Rilis Mini Album, Primitive Monkey Noose Sajikan Punk Rock Rasa Banjar

Dok. Pers Rilis Primitive Monkey Noose

Primitive Monkey Noose (PMN) adalah kelompok musik Punk Rock yang berdiri sejak akhir 2021. Group band ini fokus berkarya dengan tujuan mengenalkan budaya Kalsel ke ranah musik yang belum pernah terjamah sebelumnya.

Lagu-lagu dari PMN adalah hasil perpaduan rock dengan Panting (gitar tradisional Banjar) yang dominan. Itulah sebabnya mengapa group musik ini dijuluki Punk Rock rasa Banjar. Nyatanya mereka berhasil, agresivitas punk benar-benar dapat dipadukan dengan petikan Panting yang otentik.

PMN beranggotakan lima orang bapak-bapak bermana Richie Petroza di (Vokal, Gitar), Ovecx Arsya (Gitar, backing Vocal), Denny Sumaryono (Bass), Wan Arif Fadly (Panting), dan Juli Yusman, (Drum). Dengan semangat muda, group punk rock ini memainkan musik dengan nada optimise yang kuat.

Lirik-lirik lagu PMN menawarkan pesan-pesan kebersamaan dan cinta dengan makna yang luas. Larik-lariknya menceritakan ragam kontra-sosial dengan cara yang menyenangkan. Mendengarnya sama saja merasakan positive vibes yang mempengaruhi penulisan lirik karya mereka.

Menyimak beberapa lagu PMN, terdengar otentik, asyik, juga sekaligus menggelitik. Seperti juga yang dikatakan Edu Christanto, A&R Sony Music Entertainment Indonesia melalui siaran persnya, “PMN salah satu band yang materinya menurut kami sangat menarik, karena memandukan unsur musik komersil dengan unsur etnik khas daerah. Perpaduan ini membuat PMN cukup unik dan kami rasa bisa menarik perhatian para pendengar musik di Indonesia.” terangnya.

Perilisan kelima lagu dalam mini album PMN ini juga mendapatkan komentar dari Franki Indrasmoro (ex-Naif Band), “Kelebihan PMN adalah bisa memadukan lagu dan musik mereka dengan unsur etnik yang kental, yang menambah kekuatan lagu mereka selain dari notas yang mudah dinyanyikan.”

Primitive Monkey Noose secara resmi telah merilis album EP berjudul Self Titled pada 25 Maret 2022. Tidak main-main, debut mini album ini digandeng Sony Music Entertainment Indonesia (SMEI). Rilisan album tersebut disebar dalam berbagai digital store platform.

 

Album ini berisikan lima lagu yang berisikan dua lagu yang diciptakan oleh seniman musik ternama dan tiga lagu milik PMN:

Anthem of South Borneo (Ampat Lima) adalah lagu pembuka diawali dengan Anthem of South Borneo (Amdan sekaligus anthem pembawa suasana semangat kearifan lokal. Lagu ini diciptakan oleh seniman musik legendaris Kalimantan Selatan Alm. Anang Ardiansyah, dan diremix oleh Yuda Prawira, music producer kebanggan Tanah Bumbu.

Selama kurang lebih 1:50 menit nuansa kerarifan lokal akan menemaimu dengan rasa budaya yang luas dengan petikan Panting khas Kalsel.

Mahadan Ading

Lagu ini diciptakan oleh seniman musik Pagatan, Tanah Bumbu, Alm. Fadly Zour. Lagu ini menceritakan tentang kesetiaan dan komitmen yang kokoh.

Jabat Erat

/ Jika kita bersama, takkan ada yang tak bisa/ Mimpi dan cita renggut bersama / Semua cerita hanya jadi mimpi belaka jika tak kau jadikan nyata / Jabat erat tanganku kini / Kita lawan tantang dunia ini / Genggam erat jangan lepaskan / Kepakkan tangan ke udara /

Semua bisa jika kita bersama. Stick together stand as brother! Begitulah semangat lagu ini.

Ayo, Keluar!

/ Ayo, keluar! Bersinarlah / Hidup ini terlalu indah / Untuk kau berduka untuk kau terluka / Mari kita bersukacita /

Ajakan untuk keluar dari zona nyaman, menikmati alam dan berbuat, berkarya lebih untuk masa depan, bukan hanya untuk diri sendiri, memberi manfaat untuk sesama.

Batulicin Youth Crew

Lagu ini anthem untuk jiwa muda yang tak ingin terbelenggu. Menyangkut dari mana band ini berasal yaitu Batulicin, Kalimantan Selatan, lagu ini juga menjadi aplikasi terhadap semboyan dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Dan iya, kami bangga, dimana kami berada.

Berbeda dengan roots punk rock yang cenderung urakan dan anti kemapanan, PMN justru tidak menyajikan lirik berisi pesan-pesan pembrontakan. Tak ada protes soal ketidakailan atau sentilan kepada “Lord” Luhut, misalnya. Barangkali karena mereka, terutama Richie adalah musisi yang anti oposisi.

Dok. Pers Rilis Primitive Monkey Noose

Selain menunjukkan musik yang khas, PMN juga menerapkan artwork yang tak kalah otentik dalam cover mini album mereka. Artwork ini digarap oleh Robby Ratio dengan visualisasi yang menggambarkan kearifan lokal secara jelas.

Artwork ini menunjukkan simboliasi Panting sebagai alat musik petik khas daerah Banjar. Kemudian dipelihatakan juga dengan jelas monkey nose atau bekantan yang menegaskan bahwa fauna ini adalah salah satu identitas Kalimantan Selatan.

Untuk lebih lengkapnya tentang Primitive Monkey kalian bisa mengikutinya diberbagai platform yang sudah tersedia. Tentang punk rock rasa Banjar ini, selamat bersukacita dan selamat mendengarkan!

 

Kalian bisa mengikuti kabar mereka di Instagram @primitivemonkey.noose, Tiktok @primitivemonkeynoose, Spotify: Primitive Monkey Noose, dan channel Youtube Bertuah Records.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Related Posts