NU-SA-MA-TRA: Pameran Seni Rupa untuk Semua Kalangan yang Menyenangkan

Melalui pameran ‘Nusamatra’, anak-anak dan pengunjung dewasa yang baru mengenal seni rupa diajak kembali untuk bersenang-senang dan memahami wacana dengan cara sederhana.
Suasana pameran NU-SA-MA-TRA di Jogja National Museum, Yogyakarta (dok. istimewa)

Yogyakarta bagi sebagian orang hanya sebuah tempat singgah lalu setelahnya berpindah, beberapa menetap dan menempuh jalan ninja dengan hidup melalui seni. Konon katanya berkesenian di Jogja menjanjikan, bisa menjadi arena sekaligus gerbang mulus menuju karir seni yang lebih baik. Setelah saya pikir-pikir, semua orang yang berkesenian di Yogyakarta memang mendapatkan privilege besar dibandingkan daerah-daerah lain di Indonesia.

Bahkan Jogja masih dominan di antara kota-kota lain yang dikenal juga sebagai lahan subur tumbuhnya seni rupa, seperti Bali, Bandung, atau Jakarta. Jogja juga banyak mengambil peranan terhadap sejarah seni rupa Indonesia, para seniman-seniman yang dikenal sebagai maestro hari ini pun tinggal dan berkesenian di sini. Ditambah memiliki sekolah dan perguruan tinggi seni bergengsi seperti SMSR dan ISI, sungguh kota dengan jargon “istimewa” ini terasa mempunyai dunianya sendiri. Sehingga semua insan kreatif terasa berkumpul hanya di satu tempat saja.

Bisa jadi hal ini juga yang membuat para orang-orang kreatif dari Flip Flop TV ingin mengembangkan dan memperkenalkan platform mereka di Yogyakarta. Pemilihan Jogja sebagai kota pertama untuk launching tidak terlepas dari banyaknya seniman, sineas, kreator, dan film-film terbaik lahir. Flip Flop TV yang mengutamakan budaya dan kearifan lokal tampaknya memilih kota yang tepat, karena Jogja identik dengan hal tersebut.

Membahas tentang Flip Flop TV, saya mendapat kesempatan untuk menyaksikan langsung acara launching dan pameran mereka. Jogja National Museum (JNM) tampak berbeda dari biasanya, banyak anak-anak dan remaja yang mengunjungi bangunan bersejarah seni rupa ini. Penjagaannya ketat dan akses masuk yang tidak lagi bebas, saya ber-positive thinking, mungkin saja karena acara yang akan saya datangi ini akan ada pertunjukan musik dengan tamu pejabat dan artis terkenal, sehingga treatment-nya sedikit berbeda dari acara-acara seni yang biasa.

Jogja National Museum selama tanggal 20-21 Desember 2022 diisi oleh grand launching sebuah kanal streaming yang bernama Flip Flop TV. Platform ini tidak bisa dikatakan baru, karena sudah ada sejak tahun 2020. Namun akibat dari pandemi, media yang mewadahi karya dan konten kreator lokal tanah air ini terhalang aktivitasnya. Sebagai wadah untuk industri film, Flip Flop TV ingin menjadi tempat para sineas untuk menampilkan karya-karya mereka di tengah maraknya film luar dan platform nonton sejenis.

Acara launching dimeriahkan oleh Ndarboy Genk, Enda Ungu & Zara, Kukuh Kudamai, Hifdzi Khoir dan pameran seni rupa. Pada Rabu (21/12) siang, acara dihadiri oleh anak-anak pesantren dan panti asuhan, mereka memakai atribut masing-masing dan ditemani oleh para pemuka agama. Turut hadir pula Ustadz Maulana, Kak Seto, Hanung Bramantyo, Djenar Maesa Ayu, dan Para Suster yang senantiasa mengarahkan anak-anak untuk mengikuti rangkaian kegiatan. Acara yang dikhususkan untuk anak-anak sendiri terdiri dari menonton film, menonton pertunjukan musik, mengikuti kuis berhadiah, dan mengunjungi pameran. Anak-anak bebas bermain sambil mengapresiasi karya seni di Pameran NU-SA-MA-TRA yang tepat berada di samping panggung utama JNM Bloc.

NU-SA-MA-TRA, Pameran Karya Kolaborasi Lintas Personal dan Kolektif

Pameran NU-SA-MA-TRA (Nusamatra) merupakan bagian dari rangkaian acara grand launching Flip Flop TV di Pendopo Ajiyasa, Jogja National Museum. Pameran ini memamerkan karya seni hasil kolaborasi seniman kolektif dengan dasar edukasi anak serta menjadi gerbang baru anak untuk menjelajah Nusantara dalam ragam rupa. Seni di sini juga bisa menjadi wahana bermain, belajar untuk membuka wawasan tentang seni secara sederhana. Pameran ini kembali menegaskan seni juga bukan milik kalangan tertentu, ia merangkul semua orang terutama anak-anak dengan menghadirkan hal-hal yang tidak asing baginya.

Pameran ini dikuratori oleh Huhum Hambilly, nama ini sudah tidak asing bagi orang-orang yang berada di lingkup publikasi sosial media berbasis seni. Huhum merupakan orang di balik kesuksesan toko buku online dan platform informasi seni terbesar yaitu Buku Seni Rupa. Ia juga aktif menjadi penulis dan beberapa kali terlibat dalam tim pameran bergengsi di Jogja. Acara semakin lengkap dengan dihadiri oleh Kak Seto, seorang psikolog, influencer, dan Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia.

Pameran ini menampilkan karya dari 6 seniman, yaitu Agan Harahap x Broken Pitch, Anang Saptoto, Mbah Atemo Wiyono & Hanafi K Sidhartha, Sekawan Project, Studio Foto Kilat 56, dan Tempa. Karya-karya yang dipilih dominan bersifat interaktif dan membutuhkan respon dari pengunjung, semua orang bisa eksplorasi dan semua orang bisa berkenalan dengan produk seni maupun instalasi. Antusiasme anak-anak yang mengikuti rangkaian acara Flip Flop TV terlihat dari keseruan mereka dalam mengapresiasi karya-karya seni ini.

Salah satu spot paling ramai pada pameran Nusamatra adalah karya Sekawan Project dengan Museum Nostalgia. Wahana-wahana permainan yang klasik dan interaktif dihadirkan oleh kolektif ini, mengingatkan kita akan permainan tradisional anak 90-an, namun tetap mengedepankan sisi artistiknya. Terdapat berbagai permainan, salah satunya engklek, yang apabila berhasil dimainkan akan mendapat hadiah seperti jajanan atau mainan. Selain itu ada juga instalasi berbentuk awan dengan kaleng-kaleng yang mengeluarkan suara. Ada juga permainan bakiak yang sayang jika dilewatkan bagi pengunjung yang datang bersama anggota keluarga, permainan ini bisa melatih kekompakan tanpa harus membayar mahal.

Masih dengan karya yang mengusung kearifan lokal, karya berjudul Kerja Kebudayaan, Adhang-adhang Tetese Embun oleh seniman Mbah Atemo Wiyono, Nasirun, Khocil Birawa, HK Sidhartha, Balance Perdana Putra, Joni Asman, dan Greg Usanta berupa wayang kertas, permainan tradisional, dan lukisan juga turut dihadirkan. Pengunjung bisa memainkan wayang-wayang kertas dan menjadi dalangnya sendiri. Wayang ini diolah dari limbah, sehingga selain memperkenalkan seni-budaya dan pengolahan limbah, anak-anak juga diberi pengenalan untuk cinta lingkungan.

Tidak kalah menarik, Anang Saptoto turut berpartisipasi dengan karya berjudul Panen apa hari ini: Kelompok Tani Kota, Wujud Ketahanan Pangan Keluarga. Anang dikenal sebagai seniman dengan karyanya yang bercerita tentang ekologi dan hak asasi manusia. Pada pameran ini karya yang dihadirkan antara lain fotografi, mural, mading. Anang juga membuat lokakarya dengan disediakannya meja dan kursi serta berbagai alat tulis dan gambar.

Para pengunjung diajak untuk berpartisipasi dalam karya interaktif Mading Kartu Pos Jalin Sahabat, kartu pos ini nantinya akan dikirim ke anak Taman Baca Masyarakat Cianjur. Pengunjung diberi kebebasan untuk menghias atau menulis apa saja yang akan ditujukan kepada anak-anak. Selain Anang, Lokakarya juga dihadirkan oleh kolektif Tempa dengan judul Cosmic Pattern Series, karya berjudul yang sama juga pernah dihadirkan pada Pameran ARTJOG Juli yang lalu. Pengunjung bisa mendapat pengalaman dan belajar membuat desain totebag khas ala Tempa selain bisa melihat karya aslinya.

Jika ingin membawa buah tangan sebagai kenang-kenangan, terdapat Studio Foto Kilat 56 yang menyediakan gerobak foto dengan proses cetak analog yang bisa pengunjung bawa secara cuma-cuma. Di tengah ramainya kamera handphone yang mumpuni untuk foto bahkan video, tentu pengalaman seperti ini dapat membangkitkan memori-memori lama saat berfoto bersama keluarga. Apabila masih kurang, bisa ke supermarket karya Agan Harahap x Broken Pitch berjudul Garden Fresh: a Shop for the tiger, spot pameran ini terdiri dari kumpulan celengan bergambar harimau, lengkap seperti etalase supermarket dan lemari pendinginnya. Pesan karya ini tentang satir dunia konsumsi dan hasrat manusia, celengan kaleng ini bisa dibawa pulang sebagai buah tangan.

Melalui pameran ini, anak-anak dan pengunjung dewasa yang baru mengenal seni rupa diajak kembali untuk bersenang-senang dan memahami wacana dengan cara sederhana. Akhir kata, berbagai jenis karya kolaborasi antar seniman pada pameran Nusamatra memang terlihat seperti ruang hidup dan bisa disepadankan dengan istilah Nusantara, versi seni rupa.

Editor: Tim SudutKantin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts