Zizaluka Project: Menyimak Eksistensialis dari Kaum Terabaikan

“Bukankah kau dulu selalu membelanya? Katamu seorang teaterawan besar bernama Peter Brook bilang: ‘Teater akan menjadi tempat dimana orang-orang dapat memahami misteri-misteri suci alam semesta”

Berdiri pada tahun 2022, Zizaluka Project mengenalkan dirinya sebagai ruang kerja inisiatif yang berfokus pada seni pertunjukan. Terdiri dari Ihsan Kurniawan, Aldo Andriansyah, Muhammad Ibnu Shohib, Muhammad Ramdan, Ikbal Maulana Aziz, dan Marcella Nursalim. Zizaluka Project muncul dengan produk kolaborasi pertamanya bersama penulis Andi SW. 

Mencoba beralih dari seni pementasan konvensional (seperti realis, surealis), Zizaluka Project memilih naskah yang lebih tidak terstruktur, bahkan bisa dibilang absurd dalam prakteknya. Dengan memilih naskah teater dan puisi karya Andi SW yang berjudul “Energi Bangun Pagi Bahagia“. Menurut Ihsan Kurniawan, Zizaluka Project berfungsi sebagai media eksplorasi bagi semua orang yang tergabung di dalamnya, baik aktor, sutradara, artistik, dan semua individu yang tergabung dalam project ini, terutama dalam dunia teater. 

Zizaluka Project membawakan karya puisi yang dikemas dalam bentuk seni teater pada pertunjukan kolaborasi pertama dengan judul “Bangun Pagi Bahagia” yang ditampilkan di IFI LIP Yogyakarta pada tanggal 2-3 Desember 2022. Menariknya, pementasan ini dijadwalkan dua kali sehari selama dua hari dengan jadwal pertunjukan pada jam 3 sore dan jam 7 malam. 

Ihsan menjelaskan bahwa naskah dalam teks “Bangun Pagi Bahagia” terbagi menjadi dua jenis, pertama adalah dialog yang biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan sebuah teks puitis. Dalam proses kreatifnya, Ihsan selaku sutradara pementasan menceritakan kesulitan yang Ia alami dalam mentransfer esensi dan pemaknaan teks “Bangun Pagi Bahagia” menjadi sebuah pertunjukan dan bagaimana mengolah hal itu dengan mencari padanan-padanan yang hampir sama untuk semua aktor yang akan menampilkan pentas teater tersebut.

“Bangun Pagi Bahagia” menceritakan kisah tentang tiga remaja, Bas, Frank, dan Bob yang tumbuh besar di jalanan Jogja. Cerita ini berfokus pada hubungan persahabatan tiga orang remaja yang masing-masing saling memiliki ambisi berbeda, namun tetap bergerak bersama dan mentolerir perbedaan satu sama lain. Tokoh Bas mempunyai cita-cita menjadi seorang penyair jalanan, Tokoh Frank sebagai seorang seniman teater, dan Tokoh Bob yang ingin mati muda, tapi bukan dengan bunuh diri. Latar belakang pentas ini mengambil situasi reformasi tahun 1997-1998, saat era Soeharto lengser dari jabatanya selama 32 tahun berkuasa.

Pertunjukan dimulai dengan penjelasan latar belakang dari setiap karakter tokoh. Diawali dengan karakter tokoh Bas yang bersahabat dengan batu, lalu diusir oleh ibunya dari rumah karena kemiskinan, karakter tokoh Frank yang seorang anak haram dari ayahnya dan tidak diakui oleh ayahnya sendiri, dan karakter tokoh Bob adalah anak yang ditinggal mati oleh neneknya sehingga memiliki cita-cita untuk mati muda. Penceritaan background setiap karakter dibawakan secara unik dengan menggunakan proyektor yang menampilkan visualisasi fragmen bergerak untuk lebih membangun suasana penonton dan live streaming close-up para pemain yang disiarkan langsung sebagai background pada setiap kisahnya. 

Mengisahkan tentang tiga remaja biasa yang berusaha untuk mencari uang di kota neopolitan. Bas, Frank, dan Bob bekerja sebagai tour guide dan belajar bahasa Inggris untuk bertahan hidup. Dialog-dialog tentang sulitnya hidup dan mencari uang di kota diselingi dengan humor-humor ringan, tembang-tembang daerah, dan pembicaraan ngalor-ngidul semakin membuat para penonton tertawa gelak saat menontonnya. 

Kemudian babak cerita berlanjut pada tahun 1998 saat terjadinya reformasi.

Dengan memfokuskan lakon cerita pada orang-orang biasa yang terabaikan dan tidak dianggap oleh sejarah yang suara mereka tidak berarti apa-apa untuk orang-orang disekitarnya. Lalu, adegan berlanjut dengan menggiring asumsi ke para penonton bahwa Bas dan Frank akan ikut berjuang dalam gerakan reformasi dan membawa serta perubahan. Potongan dialog seperti “Sejarah ada di tangan kita!” dilontarkan oleh Bas, bahkan kelas belajar politik pun diikuti oleh Bas dan Frank. Diselingi dengan adanya adegan Bob yang menolak mengikuti kelas belajar politik, namun malah membunuh orang yang menghina idolanya “Soeharto”.

Banyak tanda-tanda semiotik yang ditunjukkan pada pementasan ini, salah duanya terdapat adegan penggunaan pedang mainan dan sarung tangan biru. Walaupun pada akhirnya mereka mengikuti gerakan reformasi dengan berjualan kebutuhan-kebutuhan para pendemo seperti ikat kepala perjuangan. Situasi menjadi genting saat dikerumunan para pendemo Bob berteriak “Hidup Soeharto!” dengan harapan mati muda untuk dibunuh, malah Bob diabaikan oleh massa pendemo di sekitarnya. 

Cerita berakhir dengan Bas yang ditinggal oleh Bob dan Frank. Mereka berdua memilih pergi untuk menikah dengan wanitanya masing-masing dan mengejar impian mereka yang sudah kembali berganti. Bob ingin menjadi tukang jagal sapi dan Frank sebagai pengusaha odong-odong. Sedangkan Bas?  tentu saja Ia masih bertahan pada idealisnya dan bercita-cita untuk “Bangun Pagi Bahagia” menguasai dirinya sendiri dan setiap bagian tubuhnya, mulai dari rambut, mata, hidung, pipi, bahkan sampai kemaluan dan membuatnya ‘bangun pagi bahagia’

Pertunjukan “Bangun Pagi Bahagia” dikemas secara menarik dengan plot dan karakter yang tercipta dari puisi-puisi karya Andi SW. Mulai dari penataan artistik yang menggunakan kain transparan, permainan lampu yang dinamis, iringan musik secara langsung, serta penggunaan properti-properti yang tidak biasa (seperti mainan pedang-pedangan dan palu bunyi) membuat penampilan teatrikal ini unik serta menarik untuk ditonton.


Editor: Tim Editor Sudutkantin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts