Memecah Pakem Maskulinitas Lewat The Power Of The Dog

The Power Of The Dog/amdb.com

Hati-hati, mengikuti setiap adegan, sekuen, serta keutuhan film The Power of the Dog. Sebab, film ini bisa memecah kesombongan para lelaki yang mengagungkan kejantanan.

Kenapa begitu? Film ini memberikan kita pandangan, ternyata kekuatan tidak serta merta datang dari sikap maskulinitas pakem yang distereotipe masyarakat. Sering disebutkan, lazimnya seorang lelaki haruslah bersikap jantan, berani, kuat, dan tak memiliki unsur-unsur feminim dalam dirinya.

The Power of the Dog adalah film tahun 2021, bergenre drama western. Tokoh utama dihadirkan sebagai orang yang arogan, pembenci, terlalu memusuhi. Utamanya suka menyudutkan para lelaki yang memiliki sikap-sikap kemayu. Intinya, menyudutkan mereka yang mana tak sama seperti dirinya, macho dan jantan.

Namun, patut diperhatikan The Power of the Dog nyatanya bukan mengutuk kaum banci. Bukan juga sebaliknya, para maskulinitas yang memarjinalkan sifat kemayu dan flamboyan dari seorang lelaki.

The Power of the Dog semacam membuka kedok serta memunculkan berbagai pertanyaan terhadap pihak pengucil: apakah lelaki yang fanatik akan maskulinitas benar-benar memiliki sifat demikian? Atau, hanya sebagai topeng yang menutupi kebenaran fetish dalam diri mereka?

The Power of the Dog ditulis dan disutradarai oleh Jane Campion. Mengangkat cerita dari novel berjudul sama karya Thomas Savage. Lewat film ini, Jane Campion meraih gelar penghargaan Best Directing dalam ajang Academy Award kemarin.

Jauh sebelum itu, Jane Campion pernah memenangkan beberapa penghargaan dalam Academy Award pada tahun 1993 lewat film epiknya, The Piano.

Selain menyabet penghargaan sutradara terbaik dalam ajang Academy Awards 2022, The Power of the Dog juga memaksa Jane Campion memenuhi lemarinya dengan penghargaan-penghargaan yang lain misalnya Bafta Award, Critics Choice Award, Venice Film Festival, dan masih banyak lagi.

Film The Power of the Dog diperankan oleh Benedict Cumberbatch (Phil Burbank), Jesse Plemons (George Burbank), Kirsten Dunst (Rose Gordon) dan Kodi Smith McPhee (Peter Gordon).

Adegan awal film The Power of the Dog dibuka oleh plot voice dari Peter, mengeluarkan beberapa kalimat, yang nantinya akan menjadi premis untuk menjembatani kita dalam memahami film besutan sutradara sepuh ini.

Montana 1925, menjadi latar dari kehidupan dua orang Burbank, Phil Burbank dan George Burbank, yang mana Phil adalah kakak dari George. Mereka adalah dua bersaudara yang memiliki harta berlimpah, memiliki peternakan luas, serta pekerja yang terbilang banyak di daerah western.

Mereka memiliki rumah besar yang ditinggali berdua, dengan 2 orang pembantu wanita. Suatu hari Phill dan beberapa anak buahnya, tak lupa juga George, pergi sambil mengiringi hewan ternak ke sebuah daerah, dalam urusan pekerjaan.

Tak berselang lama, di daerah itu mereka semua mengunjungi rumah makan sekaligus penginapan yang dikelola oleh Rose dengan anaknya Peter. Rose seorang janda dan Peter adalah anaknya, sosok remaja yang kemayu, adalah seseorang yang mempunyai impian menjadi dokter bedah.

Ketika Phil menunggu makanan disajikan, ia melihat bunga buatan dari kertas. Tentunya pada zaman itu, keterampilan semacam itu hanya dimiliki oleh kalangan perempuan saja. Namun ternyata, pembuat kerangka bunga dari kertas yang terletak di meja makan Phil, George, dan para anak buahnya adalah Peter.

Melihat Peter mengaku dialah yang membuatnya, Phil memasang raut wajah aneh dan tak suka. Sontak Phil dengan sadar mengolok-olok Peter, lalu secara sengaja membakar setangkai bunga buatan Peter.

Tak hanya perlakuan itu saja, Phil seakan dengan gagahnya mengejek sikap dan gerak-gerik dari Peter yang dilihatnya menyerupai wanita. Peter yang tak tahan dengan apa yang dikatakan Phil, memilih menangis di dapur. Demikian Rose, sang ibu, melihat perlakuan Phil terhadap anaknya membuat hatinya sakit.

George yang melihat tindakan tak senonoh kakaknya hanya memilih diam, dan tak berkomentar tentang itu. Setelah semua pergi dan hanya George yang berada di dalam rumah makan, George melihat Rose menangis akibat perlakuan Phil terhadap anaknya. Merasa bersalah juga atas apa yang dilakukan kakaknya, Phil. George memasang badan perhatian untuk Rose.

Dewasa ini, kekuatan pengetahuan dan pluralisme yang ada dalam kehidupan, nyatanya tak berhasil membuat perplocoan terhadap orang-orang banci, atau waria sepenuhnya menghilang.

Penolakan entah melalui cacian serta pengucilan masih banyak dilakukan, dan itu kita temukan di lingkungan rumah, sekolah, bahkan keluarga.

Itulah yang diperlihatkan oleh Jane Campion, dengan mengandalkan Benedict (Phil) sebagai karakter yang menolak keras sikap kemayu dari seorang pria.

Pembawaan karakter Phil oleh Benedict Cumberbatch juga rupanya sangat berhasil. Padahal jikalau kita melihat, dalam film-film Benedict lainnya, sosok pembenci dan arogan tak tercatat dalam setiap perannya.

Peranan karakter Benedict juga sangat diindahkan oleh Kodi Smith, yang berperan sebagai Peter. Gerak-gerak kewanitaan, serta gaya berbicara yang dibawakannya sebagai lelaki banci begitu natural dan menjanjikan. Sehingga terlihat, kedua tokoh ini berhasil membangun konfrontasi dalam semua adegan menjadi seperti nyata.

Film The Power of the Dog dibagi menjadi 5 sekuen lebih. Dalam sekuen kedua, ternyata George menyimpan daya tarik terhadap Rose. Dengan rasa sayang yang tak bisa ia tolak, George berusaha mendapatkan hati seorang janda anak satu itu. Ia semakin sering mengunjungi Rose, bahkan membuat Phil jengkel akan hal itu.

Dalam sekuen tersebut kita akan melihat bahwa Phil tak hanya lelaki yang mempunyai sikap arogan serta pembenci. Phil juga adalah orang yang posesif, bahkan dengan adiknya sendiri. Ia merasa perhatian adiknya terhadap dirinya telah direnggut oleh Rose.

Lambat laun hubungan George dan Rose semakin erat, sehingga mereka memutuskan untuk menikah dan tinggal di rumah George, bersama dengan kakaknya. Phil yang sangat tak suka dengan kehadiran orang lain di rumahnya, yaitu Rose, ditambah sikap membencinya, terus saja mengganggu aktivitas dan kebahagiaan Rose.

Phil tak berhenti menghina Rose dengan aktivitas, dengan perbuatan, dan dengan perkataan. Sampai-sampai mental Rose hancur dan membuatnya kembali menjadi seorang alkoholik. Ketidaknyamanan yang dirasakan Rose di rumah suaminya, menjadikan ia seperti orang asing yang tak mengenal siapa pun di rumah itu.

Belum lagi sikap Phil terhadap anaknya, Peter, yang terus diganggu dan disudutkan lewat cacian. Hal tersebut memberikannya kegelisahan terhadap situasi yang dialami. Peter yang mengalami hal itu enggan membalas dengan kemarahan, dan memilih menjalani liburan sekolah sebagaimana mestinya. Memilih jalan-jalan di lingkungan rumah George dan Phil, serta tetap belajar membedah dengan harapan akan menjadi dokter bedah nantinya.

Kegeraman penonton terhadap Phil berhasil dilahirkan oleh Jane Campion lewat gaya sinemanya yang segar dan menawan.

Meski sepanjang film, miskinnya dialog yang dihadirkan sang sutradara memberi rasa frustrasi terhadap penonton untuk bersabar dengan jalannya film. Tetap saja The Power of the Dog menyajikan panorama sinema yang lezat, juga kekuatan narasinya yang padat.

Sekilas dalam film ini, kita akan melihat suasana perfilman dari Dennis Villeneuve yang sunyi dan lambat. Juga perpaduan kemaknaan melalui properti dari sutradara Terrence Mallick dan Wong Kar Wai. Maka tak salah, The Power of the Dog menjadi film unggulan untuk menyabet Best Picture pada perhelatan Academy Award kemarin, meski sayangnya itu tak berhasil.

Puncak kegeraman penonton terhadap Phil akan berubah dengan kegeraman yang lain lagi secara perlahan, ketika Peter menemukan sebuah persembunyian di bawah ranting pohon. Di persembunyian itu ia menemukan buku majalah yang memuat banyak foto-foto pria bertelanjang.

Buku itu bertuliskan nama Bronco Henry di sisi atasnya, lelaki yang sering diagung-agungkan oleh Phil sebagai gurunya dan sosok pria yang jantan. Secara bersamaan juga di dekat persembunyian itu. Di tepian sungai, Phil tengah mengusap halus seluruh badannya, dengan kain putih tulang yang berbordir huruf BH (Bronco Henry), dan menyimpan kain tersebut di kemaluannya.

Mengetahui rahasia dan kelemahan Phil, Peter memanfaatkan itu untuk mengambil keuntungan dan membalaskan situasi bahaya ibunya yang terus saja merasa terancam oleh Phil.

Klimaks ending dari film ini sungguh mengejutkan, walau dengan nafas santai. Jujur bagi para penonton yang terbiasa dengan tempo perfilman yang cepat, akan tak sepenuhnya menyadari letak kehebatan pola naratif dari The Power of the Dog.

Tak mudah memang memahami kesimpulan secara langsung, mana yang mesti diangkat oleh penonton, karena shot dan adegan banyak meletakkan properti sebagai pengganti dari premis narasi.
Gaya konflik protagonis dan antagonis dalam The Power of the Dog juga begitu berbeda dalam konflik-konflik film balas dendam kebanyakan.

Peter yang memanfaatkan pengetahuannya akan ilmu bedah berhasil menekuk lutut Phil yang selalu mengagungkan kajantanan. Pembalasan itu bukan dengan pukulan, tembakan atau apapun yang ada dalam benak kita ketika berfikir tentang film western. Tetapi, menggunakan pengetahuannya akan ilmu kesehatan.

Dan itu sungguh bisa menjadi penarikan kesimpulan yang sederhana untuk kita, bahwa kekuatan dan kehebatan bukan berasal dari kejantanan seorang lelaki, melainkan dari kepintaran serta keutuhan menampilkan sosok dalam diri kita.

Nyatanya Phil yang selalu mengagungkan Bronco Henry sebagai pria hebat, kuat. Sementara, dirinya yang punya unsur maskulinitas yang pakem, adalah sosok yang menyimpan rahasia, yang bila muncul ke permukaan, tentu menjadi gunjingan para masyarakat di sekitarnya.

Sebaliknya Peter, menegaskan lagi, kepintaran, dan kejujuran membawakan perawakanlah yang menjadi pokok kekuatan dalam diri seorang lelaki. Bukan yang selama ini menjadi tolak ukur di masyarakat.

Film ini memanfaatkan sedikit struktur kilas depan pada awal film. Serta pola linier-nya yang pelan-pelan menyajikan situasi unggul yang berbalik. Membuat film ini kaya akan kesinambungannya pada kehidupan nyata yang dialami orang-orang.

Tentang keasingan di tempat yang bukan milik kita, ketakutan yang menjadi-jadi karena bulian, kebencian, cemooh, juga pengucilan oleh masyarakat sekitar.

 

Editor: Tim Editor Sudutkantin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Related Posts