Najawa: Ketika Komik Memilih Jalanan

‘Najawa: A Story of Palestine’ membuktikan bahwa komik dapat menjelma menjadi ruang edukasi, dialog, bahkan ruang kesaksian yang hadir di tengah kehidupan sehari-hari.

Ada kebiasaan yang hampir selalu kita lakukan ketika membaca komik; kita mengambil sebuah buku, membuka halaman pertama, lalu membiarkan mata bergerak dari satu panel ke panel berikutnya hingga cerita selesai. Seluruh pengalaman membaca berlangsung di tangan kita. Buku dibuka, halaman dibalik, sampai akhirnya ditutup kembali. Kebiasaan ini tidak berlaku ketika kita berhadapan dengan Najawa: A Story of Palestine.

Pada musim panas 2015, Michelle Sayles bersama Jen Berger dan kelompok Vermonters for Justice in Palestine membentangkan komik sepanjang 45 kaki atau sekitar 13,7 meter di ruang publik Vermont. Komik itu mengisahkan kehidupan seorang perempuan Palestina bernama Najawa, sejak keluarganya terusir dari Lydda pada peristiwa Nakba 1948 hingga sebuah bayangan tentang kebebasan di masa depan. Jalan yang biasanya menjadi ruang lalu-lalang berubah menjadi halaman, sementara langkah kaki pembaca menjadi cara mengikuti perjalanan hidup seseorang. Menurut saya, di situlah letak kekuatan karya ini.

Najawa: A Story of Palestine

Pilihan bentuk ini mungkin menjadi hal pertama yang menarik perhatian. Komik tidak lagi dibatasi oleh ukuran buku atau panel-panel yang dibaca dari kiri ke kanan. Pembaca harus bergerak mengikuti bentangan cerita yang disusun secara kronologis. Setiap beberapa meter dari panel komik tersebut membawa mereka berpindah ke dekade berikutnya: masa kecil Najawa di kamp pengungsian al-Jalazun, keterlibatannya dalam demonstrasi, kehidupan sebagai ibu di bawah pendudukan, hingga generasi berikutnya yang tumbuh bersama pos pemeriksaan dan tembok pembatas. Pengalaman membaca pun berubah. Sejarah tidak hanya dibaca, tetapi juga ditempuh.

Pengalaman fisik ini menjadi keputusan artistik yang menarik. Pada komik cetak, pembaca memiliki kendali penuh atas ritme membaca: mereka bebas melompati halaman, kembali ke panel sebelumnya, atau berhenti kapan pun. Pada Najawa, ritme itu justru ditentukan oleh ruang. Tubuh pembaca ikut menjadi bagian dari narasi. Semakin jauh mereka berjalan, semakin jauh pula waktu bergerak. Dengan cara ini, perjalanan sejarah tidak lagi hanya dipahami secara klise, tetapi juga dirasakan melalui gerak tubuh yang sederhana: melangkah.

Pilihan medium ini terasa sejalan dengan cerita yang ingin disampaikan. Kehidupan Najawa bukanlah kisah yang selesai dalam satu peristiwa, melainkan pengalaman panjang yang terus bergulir selama puluhan tahun. Bentangan komik memaksa pembaca merasakan bahwa waktu berjalan lambat, bahwa sejarah tidak pernah berhenti hanya karena sebuah bab telah usai.

Hal menarik lainnya adalah  Najawa tidak berusaha menjelaskan tentang penjajahan Israel terhadap Palestina secara menyeluruh. Michelle Sayles justru memilih jalan yang lebih sederhana: mengikuti kehidupan satu orang. Peristiwa-peristiwa besar seperti Nakba, Perang Enam Hari, Intifada Pertama, hingga kekecewaan terhadap Proses Oslo hadir bukan sebagai kronologi politik, melainkan sebagai pengalaman sehari-hari. Pembaca tidak diajak menghafal tanggal atau statistik, tetapi menyaksikan seorang anak yang tumbuh di kamp pengungsian, seorang perempuan yang belajar menjadi guru sambil turun ke jalan, seorang ibu yang dihantui penggerebekan malam, hingga seorang nenek yang tetap menggenggam kunci rumah lamanya. Di tangan Michelle Sayles, sejarah menjadi sesuatu yang memiliki wajah.

Pendekatan semacam ini memperlihatkan salah satu kekuatan komik yang sering kali luput dibicarakan. Selama ini komik lebih banyak diasosiasikan dengan hiburan, fiksi, atau budaya populer. Padahal, perpaduan gambar dan teks memungkinkan pengalaman yang berbeda dari laporan jurnalistik atau buku sejarah.

Komik memberi ruang bagi pembaca untuk berhenti pada satu panel, membaca ulang ekspresi tokohnya, memperhatikan perubahan lanskap, atau sekadar membiarkan satu gambar bekerja lebih lama daripada satu paragraf narasi.

Dalam Najawa, panel-panel sederhana justru menjadi cara untuk menunjukkan bagaimana sebuah tempat berubah dari dekade ke dekade. Rumah-rumah menghilang, permukiman baru bermunculan, tembok pembatas berdiri, sementara tokohnya terus menua. Tidak banyak kata yang dibutuhkan untuk membuat pembaca memahami bahwa perubahan lanskap juga berarti perubahan hidup.

Pilihan menjadikan karya ini sebagai street comic semakin memperkuat pengalaman tersebut. Komik tidak lagi hadir sebagai benda yang dimiliki secara personal, melainkan sebagai bagian dari ruang publik. Orang dapat berhenti sejenak, membaca beberapa panel, berdiskusi, lalu melanjutkan langkahnya. Dalam konteks itu, komik menjadi lebih dekat dengan mural, poster, atau instalasi seni dibandingkan buku yang disimpan di rak perpustakaan.

Karena itu, akan terlalu sederhana jika Najawa hanya dipahami sebagai komik aktivisme. Kekuatan karya ini tidak hanya terletak pada isu yang diangkat, tetapi juga pada keberanian Michelle Sayles memanfaatkan medium komik hingga melampaui bentuk yang selama ini kita kenal. Bentangan sepanjang hampir empat belas meter bukan sekadar keputusan estetis, melainkan bagian dari cara bercerita. Bentuk dan isi saling menguatkan; pengalaman membaca menjadi bagian dari narasi itu sendiri.

Najawa: A Story of Palestine menunjukkan bahwa komik tidak harus selalu berakhir sebagai buku yang dijual di toko. Ia dapat menjelma menjadi ruang edukasi, ruang dialog, bahkan ruang kesaksian yang hadir di tengah kehidupan sehari-hari.

Najawa meninggalkan dua pertanyaan besar: jika komik mampu menjadi medium dokumentasi dan advokasi di ruang publik, adakah ruang bagi praktik serupa untuk tumbuh di Indonesia? Di tengah maraknya komik digital dan industri kreatif yang semakin berorientasi pasar, mungkinkah kita melihat lebih banyak komik yang hadir sebagai arsip sosial menceritakan sejarah lokal, konflik agraria, atau pengalaman komunitas dan dibaca bukan di layar atau rak buku, melainkan di jalan, di tembok kota, atau di ruang-ruang publik yang memungkinkan lebih banyak orang bertemu dengan cerita?

Najawa tidak sedang menawarkan jawaban. Ia hanya memperlihatkan bahwa komik masih memiliki kemungkinan-kemungkinan yang belum sepenuhnya kita jelajahi.

This project is also available as a downloadable zine:  Najawa Zine


Editor: Hifzha Aulia Azka
Foto Sampul: michellesayles.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Antek Asing: Kumpulan Puisi Aryatama

Related Posts