Sabda Alam | Cerita Pendek Sixtus Angga Pratama Mahardika

Dok. Sixtus Angga Pratama

(In Memoriam Pak Hariadi Saptono)


1990

Pagi yang cerah di bukit Dadapan. Pohon pinus mejulang tinggi. Daunnya yang kecil dan lembut menutupi pandangan langit. Indahnya cahaya yang menembus rumpunnya kumpulan daun pinus itu sungguh menyejukkan mata. Burung-burung berkicau riang. Burung manyar dengan sigapnya berterbangan mencari ranting kecil untuk membangun rumah bagi pasangannya. Burung kepodang berkicau tak ada henti-hentinya untuk menarik betinannya. Embun menetes dari ranting-ranting yang kering. Suara sungai terdengar gemericik menenangkan batin. 

Jamaludin membuka pintu gubuknya yang setengah reyot. Dinding bambu yang sudah lapuk dimakan waktu dan proses itu tetap dipertahankan. Wajah dinding bambu itu sama seperti wajah Jamaludin; sungguh berantakan. Wajahnya berseri melihat pagi yang tidak seperti pagi sebelumnya.

Jamaludin berjalan keluar gubuknya. Kakinya tanpa alas melangkah di atas rerumputan yang dingin mengembun. Sudah lama ia hidup di tengah hutan Dadapan ini. tidak pernah ia merasakan kekurangan karena alam telah banyak memberikan apa yang menjadi kebutuhannya.

Hutan bersenandung riang dengan suara dedaunan yang saling bergesek. Suara harmoni alam yang sungguh menenangkan jiwa menjadi hiburannya setiap hari. Hiburan dari harmoni alam telah mengalahkan hiburan-hiburan yang lain. Begitulah perasaannya berkata.

Dalam sela-sela pohon pinus, Jamaludin melihat Merapi gagah menjulang. Kubah lavanya tinggi menjulang. Seakan-akan, Merapi hendak memperlihatkan keagungannya.

“Jamaludin!!” Tiba-tiba terdengar suara memanggilnya dan melanjutkan perkataannya, “Alam telah banyak memberikan hidup bagi semua ciptaan. Apa yang dapat kita berikan kepada alam?” Suara itu terdengar dari belakang. 

Jamaludin kebingungan mendengar suara itu. Tidak ada orang di belakangnya. Ia tetap masih menoleh ke segala arah untuk mencari sumber suara itu.

“Ini aku, Jamaludin. Kau ingat temanmu, Supriyadi” tiba-tiba sosok Spriyadi berada di lain arah.

Jamaludin tersenyum lebar. Ia berlari mendekati Supriyadi. Wajahnya terharu karena telah lama sekali tidak bertemu oleh sosok Supriyadi. Mereka menangis dalam pelukan, seperti bapa yang bertemu anaknya yang hilang.

“Keberadaanmu telah kucari ke segala kota. Tapi, yang aku dapatkan hanyalah jawaban tidak tahu. Mengapa kamu memilih jalan hidup di hutan yang jauh dari peradaban manusia? Tak ada satupun teman kita yang mengetahui keberadaanmu, jika kamu hidup jauh dari peradaban.” 

Sambil duduk di sebuah batu besar di pinggir sungai kecil, Jamaludin menyandarkan badannya di sebuah batu besar. Mereka menyandarkan badan menghadap gagahnya Merapi yang mengepulkan asap lewat kubah lavanya yang baru.

“Bukankah hidup ini itu menjauhkan dari alam? Selama hidupku, aku tidak pernah memberikan apapun kepada alam. Padahal, alam telah banyak memberikan kepada kita. Kayu, udara, air, api, hewan yang rela dibunuh untuk memenuhi kebutuhan raga kita,” Jamaludin tersenyum dan menatap langit.

“Kau lihat langit yang cerah itu? Kapan terakhir kali kamu berterima kasih kepada langit yang cerah karena ia tidak memberi mendung? Jika langit mendung dan turun hujan, kapan kamu terakhir kali mengatakan ‘terima kasih, langit’. Kau bagai oase di tengah gurun. Kau sejukkan raga kami, namun kau juga berikan kelegaan dalam jiwa kami.”

Supriyadi terdiam saja. Ia paling bisa mengikuti pikiran Jamaludin yang sangat berbeda dari kebanyakan orang yang pernah ditemui. Supriyadi tetap masih dengan pendiriannya, cukup baginya bisa bertemu sesaat dengan Jamaludin dan mendengarkan sabda-sabdanya tentang alam ini.

“Kicau burung kepodang itu memberikan ketenangan bagi jiwa yang kalut. Burung kepodang selalu bernyayi ketika ia mengetahui manusia bahagia. Ia akan bernyanyi riang dan merdu sekali suaranya. Burung murai batu pun bisa kalah. Bertengger ke ranting demi ranting sambil bernyanyi kebahagiaan. Ketika manusia dilanda duka cita, burung kepodang akan bersarang. Sebab, ia takut terhadap burung gagak yang selalu menyenandungkan duka cita dan putus harapan. Ia takut dengan burung gagak yang hitam legam bernyanyi tanpa tahu harmoni. Namun, lihatlah burung gereja dan pipit yang terbang rendah itu,” Jamaludin sambil menunjuk ke pinggiran sungai kecil itu. 

Lanjut Jamaludin. “Mereka tidak memiliki rasa ingin terbang tinggi setinggi langit. Jika ia terbang tinggi setinggi kaki langit, ia akan mati diserbu burung elang. Seandainya hidup seindah burung-burung itu. Mereka tetap berkicau setiap waktu dan tetap terbang ke manapun mereka ingin. Tapi, mereka tidak lupa untuk takut terhadap yang lain. Mereka tidak melawan burung yang kuat-kuat. Burung elang juga menyadarkan kita, hidup yang kuat dan tinggi ternyata sudah cukup sehingga burung elang tidak ada kekurangan. Karena itu, burung elang tidak akan menganggu burung-burung yang lain.

Burung kepodang, burung pipit, dan burung gereja lebih tahu bahwa semakin ia tidak menyadari kelemahannya, ia akan menjadi mangsa yang besar dan yang berkuasa. Kelemahan bukan berarti menjadi hambatan, namun kelemahan itu akan menuntun kita untuk memiliki kerendahan hati,” tangan Jamaludin dilipat di depan dada. Ia mendongak ke arah di mana suara buruh kepodang itu bersahut-sahutan merdu. Suara kepodang bersahut-sahutan merdu menyambut sabda alam ini.

Jamaludin beralih. Ia menuju tepi sungai yang kecil alirannya, namun jernih airnya. Di situ, ada sebuah gelondongan kayu yang besar melintangi sungai itu. Mereka berjalan di atasnya. Jamaludin berjalan dengan santainya. Namun, Supriyadi hampir beberapa kali terjatuh karena kehilangan keseimbangan. 

“Pohon ini sudah tua umurnya. Pohon ulin memiliki kekuatan yang tidak dapat disaingi dengan kayu-kayu lain di hutan. Mungkin, pohon ulin ini tumbuh bersama dengan tumbuhnya Merapi kala itu. Proses, waktu, tekanan membuatnya kuat seperti batu ini. Jika yang kau lihat ini adalah kayu, maka matamu buta. Lihatlah lebih dalam sebelum kau berkata sesuatu terhadap suatu hal. Ini adalah fosil kayu ulin. Sedih rasanya. Pohon ulin sudah banyak menjadi gelondongan. Manusia sangat mudan memotong pohon, tanpa tahu bagaimana proses menghidupkan biji menjadi kecambah, kecambah menumbuhkan daun dan akar, batang berkembang besar dan akar menjalar. Ratusan tahun waktu yang harus dipakai untuk menjadikan kayu ulin yang besar dan tinggi. Namun, dalam hitungan menit, kayu ulin tinggal nama dalam catatan produk hutan yang dilindungi,” Jamaludin tertunduk sambil mengelus fosil kayu ulin yang sedang ia duduki itu. 

Merapi masih menampakkan kegagahannya. Burung kepodang bersahut-sahutan bernyanyi bersama burung tengkek. Burung manyar masih bergelantungan membuat rumah untuk calon pasangannya yang dapat menerima rumah itu. 

“Antara alam dan manusia, siapa yang tidak adil? Mereka yang dekat dengan alam, pasti cepat dipanggil Sang Hyang Pencipta. Namun, mereka yang jauh dari alam diberikan umur panjang. Mereka terlihat kuat dalam menghadapi kerasanya hidup dan alam ini. Apakah mereka yang jauh dari alam itu untung dan yang dekat dengan alam itu rugi?” Supriyadi bertanya sambil menenggelamkan kakinya di sungai yang mengalir jernih itu. 

“Mereka yang lupa terhadap alam tidak akan mengerti rahasia sabda alam. Maka Sang Hyang Pencipta akan terus menghajarnya sampai mereka sadar hakikat keberadaannya yang tidak bisa dipisahkan dari jagad kecil, yaitu alam sendiri. Alam telah banyak memberi, namun alam tidak pernah diberi. Diberi terima kasih saja jarang, apalagi bersyukur. Nampaknya sangat mustahil sekali. Manusia yang dekat dengan alam, ia akan dekat dengan Sang Hyang Pencipta. Tidak ada yang tidak mungkin bahwa Sang Hyang Pencipta adalah sumber dari segala hulu, awal dari segala permulaan, akhir dari segala udik, dan hanyalah Sang Hyang Pencipta yang memberikan nurani kepada manusia, terlebih kepada manusia yang dekat dengan alam.” 

Supriyadi bingung. Ia menatap keheranan Jamaludin yang masih saja menatap gagahnya gunung Merapi. “Apa maksudnya?”

“Jawabanmu itu adalah sebuah bentuk pencarian hidup. Tidak dapat kau jawab sekarang juga, bahkan aku pun tidak tahu jawabannya. Bisa jadi, nanti malam, aku mati atau nanti malam, kamu akan mendapat kiriman makanan. Kita tidak tahu. Namun, kita dituntut untuk mencari jawaban itu sendiri. Di situlah alam hadir. Alam memberikan jawaban lewat angin, embun, kicau burung, gemericik air, dan segala ketenangan diri yang ada. Jika kau dapatkan itu semua, jangan kamu mencari makna dari apa yang alam berikan. Tapi, maknailah apa yang alam berikan. Maka, hidupmu akan penuh syukur atas segala pemberian alam. Itulah pencarian yang sejati,” Jamaludin menatap Supriyadi yang tersenyum lebar. Simpul senyum nampak dalam bibir Jamaludin yang tetap saja masih tenang. 

1994

Semua entitas kehidupan yang ahistoris dan tak terekam itu ada dan bisa beroperasi. Hal ini persis dan jelas terbukti bahwa di sinilah otoritas dan kuasa Tuhan yang Maha Kuasa.

Merapi meletus dan menghancurkan hutan Dadapan seketika. Supriyadi tanpa rasa takut memilih untuk menjadi relawan demi mengevakuasi kawan lamanya ini.

Rumput sejuk berembun yang menjadi karpet hutan Dadapan ini menjadi abu dan pasir panas. Sungai yang jernih airnya mengalir gemericik menjadi sungai yang penuh dengan batu pijar yang masih menyala dan kayu ulin itu. Kayu ulin itu patah diterpa batu besar yang melintasinya.

Supriyadi sadar. Ia berjalan di atas gubug yang telah lama tidak ia kunjungi. Genting itu masih ia ingat dalam memori otaknya. 

Segera ia berteriak untuk mengecek rumah itu. Relawan bergegas membongkar atap itu. Supriyadi tak kuasa menahan tangisnya selama genting rumah itu dibuka cepat. Seketika Supriyadi histeris tak menyangka temannya telah menjadi jasad yang tertimbun oleh abu dan pasir panas. Badanya kaku dan panuh dengan luka bakar. Supriyadi dengan tabah hati segera membopong jasad Jamaludin untuk dibawa ke tempat yang rendah karena gemuruh Merapi terdengar lagi.

“Ini ada barang korban yang bertuliskan namamu,” kata salah satu relawan.

Supriyadi yang sedang duduk tak mengira akan begini nasih temannya itu menerima botol itu. Botol itu disimpan di dalam kayu yang besar, sebesar pelukan Jamaludin sendiri karena ditemukan dalam pelukannya. Nama Supriyadi diukirnya dalam kayu itu. Karena terbakar, kayu itu makin jelas menampakkan nama Supriyadi.

Dipecahnya batu dan botol yang masih panas itu. Di dalamnya, terdapat sebuah surat yang ditulis tangan.

Sungguh, aku sangat rindu kehadiranmu, kawan. Aku tahu segala kesibukanmu. Dan sekarang, terjawab jelas pertanyaanmu empat tahun yang lalu ketika kita duduk di gelondongan kayu ulin. Mereka yang dekat dengan alam akan lebih mengerti arti kelenturan. Alam mengajarkan suka dan duka. Dua hal itu ada dalam satu ajaran alam dan tidak bisa dipisahkan. Maka, mereka yang tidak tahu hal itu hanya akan menuntut yang suka-nya saja. Itulah ajaran alam yang sejati, tentang kelenturan diri. 

Maka jika kau temukan surat ini, aku hanya ingin berpesan padamu, kawanku, Supriyadi. Kelenturan adalah jembatan ke desa-desa yang belum pernah kita jelajahi. Maka, teruslah menyeberangi jembatan kelenturan dan memperkaya desa-desa yang yang kita kunjungi.

Salam terakhir, Jamaludin

Menangislah Supriyadi tak ada hentinya. Duka citanya abadi. Penyesalannya selamanya. Jamaludin dalam kenangan, sekarang dan selama-lamanya.

 

Penyelaras Aksara: Tim Sudutkantin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Related Posts
Read More

Momentum

*Aku* Namaku Setyo. Aku bekerja sebagai operator gantry crane atau yang biasa disebut sebagai Goliath. Raksasa baja berwarna…