Senyawa Membaladakan Keselamatan, Kiamat sudah Lewat!

Sudut Kantin Project berkesempatan ngobrol dengan Senyawa menjelang perilisan album Membaladakan Keselamatan; sebuah harapan untuk orang tidak menjadi takut dan terus memikirkan kiamat.


Jadi selama ini [eksplorasi] itu hanya baju, karena bukan itu yang mendefinisikan Senyawa. Bukan instrumen aneh-aneh, bukan sound aneh-aneh, bukan vokal aneh-aneh, itu cuma jenis yang kita explore aja. Senyawa itu adalah Rully Shabara dan Wukir Suryadi.” – Rully Shabara.

Setelah sepuluh tahun, band yang disatukan lewat sebuah jammin session Yes No Klub ini telah memasuki dasawarsa kedua. Sebuah usia yang jarang dirasakan kebanyakan band lain. Namun, bagi Senyawa, rasiannya baru dibentang dan akan digeber tahun-tahun mendatang.

Sudut Kantin Project berkesempatan ngobrol dengan Senyawa menjelang perilisan album balada mereka. Kami beruntung, di tengah sesaknya jadwal Senyawa ada kesempatan untuk berbincang dengan tiap-tiap personel dan mendengar album baru mereka. Perbincangan ini dilakukan sebelum tur ke Bali dan Bandung, juga sebelum perhelatan konser mereka di bengkel las daerah Jogonalan, Bantul, Yogyakarta. Nantinya, album ini akan dihidupkan pada Yes No Klub #41 di Juanga Culture pada Jumat (10/12).

Pasca menyebarnya album Alkisah (2021) bersama 44 label rekaman indie di luar dan dalam negeri pada Februari lalu, tampaknya Senyawa masih saja gatal untuk memproduksi karya demi karya. Bagai godam menghantam dinding, kabar Senyawa sedang menyiapkan album bernuansa balada Oktober lalu menggetarkan skena musik eksperimental.

Pendengar Senyawa memang selalu menantikan eksplorasi mutakhir di setiap albumnya, tapi untuk yang satu ini siapapun pendengar belum tentu siap. Pertengahan November lalu, Rully Shabara dan Wukir Suryadi meluncurkan aplikasi streaming yang berisi dua belas syair yang dibalut musik akustik dalam album berjudul Membaladakan Keselamatan (Ballads for the Survivors).

Membaladakan Keselamatan (dok. Senyawa)

Album Membaladakan Keselamatan

Album ini bisa dibilang tidak direncanakan, melainkan hasil dari sebuah laku latihan yang organik. Mula-mula, pandemi jadi musabab. Minimnya manggung dan kocek yang mulai cekak membuat mereka urung latihan di studio. Meskipun dikenal sebagai band eksperimental, Wukir Suryadi bilang latihan adalah tulang punggung kekaryaan Senyawa.

Toh, pandemi sekalipun tak dapat memaksa dua orang ini tunduk dan diam saja. Memompa musik mereka dengan gebukan perkusi sempat dilakukan sebelum kena komplain dari tetangga. Sejak kejadian itu, mereka merespons dengan bergerak ke bentuk akustik balada yang dapat dimainkan dalam kondisi minim sound system sekalipun. Wukir Suryadi menjelaskan, proses penggodogan idenya memakan waktu hampir setahun.

“Format ini jelas eksperimen bagi Senyawa, membuat lagu kami senormal mungkin, bisa nggak? Yang lain mungkin nggak bisa membawakan musik eksperimental aneh atau noise yang mengandalkan sound effect menjadi pure. Bukan hanya akustik lho, tetapi juga balada. Itu menantangnya di situ,” terang Rully Shabara.

Sekilas eksplorasi vokal dan gitar akustik terdengar cukup sederhana. Akan tetapi hal ini justru menjadi batu loncatan yang terjal bagi sebuah band eksperimental yang eksis dan berawal dari corak musik distorsi dan noise.

Rully menegaskan, orang awam sering melihat eksplorasi Senyawa sebagai musik aneh dengan lirik yang tidak jelas. Atau, kunci dari Senyawa ada pada instrumennya, begitu juga efek vokalnya. Dengan album akustik ini, ia ingin melucuti segala definisi Senyawa yang dibangun publik selama ini. Menurut Rully, absennya eksplorasi musik dan vokal yang aneh-aneh, ternyata membawa Senyawa pada bentuk lirik dan lagu. Lebih jauh, mereka sepakat yang bisa merepresentasikan lirik dan lagu dengan murni adalah musik balada.

“Jadi selama ini [eksplorasi] itu hanya baju, karena bukan itu yang mendefinisikan Senyawa. Bukan instrumen aneh-aneh, bukan sound aneh-aneh, bukan vokal aneh-aneh, itu cuma jenis yang kita explore aja. Senyawa itu adalah Rully Shabara dan Wukir Suryadi,” pungkas Rully.

Wukir Suryadi cerita, pertama-tama tantangan dalam menggarap album ini adalah memberikan kepercayaan instrumentasinya pada senar, tabung resonansi, dan vokal Rully Shabara. Sebab, ia bilang sudah lama tidak memegang gitar bolong, apalagi menguliknya. Selama ini ia telanjur biasa dengan bambu wukir dan instrumen lain yang ia rancang sendiri lengkap dengan pedal-pedalnya.

Tentu saja, bentuk balada ini juga masih mengalami penyesuaian dengan gaya bermain Senyawa. Misalnya, Wukir mengaku tidak menggunakan tuning gitar normal dalam album ini. Ia merasa nyaman dengan bunyi gitar pada setelan yang ia temukan sendiri. Kebiasaan itu sudah ia lakukan sejak lama.

“Kepentingannya kan bukan memainkan skill yang luar biasa to, tapi bagaimana saya menyampaikan energi lewat bunyi gitar itu. Kalau dengan [tuning] itu saya merasa lebih cocok, lantas kenapa [harus] pakai konvensi yang sudah ada gitu lho, dan tidak ada yang mengharuskan pakai aturan sana to. Itu mungkin awal mindset-nya ya,” jelas Wukir dengan serius.

Segendang sepenarian, Rully Shabara juga menaruh perhatian perihal menyampaikan energi saat musik ditampilkan di panggung. Dalam album Membaladakan Keselamatan, ia yakin ketika musik akustik bertemu dengan sound system yang mumpuni dapat mengantarkan energi yang sama dengan bentuk musik Senyawa sebelumnya.

Lebih luas, ia melihat bentuk akustik justru sangat fleksibel dimainkan dalam situasi dan kondisi apapun. Menurutnya, yang berbeda dengan album Senyawa lain hanyalah pada intensitas suara. Rully Shabara toh tidak menganggap intensitas suara sebagai satu-satunya cara menyampaikan energi ke penonton.

“Ternyata Senyawa itu, asalkan aku dan Wukir yang main, apapun jenis musiknya atau instrumennya, tetap jadi. Itu sih, karena sepuluh tahun ini kami explore bagaimana kami berkomunikasi secara musikal,” ujar Rully yakin.

Secara teknis, album Membaladakan Keselamatan ini justru sangat menantang. Misalnya, instrumentasi yang diberikan Wukir dalam album ini sangat bertumpu pada teks yang dilontarkan Rully Shabara. Menurutnya, ketika teks terdengar sangat jelas, muncul rangsangan yang membuat dia memainkan notasi dengan tenaga dan kecepatan yang sesuai. Yang beda kali ini, senjatanya hanyalah sebuah gitar akustik.

“Kuncinya, ketika aku benar-benar menghayati teksnya Rully. Di sini [album] berasa banget. Ketika aku menghayati secara emosional mempermudah aku ketika memainkan tabung gitar sama senarnya,” jelas Wukir Suryadi.

Lain hal dengan Rully yang sadar tidak bisa lagi selindung di balik teknik dan efek vokal. Ia harus benar-benar bernyanyi dengan artikulasi yang jelas. Dari segi departemen vokal, lebih sulit untuk menjadi pure dan mencopot semua efek vokal yang telah ia akrabi.

Meskipun demikian, tidak pernah ada keraguan untuk mengubah haluan musik di album ini menjadi balada. Mereka selalu yakin, meskipun musiknya berubah menjadi balada, ini tetap musik Senyawa.

“Rasanya ketika jadi player itu lho, kok sama. Hawanya saat main, getarannya, energinya itu lah. Ternyata tidak terbatas juga pada gitar bolong itu lho. Ternyata bukan instrumennya, tergantung pada manusianya. Iya to?” kata Wukir Suryadi.

