikan keteduhan jiwa dan cinta
Tapi aku, meskipun ingin sekali, tidak bisa memeluk angin
Aku seperti kangen dan ingin memeluk sesuatu yang selalu luput
Kemudian kudengar himne gereja dengan paduan suara gaya minor
Aku pun sadar oleh cinta yang menderita
Di rumah, mamaku bilang kehadiran angin adalah feng shui yang baik
Sehingga aku harus mencintai dan mensyukuri jendela dan ventilasi
Aku pun sadar, aku telah menutup diriku sekian lama
Bagai kamar tanpa jendela, aku hidup tanpa ingin belajar dunia luar
Bagai rumah tanpa ventilasi, aku menolak kehadiran baru yang segar
Pada akhirnya, aku ingin menemukan sosok seperti angin
Mengusap wajahku dan menyentuh jiwaku
Mengeringkan air mataku yang menangis oleh kesepian
Menguapkan keringatku yang letih oleh penderitaan
Dan untuk kali pertama aku bisa menyentuhnya

(2022)


Penyelaras aksara: Arlingga Hari Nugroho
Ilustrasi: Akwila Chris Santya Elisandri

1 comment
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts