Rumus ETC Roastery dalam Menjaga Kualitas Biji Kopi

Kehadiran ETC Roastery menjadi titik tengah untuk memperkenalkan biji kopi yang baik dan berkualitas kepada konsumen.


Setelah hujan yang cukup deras mengguyur kota Jogja pada Sabtu, 04 Desember 2021 siang, saya memenuhi ajakan teman untuk berkunjung ke sebuah coffee shop yang berada di Jogja bagian barat. Rintik gerimis masih turun ketika saya akan menjemput kawan terlebih dahulu, lantas melipir dari padatnya lalu lintas Yogyakarta di akhir pekan menuju ke arah Jalan Godean. Mengikuti arahan Google Maps, akhirnya kami menemukan sebuah tempat bernama Senja Coffee & Memories, sebuah coffee shop yang beralamat di Jalan Tata Bumi, Gamping, Sleman.

Beres memarkirkan sepeda motor, kemudian kami memesan senja caramel latte, salah satu minuman yang menjadi andalan di kafe ini. Kami memilih tempat di bagian belakang yang memang terbuka, tentu saja dengan alasan agar lebih santai dan tidak terlalu kaku ketika menikmati segelas es caramel latte. Apalagi udara pada siang itu cukup sejuk pasca hujan mengguyur.

Sembari menikmati es caramel latte, pandangan saya tertuju pada sebuah ruangan kaca dengan mesin penggiling kopi besar di dalamnya. Ruangan itu merupakan tempat untuk memasak biji kopi dari mentah hingga siap diolah menjadi minuman. Hal ini tentu saja saya ketahui setelah bertanya pada kawan saya yang juga seorang staf  di tempat ini. Logo bertuliskan “E+C” yang terpampang mencolok di dinding ruangan itu, merepresentasikan bahwa tempat tersebut bernama ETC Roastery.

Kru Sudut Kantin bersama Aditya Wahyu Setiawan dan Yudi Tri Sanjaya (dok. Yosef Keriliwi/SudutKantin).

Saya diantarkan teman untuk masuk ke ruangan tersebut dan beruntung bisa bertemu langsung dengan Yudi Tri Sanjaya, selaku owner ETC Roastery dan juga Senja Coffee & Memories. Tentu saja dengan tujuan ingin mencari tahu cerita-cerita menarik di balik nikmatnya minuman yang saya pesan tadi. Tempat ini masih satu lokasi dengan Senja Coffee & Memories, hanya saja menyendiri di belakang.

ETC Roastery digunakan sebagai tempat untuk mengolah biji kopi dari greenbeans menjadi biji kopi yang siap dijadikan minuman, sedangkan Senja Coffee merupakan kafe yang menyajikan berbagai menu untuk ditawarkan kepada penikmatnya. Bisa dikatakan ETC Roastery merupakan pabriknya Senja Coffee & Memories.

Menurut cerita Yudi, nama ETC dipilih ketika beliau bertemu dengan wisatawan mancanegara yang kebetulan sama-sama sedang liburan di Bali. “Aku ngobrol sama bule itu tapi nggak paham apa yang dibicarakan, tapi masih pada konteks kopi. Nah terus dibuat rumus aja, dapet inspirasi dari rumusnya Albert Einstein, E=M.C, karena kebetulan tahun lahirku mirip-mirip dengan tahun lahirnya Einstein,” tutur beliau. Dari situ tercetuslah nama “E+C” yang kemudian dipilih sebagai nama roastery. Kemudian  E+C disimpulkan menjadi ETC dan dapat ditafsirkan secara kompleks.

“Itu bisa kompleks, bisa enjoy the coffee, enjoy the culture, explore the coffee, semuanya bisa dieksplorasi dari situ,” jelasnya.

Sebelum ETC berdiri, coffee shop miliknya justru sudah ada terlebih dahulu. Ada alasan kuat yang menginisiasi berdirinya ETC Roastery. Yudi berpikir jika kopi bisa membuat orang terpacu untuk lebih produktif, lalu ia mengulik lebih dalam apa yang menjadi persoalan di dalam ekosistem ini. Ia melihat bahwa bisnis kopi merupakan bisnis jangka panjang, tetapi belum ada keseimbangan antara hulu ke hilir sebab ada ego yang berbeda antara petani kopi dengan pebisnis kopi. Kebutuhan pokok petani sebagai hulu kadang belum terpenuhi, berbeda dengan kepentingan yang ada pada sisi coffee shop atau roastery.