Tentu saja, keyakinan itu tidak ujug-ujug datang. Ada harga yang harus mereka tebus. Dalam memulai proyek ini, mereka mencoba mengalihbentukkan hampir semua lagu Senyawa ke bentuk balada. Setelah berhasil dengan sembilan belas lagu, mereka mengkurasi lebih ketat jadi dua belas lagu yang telah dirilis. Durasinya sekitar 40 menit. Walakin, sekarang jumlah lagu yang punya versi balada terus bertambah.

Menurut Wukir, pemilihan dua belas lagu itu berdasar takaran kesiapan lagu untuk dimainkan. Sebab, selalu ada satu kebakuan yang mereka kejar. Ketika itu tercapai, tahap eksplorasi dicukupkan dan segera dikemas.

“Karena kami merasa sudah nyaman bawainnya, artinya nyaman itu kan sudah ada pembakuan. Oh ini kecepatannya segini, notasinya Rully nyanyinya kayak gitu, aku ini caranya dikocok atau dipetik. Pertimbangannya adalah nyaman apa tidak aja pada saat itu,” papar Wukir di Studio Senyawa.

Album Membaladakan Keselamatan bisa jadi terdengar lebih ramah di telinga, dibanding album-album Senyawa sebelumnya. Kobaran-kobaran yang nyala di album sebelumnya, kini berubah menjadi bara yang tak kalah panas.

Dari segi judul, Membaladakan Keselamatan ternyata bukan yang pertama terlintas di benak mereka. Wukir Suryadi membeberkan, Membaladakan Keselamatan akhirnya dipilih karena dirasa cocok, pun mampu membawa hawa positif dalam kondisi belakangan ini. Sebuah harapan untuk orang tidak menjadi takut dan terus memikirkan kiamat. Bagaimanapun, secara redaksi, judul ini berbeda dengan album lainnya yang biasanya hanya terdiri dari satu kata. Sebut saja album Acaraki (2014), Menjadi (2015), Puncak (2016), dan Sujud (2018).

Setelah album Membaladakan Keselamatan dirilis beberapa waktu lalu, dengan musik demikian Wukir Suryadi membayangkan barangkali kelak ada anak muda yang meng-cover lagu Senyawa. Menurutnya, ketika itu terjadi berarti anak muda tersebut telah melalui beberapa tahapan seperti menghafalkan teks dan mencoba mencari tahu artinya. Peristiwa itu memberikan pengalaman berpikir dan memaksa mereka membayangkan sebuah gagasan yang ingin dituju Senyawa. Sekurang-kurangnya, memahami apa yang ingin disampaikan Senyawa dalam album ini.

Dari situlah, Wukir Suryadi merasa lebih penasaran bagaimana masyarakat akan menerima musik Senyawa kali ini. Ia menilai, pendengar musik Indonesia sudah sangat berkembang. Namun, ia bukan ingin menggaet sebanyak-banyaknya orang, melainkan ingin melihat respons balik dari pendengar Senyawa.

“Penasaran aku. Bagaimana anak muda mendengar itu. Kami tampil dengan bahasa musik seperti itu, jadinya musik Senyawa itu tidak sulit. Kalau selama ini musik Senyawa dibilang terlalu seni lah, terlalu segmented lah, kalau ini kan [bisa] membuka wilayah-wilayah itu,” pungkas lelaki kelahiran Malang ini.

Aplikasi Senyawa ≠ Spotify

Sekarang, siapa saja dapat mendengarkan album Membaladakan Keselamatan dalam bentuk aplikasi streaming. Tautan untuk mengunduh aplikasinya dapat ditemui di bio Instagram @senyawa_musik, cuitan Twitter @Senyawa1, atau melalui pranala senyawamandiri.com/membaladakan-keselamatan ini. Jangan lupa untuk membaca petunjuk karena aplikasi ini punya aturannya sendiri.

Aplikasi streaming Senyawa saat ini berisi musik, lirik, dan tautan ke berbagai ruang gerak Senyawa lainnya. Ke depan aplikasi ini akan diperkaya dengan foto, video, jadwal tur, dan berita tentang ekosistem Senyawa.

“Apakah kamu tahu kalau aplikasi streaming kami juga punya sosial medianya sendiri, tempat kamu dapat berbagi pesan, tapi tanpa hal omong kosong seperti following dan followers …” cuit Rully di akun Twitter-nya. Fitur yang satu ini dapat diakses ketika Anda membuat akun di aplikasi ini. Setelah itu, Anda dapat menuju pilihan forum untuk bertegur salam dengan pendengar Senyawa lainnya.

“Orang kan ribut Spotify segala macem, ya ngapain membenci Spotify, mereka kan kapitalis kok disuruh berhenti jadi kapitalis, kan nggak mungkin. Bikin aja punya kita sendiri. Ya, kira-kira gitu gagasannya, bikin streaming service sendiri,” ungkap Rully sambil tersenyum.

Sebelum ide ini terbetik, Wukir Suryadi menceritakan awalnya ia ingin album ini dapat didengarkan banyak orang. Mereka lalu mencari label lokal yang memiliki target massa yang diinginkan, tapi tak kunjung sesuai. Swarilis sempat terpikirkan, tapi urung juga dilakukan. Aplikasi dianggap paling tepat karena bisa sampai di genggaman siapapun di manapun.

Padahal di sela-sela rekaman, ada tiga label besar yang siap merilis album ini. Meski demikian, mereka tidak serta-merta mengambil jalan itu lagi. Mereka pikir dasawarsa kedua ini seharusnya menjadi tonggak untuk memulai hal yang sama sekali baru. Mereka selalu kembali melihat visi dasawarsa kedua dalam mengambil setiap keputusan.

Senyawa belum punya rencana merilis secara fisik album Membaladakan Keselamatan. Album fisik dipikir memerlukan rancangan finansial yang matang. Fokus utamanya masih di ranah aplikasi. Dari sana, mereka juga bisa memantau sejauh mana wacana ini diterima masyarakat.

Kemandirian dan Daya Hidup di Dasawarsa Kedua

Memasuki lustrum ketiga, album Alkisah didapuk menjadi tonggak awal untuk mengawali sepuluh tahun berikutnya. Menurut mereka, album ini tidak melewati eksperimen musik yang berat. Eksplorasi justru dititikberatkan pada pelepasan kepemilikannya, melepaskan kuasa. Album itu disebut bukan milik Senyawa lagi. Lagu-lagunya bebas di-remix oleh siapa saja. Saking banyaknya, hasil remix album ini sudah sulit untuk dilacak.

Senyawa sadar, ini sekaligus memunculkan wacana desentralisasi sebagai sebagai salah satu metode menyebarkan kekuasaan. Wacana itu tahap permukaan, selanjutnya Senyawa akan menggali dari mana kekuasaan itu berasal di album berikutnya.

Rully Shabara mengatakan, metode distribusi album Alkisah menarik perhatian banyak pihak. Selain jadi bahasan dalam forum diskusi, metode pendistribusian Alkisah juga jadi mata kuliah dan silabus di Oakland University.

“Nah, itu kan [eksplorasinya] di luar musik, kami masih punya sembilan tahun untuk explore itu. Intinya sudah bergeser gitu, nggak cuma ngomongin musik lagi,” tutur Rully.

Dasawarsa kedua bagi Senyawa akan menjadi tahun-tahun penuh kerja keras. Selain musik, Senyawa akan mengeksplorasi dua nilai pokok selama sepuluh tahun ke depan, yakni kemandirian dan daya hidup.

Upaya itu telah diinisiasi salah satunya dengan mendirikan Senyawa Mandiri, sebuah unit yang dibangun untuk mendukung kegiatan Senyawa. Beberapa produk yang telah mereka rilis antara lain: jamu, tembakau, sambal, selain tentu saja kaos, dan rilisan musiknya.

Senyawa percaya kemandirian perlu selaras pula dengan daya hidup. Soal daya hidup, Rully merumuskan ada tiga unsur pokok yang perlu digarisbawahi, yakni kemampuan, pengetahuan, dan keuangan. Kiranya, itulah yang akan Senyawa implementasikan ke depan.

“Ternyata, Senyawa sendiri harus tumbuh melampaui kami sebagai musisi. Kesadaran itu kami temukan di akhir dasawarsa pertama. Sepuluh tahun pertama Senyawa sibuk sebagai musisi, mencari tahu kehidupan kami berdua secara musikal. Sekarang kami sudah tidak khawatir lagi, sudah secure secara musikal. Harus apa lagi dong? Harus lebih dari itu kan berarti?” jawab Rully Shabara.

Sebagai band, Senyawa tergolong sangat sibuk. Setahun setelah mereka terbentuk tahun 2010, rentetan jadwal tur tak pernah absen dari kalender mereka. Apalagi masuk lustrum kedua di dasawarsa pertama, saat album Menjadi (2015) membuat mereka kian jarang menyentuh tanah tropis Indonesia.

Wukir Suryadi dan Rully Shabara pada salah satu panggung di periode awal Senyawa (dok. Saiful Bakri/Facebook).

“Kita kan ngomongin kemandirian. Itu kan bukan cuma skill saja, tapi bisa nggak kita hidup di dunia yang seperti ini. Mandiri di dunia yang seperti ini bisa nggak? Tetap hidup sesuai keinginan kita, sesuai prinsip kita, hidup tanpa kompromi. Tidak main dengan sponsor perusahaan besar atau main di acara pemerintah, bisa nggak? Makanya berat, itu tantangannya. Visi kita itu, kemandirian dan daya hidup, berat memang,” terang Rully dengan mata menyala.

Dalam kaitannya dengan pengejawantahan nilai kemandirian, Senyawa berharap dapat menjalani beberapa chapter Tur Nusantara. Beberapa waktu lalu, mereka baru saja pulang dari Bali dan Bandung. Rencananya, setelah menuntaskan dua panggung mereka di Yogyakarta, Senyawa akan bergerak lagi menuju Jawa Tengah bagian utara. Tentu saja bukan tidak mungkin, dalam sepuluh tahun mereka berdua berhasil menginjakkan kaki di seluruh tempat di Nusantara.

Cita-cita ini tercetus setelah sedekade kemarin Senyawa sibuk pentas di luar negeri. Namun, ternyata yang penting bagi mereka bukanlah asal keliling Indonesia. Tur Nusantara akan mempertemukan mereka dengan orang-orang yang memiliki satu visi untuk membentuk sebuah jaringan.

“Bukan berarti mereka komunitas atau organizer-organizer yang gede, tapi biasanya mereka malah kecil-kecil, biasanya malah grassroots yang paling tepat untuk merepresentasikan sebuah kota, bukan dari yang gede-gede,” tukas Rully.

Selain itu, Senyawa juga sedang menyiapkan sebuah film dokumenter dalam upayanya belajar dari kawan yang lebih memahami daya hidup dan kemandirian. Film karya Reza Darwin ini kurang lebih akan berisi perjalanan mereka menyambangi sekaligus bernyanyi ke beberapa tempat mereka belajar. Senyawa memaknai kemandirian tidak hanya secara finansial, tetapi juga pemikiran. Kabarnya, film ini sudah memasuki tahap akhir produksi, tapi belum tahu tanggal perilisannya. Teasernya sudah dapat kalian saksikan di Youtube Senyawa.

“Kita kan belum [mandiri]. Kita cuma punya visi untuk mandiri, kita tahu itu jalan yang paling tepat untuk ke depan. Kami perlu belajar, ke orang yang memang benar-benar mandiri,” jelas Rully.

Sudut Kantin Project menanyakan juga persiapan Senyawa scholarship dan venue miliknya sendiri yang sempat terlontar dalam wawancaranya dengan Vice. Rully menyayangkan hal tersebut, sebab tanpa pandemi rancangan ini mungkin bisa jalan.

“Karena duit aja, bisa sih kami ngajuin funding ke mana-mana, tapi itu jadi nggak sesuai dengan visi nantinya. Mending mundur dulu, mungkin kita belum siap sekarang, tapi nanti bisa. Jadi kami nggak akan malu bilang kok belum jadi atau gimana, ya nggak papa. Orang bisa punya mimpi besar, gagasan besar. Orang tahu, kami akan menuju ke sana,” ungkap Rully optimis.

Bagi Rully, tujuan bisa jadi bukan tujuan itu sendiri. Pasalnya, ia bisa saja ngebut merealisasikan mimpinya di dasawarsa kedua dengan berbagai cara. Namun, untuk mencapai kemandirian itu Senyawa perlu melalui proses yang benar. Untuk itu, tidak jadi masalah ketika mereka menunda atau mengatakan belum bisa mandiri 100%.

Sejalan dengan Rully, Wukir Suryadi ingin dasawarsa kedua menjadi waktu untuk belajar sambada. Dalam arti lain, Senyawa akan berkomitmen dengan apa yang mereka bicarakan. Sejauh mana, mereka bisa menjalani yang tertuang dalam teks di lagu mereka. Tak lain, ia selalu menekankan tentang daya hidup dan kemandirian.

“Kalau dari teknis sih itu ya misalnya pedal atau kabel bisa dari teman-teman sendiri. Mulai dari situ. Tapi secara nilai-nilai, falsafahnya bagaimana bisa sambada, bisa seimbang antara apa yang kami ekspresikan dengan apa yang kami jalani ke depan,” jelas Wukir.

Salah satu langkah menuju kemandirian lainnya, mereka memutuskan tidak menggunakan manajer lagi. Semua urusan rumah tangga band akan ditandangi sendiri. Setelah ini dan waktu-waktu mendatang, segala tawaran pentas yang masuk ke Senyawa akan diputuskan Rully Shabara dan Wukir Suryadi seutuhnya. Prosentasenya harus ada di angka 100%. Maksudnya, ketika salah satu ada yang tidak yakin, maka dipastikan Senyawa tidak akan mengambil tawaran tersebut.

“Itu beratnya, makanya kita bikin Senyawa Mandiri. Berat memang, tapi nggak apa. Daripada kami langsung pakai orang. Nggak apa, ada waktu sepuluh tahun kok ke depan, santai wae. Kalau aku sendiri nggak tahu caranya manajemen, gimana aku mau tahu caranya mandiri? Remuk, remuk nggak apa, tapi kan coba tahu dulu,” kata Rully sambil tertawa kecil.

Senyawa: Hubungan Manusia dan Alam

“Hubungan manusia dengan alam itu simbolnya bambu dan suara manusia. Gimana menyatukannya gitu kan,” kata Rully.

Sejak awal, Senyawa selalu menjabarkan musiknya sebagai hubungan antara manusia dan alam. Rully Shabara mengakui, dirinya dan Wukir Suryadi adalah dua pribadi yang berbeda. Sebab itu ia paham, eksplorasi sangat penting dilakukan untuk mencapai keselarasan. Lain padang lain belalang, Wukir Suryadi menerjemahkan hubungan manusia dengan alam justru sebagai laku kejujuran.

“Ketika kita jujur tanpa tendensi apapun, itu kita sudah menjadi alam kok. Kita sudah sama seperti pohon kok. Sudah sama seperti benda-benda ini. Ya udah dengan sendirinya saja, tidak ada yang memaksa kamu harus seperti ini dan itu. Yang ada adalah bagaimana aku jujur. Aku main petik ya karena aku pingin petik. Aku merasa itu sudah menjadi alam sendiri gitu lho,” tegas Wukir.

Perihal upaya menyelaraskan visi di Senyawa, Rully bilang, ia dan Wukir harus mengeksplor dua hal yang berbeda. Tujuannya, ketika mereka sedang bertemu dalam Senyawa, keduanya dapat memberikan masukan yang berbeda. Harapannya, Senyawa akan jadi wadah yang semakin kaya. Mereka berdua memang saling mengimbangi dalam berbagai urusan.

Kali pertama Rully Shabara nimbrung di panggung Wukir Suryadi pada acara Yes No Klub #3 2010 (dok. Yes No Klub)

Rully misalnya, membutuhkan Wukir untuk menariknya ke dalam realitas yang terjadi sekarang. Sementara Wukir membutuhkan Rully untuk memikirkan narasi ke depan. Dalam kaitannya dengan sinergi mereka berdua, Rully menegaskan, menjadi berbeda itu justru sangat penting. Di luar itu, Wukir Suryadi lebih teliti ketika bicara teknis sound. Wukir kerap memberikan masukan perihal bebunyian yang mereka rancang. Kompartemen teks, biasanya diserahkan seluruhnya kepada Rully Shabara. Walau begitu, Wukir tak jarang juga ikut urun pendapat. Laku seperti ini selalu organik mereka lakukan dalam proses latihan yang dibilang tidak pernah putus.

Dasawarsa kedua, kita akan melihat Senyawa tumbuh menjadi sebuah entitas yang lebih utuh. Wukir Suryadi dan Rully Shabara telah mencapai sebuah tahapan berbeda dari yang telah mereka capai di waktu sebelumnya. Kiamat tidak hanya dekat, bahkan sudah dilalui dan tak membuat Senyawa tunduk.

Sekarang, kiamat sudah lewat!

 

*) Download SKP Zine #1 Senyawa Issue [PDF]

 

Penulis: Agustinus Rangga Respati dan Arlingga Hari Nugroho
Editor: Andreas Yuda Pramono
Foto sampul: Andi Afro

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Related Posts