Empat Aku; Kumpulan Puisi Servasius Hayon

Empat Aku
Ilustrasi: profanityprayers.tumblr.com

Empat Aku

 

Aku tak ingat pernah mengirim pesan.

Setelah berbalas, yang kemarin

terasa telah lewat

berhari-hari.

 

Aku mengejar apa?

Kemanisan dari sebuah wajahkah?

Atau senyum merekah?

 

Aku baru sadar

bahwa senyum itu bergetar.

 

Aku selalu ingin berbalas.

Meski yang terjadi sesaat,

rasanya telah lama lewat.

 

17 Mei 2020

 

 

Perempuan Berbaju Merah Muda

 

Perempuan berbaju merah muda

Sudah lama kita tak bersua

Sudah lama kita tak jalan bersama

Sudah lama kita tak bicara.

 

Beberapa bulan ini

Dirimu dipinang hijau rerumputan

berembun yang hening

Yang melelehkan keringat

di sekujur baju merah mudamu.

 

Langkah cepat.

Langkah semangat.

Tak bisa lagi kudekat.

Langkahku tercegat.

 

Mei, 2020

 

 

Cahaya Itu

 

Aku menunggu cahaya itu turun

Membakar sebuah pohon

Dan menciptakan keajaiban

Api di tengah hujan.

 

Menunggu dalam pejam mata,

karena cahaya itu dapat melesat

masuk dan menggetarkan telinga.

 

Ada orang-orang yang berlindung

di bawah bantal sambil memanggil

mamanya atau Tuhan.

 

Rumah bergetar seperti ingin

merasakan jantung berdebar.

Langit menjawab kerinduan.

Mengisi kekurangan dan

memenuhi permintaan yang

sudah dilupakan.

 

2020

 

 

Secara Halu

 

Secara halu aku melihatnya

mengintip lewat jendela.

Ia bisa masuk kapan saja.

Dan kami berbaris tanpa sadar.

Tertawa tanpa takut.

Belum, sampai kami sadar.

Sadar, tapi keadaan memaksakan.

 

Sangatta, 2020

 

 

Editor: Endy Langoben

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts