Dongeng Garin Nugroho dan Seniman, Cegah Korupsi

Kondisi pandemi kerap kali membuat kandas proyek-proyek pelaku seni dalam melakukan pentas atau pameran, tapi tidak untuk Garin Nugroho. Ia tak menyerah pada situasi. Namun, jika pelaku seni lain beralih ke pentas yang digelar langsung secara daring, Garin memilih untuk merekam pentas teater musikal dengan menggunakan teknik-teknik layaknya membuat film.

Film dengan konsep teater musikal berjudul “Dongeng Kala Pandemi: Ayun Ayun Negeri“ ini diputar di Kedai Kebun Forum hari Minggu (29/10). Pemutaran film teater musikal hasil kolaborasi dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ini juga termasuk salah satu rangkaian perhelatan Jogja-NETPAC Asian Film Fesitval (JAFF) 2020.

Kisah dongeng dimulai dengan seorang juru pengarah perempuan yang ingin menceritakan riwayat bangsa Indonesia dari era Revolusi Industri 1.0 hingga saat ini. Juru pengarah bertemu dengan juru naskah dan tersadar kalau setiap perkembangan teknologi, alih-alih membawa harapan untuk kehidupan yang lebih baik. tetapi malah menimbulkan banyak tragedi korupsi di mana-mana. Dikarenakan hal tersebut, juru pengarah perempuan dan juru naskah pada akhir pentas memilih meninggalkan panggung, pergi berkeliling negeri untuk mendengar suara rakyat.

Selama pementasan, kerap kali ditunjukkan baik secara eksplisit ataupun implisit sindiran-sindiran untuk para penguasa yang rakus. 

“Dongeng dan festival adalah perpaduan seni melawan korupsi. Korupsi harus dilawan dengan berbagai cara,” ungkap Direktur Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat (Dikyanmas) KPK, Giri Suprapdiono.

Giri juga berharap lewat kerja sama dengan seniman kali ini dapat menyampaikan pesan-pesan strategi pencegahan korupsi. 

Selain perwakilan dari KPK, pemutaran film kali ini juga dihadiri oleh para pemain dan pendukung pementasan seperti Paksi Raras, Sekar Sari, Jamaludin Latif, dan juga pemain musik dalam film Gabriella Fernandez. 

Para pemain menceritakan bagaimana mereka terheran-heran dengan pola kerja bondowoso membangun candi. Paksi dan Sekar yang dihubungi untuk bergabung dalam proses ini mengaku terkejut dengan pola kerja kru di dalamnya. Pasalnya, semuanya dikerjakan dengan cepat dan penuh improvisasi ketika proses syuting.

Senada dengan para pemain, asisten sutradara Jamaludin Latif mengungkapkan, proses pembuatan naskah sampai syuting tidak memakan waktu lebih dari 2 bulan.

“Bahkan proses syuting itu cuma 2 hari doang, masih banyak improve lagi,” ungkapnya sambil terkekeh mengingat kejadian tersebut. 

Namun para pemain dan tim pendukung merasa puas dan mendapat banyak pengalaman setelah menjalani proses ini.

Rencananya film ini juga ditayangkan lewat kanal Youtube KPK dan TVRI pada tanggal 8 Desember 2020 pukul 19.00 WIB. Harapannya, pemutaran film ini dapat menjadi bahan pertimbangan ketika masyarakat mengikuti Pilkada serentak esok harinya.

 

Editor: Agustinus Rangga Respati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Related Posts