Rilis Album ‘Sonic/Panic’ di Jogja Sebagai Wahana Alternatif Gaungkan Persoalan Krisis Iklim

Bersama Nova FIlastine, Made Mawut, Iksan Skuter, dan Navicula, FSTVLST gelar peluncuran album kompilasi krisis iklim ‘sonic/panic’ di Jogja.

Dalam rangka mempromosikan album kompilasi ‘sonic/panic’ dan tekad untuk terus menyuarakan kesadaran akan krisis iklim, grup musik FSTVLST gelar perilisan album bertajuk sonic/panic di Jogja. Bersama ekosistem yang tumbuh di studio kreatif LIB, acara ini diselenggarakan pada 2 Desember 2023 di LIB, Jalan Kaliurang KM 14, Yogyakarta.

Acara ini menampilkan lima dari 13 musisi yang turut berkontribusi dalam album ‘sonic/panic’. Mereka adalah Iksan Skuter, Navicula, FSTVLST, Nova Filastine, dan Made Mawut.

Gede Robi dari grup musik grunge Navicula menceritakan bagaimana album kompilasi tersebut mulai digerakkan sendiri oleh teman-teman musisi yang sudah memiliki spirit yang sama. Proses ini diawali dengan rangkaian workshop di Bali untuk memberikan gambaran besar tentang isu lingkungan yang sedang dihadapi hari ini.

“Ini adalah isu yang serius. Bukan hanya musik, melainkan kampanye dalam sebuah kolaborasi musik. Sebelum menyuarakan isu iklim, kami membahas isu global dulu. Karena project ini menggabungkan musik dan activism. Pasti kita mulai dari teman-teman yang punya spirit yang sama,” kata Robi saat sesi Temu Pers di LIB, Sabtu (2/12).

Robi juga menambahkan, bahwa penyebab adanya isu lingkungan adalah karena kita terlalu banyak mengambil dan sedikit mengembalikan.

Sesi temu pers bersama Farid Stevy (FSTVLST), Nova Ruth, Gede Robi (Navicula), dan Maya Larasati (LIB) (dok. LIB/Nein Raka)

“Dasar pemikirannya adalah sebagai anak ibu bumi dan juga sebagai seniman dalam industri musik, apa yang bisa musik lakukan untuk mengembalikan yang sudah kita ambil dari ibu bumi. Caranya nggak muluk-muluk, melalui [edukasi] followers, melalui suara dari microphone, dan melalui karya yang bisa menggerakkan hati orang-orang,” lanjut Robi.

Hal senada juga diutarakan oleh Nova Ruth dari Arka Kinari. Pengalamannya berlayar menggunakan kapal pun tak membuatnya lelah menyebarkan gerakan cinta alam. Melalui musik, Nova Ruth percaya dapat memberi semangat menuju sikap optimisme.

“Ketika isu lingkungan digerakkan, pasti akan ada rasa lelah yang membuat semangat merosot. Penawarnya adalah musik. Ketika capek, dengarkan musik. Para musisi menjadi penyemangat untuk merubah perasaan pesimis menjadi optimis,” kata Nova Ruth.

‘sonic /panic’, merupakan album perdana dari Alarm Records, yang menampilkan kompilasi 13 lagu dari 13 musisi Indonesia dengan genre yang beragam, mulai dari hip-hop, rock, blues, elektronika, reggae, pop, hingga musik dunia.

Album ini menghadirkan keberagaman suara yang disatukan oleh satu tujuan: panggilan mendesak untuk aksi iklim. Lagu-lagu dalam album ini mengajak pendengar untuk menghadapi kenyataan kerusakan lingkungan, menyoroti kondisi kritis iklim planet ini, dan menekankan kebutuhan mendesak untuk mengambil tindakan.

Penampilan Nova Filastine di pertunjukan musik “sonic/panic di Jogja” (dok. LIB/Nein Raka)

Sebagai tuan rumah, Farid Stevy menyampaikan bahwa isu krisis iklim memang penting untuk dapat dibicarakan oleh banyak orang. Setelah peluncuran album kompilasi ‘sonic/panic’ di Bali awal bulan November lalu, kampanye ini berlanjut hadir di Jogja dengan pertunjukan musik oleh para musisi.

“Selain karena FSTVLST terlibat dalam pembuatan album, kami di LIB melihat bahwa isu krisis iklim tidak hanya penting tapi juga mendesak dibicarakan,” ujar Farid Stevy mewakili FSTVLST dan LIB.

Bagi Farid Stevy, acara semacam ini justru menjadi kesempatan yang menyenangkan untuk dapat membuka peluang membangun kesadaran atas isu krisis iklim terhadap jejaring kerja yang telah dibangun oleh FSTVLST dan LIB.

Meskipun telah aktif dikampanyekan melalui jaringan digital oleh Music Declare Emergency Indonesia, menurutnya acara semacam ini juga patut dihadirkan di Yogyakarta dalam wujud pertunjukan musik. Terdapat aktivasi lainnya yang menemani acara sonic/panic di Jogja, seperti menggandeng seniman lokal dengan live handpoke tatto oleh ibob hariatmoko dan live sablon kaos oleh SURVIVE!Garage.

“Bagaimana kita bisa berkontribusi dalam hal-hal kecil untuk berbakti dan berterima kasih kepada alam. Itu adalah hal-hal baik yang harus terus ditularkan, Salah satunya dengan acara seperti ini di LIB,” sambung Farid Stevy.

Lebih jauh, Farid Stevy juga menegaskan bahwa ekosistem yang terbangun di LIB membuka segala kemungkinan untuk berdialog tentang keresahan dan isu-isu yang sesuai bersama kawan-kawan muda lintas generasi.

Sebelumnya, Indonesia menjadi negara Asia pertama yang tergabung dalam gerakan global bernama Music Declares Emergency. Gerakan yang eksis dengan slogan “No Music on a Dead Planet”, menjadi sebuah kampanye tentang perhatian kepada krisis iklim.

Beberapa musisi dunia yang turut mendukung Music Declares Emergency antara lain Billie Eilish, Thom Yorke dari Radiohead, Massive Attack, Jarvis Cocker dari Pulp, Kevin Parker dari Tame Impala, dan lain-lain.


Editor: Arlingga Hari Nugroho
Foto sampul: LIB/Nein Raka

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts