Walking Tour, Alternatif Wisata di Dieng

Kalau pergi ke Dieng, Jawa Tengah dan tidak terlalu menggemari tracking naik gunung, Anda masih memiliki banyak pilihan tempat wisata. Dieng memang tidak hanya terdiri dari puncak-puncak gunung yang indah, tapi juga warisan kebudayaan seperti mata air, candi, dan tentu saja kehidupan masyarakatnya adalah hal yang menarik disimak.

Beberapa hari lalu, tepatnya Minggu, 19 September, saya berkesempatan mengikuti walking tour bersama Dieng Travel dari Tani Jiwo Hostel.

Tuk Bima Lukar | Foto Sinlu Adji

Tuk Bima Lukar menjadi tujuan pertama kami. Mata air ini berada sangat dekat dengan jalan raya. Anda bahkan bisa parkir di tepi jalan, dan tinggal turun ke bawah untuk sekadar membasuh wajah atau melepas dahaga. Tuk ini terdiri dari dua pancuran berbentuk makara, hewan mitologi Hindu yang menyerupai buaya dengan belalai gajah. Airnya dipercaya dapat membuat awet muda. Anda bahkan bisa langsung meminum air dari tempat ini.

Air di Tuk Bima Lukar terus berjujuh, tidak pernah kering walau kemarau panjang datang. Mata air ini dipercaya telah ada sejak abad kedelapan. Dari namanya, mata air ini berarti Bima yang telanjang. Telanjang di sini artinya ia melepaskan sabuk bahu dan sabuk pinggangnya. Ia hanya membimbit kain dan mandi di mata air ini.

“Bima mandi di Tuk ini untuk memulai pekerjaan besar, yakni membangun Sungai Serayu. Kalau masyarakat sekarang biasanya menggunakan air ini untuk menyembuhkan penyakit atau ritual sebelum musim tanam,” terang Dhimas Ferdhiyanto seorang pemandu wisata dari Dieng Travel.

Menyeberang jalan, tempat berikutnya yang kami kunjungi bernama situs Watu Kelir. Ini adalah struktur talud yang memisahkan area percandian dengan rumah masyarakat di masa lalu. Mulanya, pada abad ke-8, talud Watu Kelir ini memiliki tujuh tingkat. Selain sebagai pembatas, Watu Kelir ini juga berguna untuk mencegah longsor. Jadi area candi yang berada di atasnya terlindungi.

Situs Watu Kelir | Foto Sinlu Adji

Perjalanan dari satu situs ke situs lain di Dieng dapat dilakukan dengan berjalan kaki. Wisatawan bisa lewat jalan-jalan kecil di antara perumahan warga sambil menyaksikan kehidupan masyarakat. Kalau cermat dan beruntung, Anda bisa saja menemui tanamaan khas Dieng, misalnya carica dan jenis bunga edibel. Atau tanaman yang mungkin tidak akan tumbuh di dataran rendah.

Sembari jalan, Anda bisa lihat batu runtuhan candi banyak ditemukan tergeletak di pinggir jalan, di sekitar pemukiman, atau bersandar di tembok rumah warga.

Destinasi berikutnya adalah situs bekas pesanggrahan milik Belanda. Tempat itu kini sudah jadi bangunan lain, dan tidak terlihat jejaknya. Lokasi ini awalnya tempat menginap untuk orang Belanda ketika vakansi ke Dieng. Dhimas Ferdhiyanto sebagai pemandu dari Dieng Travel tidak hanya menguasai medan tetapi juga fasih menceritakan sejarah dengan data valid.

“Dahulu, orang Belanda butuh waktu tiga hari dua malam untuk sampai ke Dieng dari Wonosobo. Para lelaki akan naik kuda, dan yang perempuan akan ditandu. Sampai di Dieng, mereka akan menginap di pesanggrahan milik Belanda ini,” jelas Dhimas.

Perjalanan dilanjutkan. Di dalam gang, kami kadang perlu menepi saat berpapasan dengan motor warga yang hendak meladang. Di beberapa tempat, perlu sedikit menunduk karena di atas kepala sengkarut paralon air menjulur ke ladang kentang di bawah. Tak jarang beberapa pipa sedikit bocor, sehingga air menyemprot membasahi wajah.

Dalam perjalanan ini, rute bisa sewaktu-waktu berubah, mengikuti kondisi perkampungan. Bahkan ketika walking tour kami harus memutar jalan karena ada pembangunan di jalan yang sempit.

Kejadian-kejadian seperti itu justru membuat perjalanan lebih organik. Walking tour ini memberi perspektif, wisata tidak selalu harus ke tempat yang serba dirias, gemerlap, dan dimanjakan berbagai kemudahan akses. Berwisata bisa jadi memberi kita pengalaman merasakan kehidupan seperti warga sekitar. Wisatawan diajak berjalan merasakan kontur tanah yang naik turun, menghirup sejuk udara di bawah matahari yang terik, dan melihat kehidupan warga dari dekat.

Dalam perjalanan, kami singgah di sebuah makam tua. Di sana tempat bersemayam leluhur desa. Usia makam dapat dilihat dari nisannya. Nisan batu balok menandakan makam berusia lebih tua.

Perjalanan wisata di Dieng dilanjutkan ke Candi Dwarawati. Candi ini sedikit sulit ditemukan dari jalan utama. Sebab alasan itu, tidak banyak wisatawan yang datang ke sana. Kompleksnya sendiri terletak di tengah-tengah kebun kentang dan menjorok setelah pemukiman warga. Dataran yang lebih tinggi dari sekitarnya membuat pemandangan di sekitar Candi Dwarawati ini jadi lebih indah.

Setelah berkeliling candi, kami menulis prasasti dengan aksara jawa di atas batu kecil dengan menggunakan tinta emas. Tiap dari kami menuliskan nama dengan bantuan pemandu untuk mengecek ketepatan tulisan. 

Makan Bersama | Foto Sinlu Adji

Perjalanan diakhiri dengan santap makan siang di dapur milik warga. Dapur masyarakat Dieng terbilang cukup lebar karena digunakan sebagai tempat menyimpan kentang yang akan dijadikan bibit. Ada tiga tingkat rak kentang yang akan disemai menjadi bibit, beberapa terlihat bertunas.

Kami duduk melingkar mencicipi kudapan yang telah disajikan pemilik rumah. Yang mencuri perhatian saya adalah sajian sayur kacang babi. Kacang babi adalah makanan khas Dieng yang sebenarnya mirip dengan kacang koro. Setelah makan kami bisa bercengkerama dengan pemilik pawon, sekaligus yang memasak hidangan untuk kami.

“Pawon selain untuk masak juga tempat berkumpul dan bercengkerama petani di pagi hari sebelum berangkat ke ladang kentang,” tutup Dhimas.

 

Editor: Andreas Pramono
Foto: Sinlu Adji

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Celoteh Anak Kecil | Cerita Pendek Sonhaji Abdullah

Next Article

Isyarat Kupu-kupu | Cerita Pendek Kristophorus Divinanto

Related Posts