Dari permasalahan ini, ia mau membuat keseimbangan agar dari sisi petani, prosesor di roastery hingga coffee shop semuanya mendapat keuntungan. Sebuah roastery menjadi titik tengah untuk memperkenalkan biji kopi yang baik dan berkualitas kepada konsumen, sehingga menginisiasi Yudi masuk ke industri roastery itu sendiri.

Komunikasi antara petani dengan pebisnis kopi penting dilakukan. Sebab, kualitas biji kopi yang baik dinilai dari konsistensi petani ketika menyediakan produknya untuk dibeli oleh pebisnis. Di sisi lain, hal penting dari sisi pengepul atau prosesor yaitu bukan hanya membeli biji kopi dari petani dengan harga mahal, tetapi harus bisa memastikan jika kualitas produk dari petani meningkat dan terjamin. Adanya peningkatan kualitas itulah yang kemudian menjadi alasan ETC Roastery memberikan sebuah feedback.  “Fokus kami adalah jaminan kopi dari petani untuk kedepannya, apa yang mereka panen itu pasti habis,” ucap Yudi. 

Peran seorang perantara sangat penting, sebab ia harus mengenalkan kopi yang berkualitas kepada konsumen dengan tidak melupakan peran petani, sehingga muncul yang namanya market fit. Menurut Yudi, itu menjadi standar pada sebuah usaha yang harus dijaga, sebab banyak petani dan pecinta kopi yang tidak mendapatkan market fit. Ia menegaskan bahwa ketika menyeimbangkan ekosistem di bidang kopi, ETC Roasatery selalu mengedepankan konsistensi produknya, sebab nomor satu adalah nilainya. “Kalau kita nggak punya nilai, ya akan goyang,” ujarnya.

Yudi Tri Sanjaya menjelaskan tentang ETC Roastery (dok. Yosef Keriliwi/SudutKantin).

Yudi menilai jika konsistensi produk pada sebuah roastery penting untuk dipertahankan. Konsistensi itu tidak hanya didapat dari kualitas biji kopinya saja, tetapi ada hal lain seperti SDM yang baik dalam pengelolaan di roastery itu sendiri. ETC Roastery selalu menjaga lingkungannya sebaik mungkin, mulai dari suhu ruangan, kelembapan, serta kebersihan tiap alat yang digunakan, semua diperhatikan. Dari konsistensi itulah hasil roastingan tentu akan berkualitas, dan juga informasi yang diberikan ke petani juga valid dan akurat. Ini yang menjadi ciri khas atau pembeda antara ETC Roastery dengan tempat lain. Bahkan ETC memiliki gudang terpisah yang dikhususkan untuk menyimpan biji kopi dalam jangka waktu satu tahun, tentunya tetap memperhatikan aspek-aspek yang sudah diusung manajemen.

Sempat tersirat rasa pesimis hingga mau menutup usahanya akibat pandemi ini, tetapi dengan adanya dukungan dan rasa sayang dari rekan-rekan yang bekerja dengannya, Yudi berani untuk melanjutkan. Di ETC Roastery ada rasa saling percaya antara owner dengan roasternya, sebab Yudi mau maju dengan adanya rasa percaya itu. Hal ini menjadi kunci untuk menjaga hubungan baik dengan konsumennya, tentu saja dengan menjaga nilai-nilai baik dan kejujuran.

Oleh karena itu, dengan adanya konsistensi, keseimbangan antara hulu ke hilir, hingga rasa saling percaya, menumbuhkan spirit baru untuk terus menjalin hubungan baik dengan konsumen. Sebab, ketika dari hulu ke hilir, dari petani, prosesor, hingga konsumen ada keseimbangan, maka semuanya mendapat keuntungan. “Karena memang kekuatan kita saat ini ada di produk, maka produk-produk dari ETC Roastery dapat disimpulkaan berkualitas, harga sesuai kualitas, terjamgkau, kemudian elegan,” ujar Yudi mantap.

 

Editor: Arlingga Hari Nugroho
Foto: Yosef Keriliwi

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Related Posts