Rahim Ibu Kota

Menuju Ibu Kota / dok. Wisnu Arya Bima

Kalian pernah mendengar cerita seorang pedagang bendera yang mati tragis di tepi jalan? Itulah pasangan jiwaku. Kami dipisahkan kematian. Antara yang ada dan tiada dalam dunia ini kini kutemukan dalam kesepianku. Aku yakin, pasangan jiwaku masih ada namun tiada dan ketiadaannya mengisi kekosongan dalam diriku.

Luangkanlah waktumu! Ketika kalian melewati jalan Matraman. Di sana, pernah terbaring separuh hatiku yang tak berdaya. Dengan beberapa potong ayam goreng–makanan orang-orang kaya dan yang merasa kaya, ia terkapar tak
bernyawa lagi. Doakanlah separuh hatiku. Aku sangat terpukul atas meninggalnya yang sangat tragis itu. Sebut namanya, Yusuf, dialah suami yang penuh dengan usaha meski kusadari aku yang membuatnya harus menjemput ajalnya di jalan itu.

Semua takkan terjadi. Semua ini tak akan terjadi bila aku menyadari kesalahanku yang sudah aku perbuat, perkataanku kasar yang tak tahu diri, segala yang kuanggap itu baik untuk Yusuf ternyata belum tentu dipahami baik juga oleh Yusuf, dan kontrol yang kaku padanya. Kami bukan berasal dari lingkungan rumah yang tingkat dan mewah. Kami hanya berasal dari keluarga yang tinggal di bantaran sungai. Dapat kalian bayangkan, seberapa tersingkirnya kami, betapa sulitnya kami makan enak, dan semua itu aku peluk dengan penuh sabar dalam kemiskinan.

Tepat satu hari sebelum ajal menjemput mas Yusuf, kami sempat berkelahi karena Budi terus-menerus merengek minta ayam goreng tepung. Aku yang sudah tak kuat menahan suara rengekan Budi terus memaksa mas Yusuf.

“Aku sudah muak denganmu, mas. Budi itu hanya minta ayam goreng saja. Kenapa kamu tak pernah mau menunjukkan kalau kamu itu bapak yang baik bagi anaknya?”

“Dagangan hari ini tidak ada yang laku, bu. Tapi, aku dapat menyisihkan sedikit uang untuk makan kalian. Jangan pikirkan aku. Aku sudah cukup minum segelas kopi dan sepotong bakwan panas di warung mak Yanti.”

“Apa-apaan! Kamu ini terlalu indah mengarang cerita! Mana ada orang kuat bekerja menunggu di bawah panas dari pagi sampai malam hanya minum kopi dan makan bakwan saja. Mikir sedikit, mas!”

Yang ada pada pandanganku hanyalah mata mas Yusuf yang masih tenang menghadapi amarahku. Mas Yusuf pergi dari hadapanku. Ia keluar rumah. Tidak ada suasana yang berbeda. Di dalam rumah panas karena kontrakan kami kecil dan tidak ada kamarnya sama sekali. Apalagi di luar. Rumah yang terlalu berhimpitan membuat udara segar tidak ada. Apalagi kalau malam, nyamuk menyerang dengan bertubi-tubi.

“Ayo, Budi. Kita tidur saja!”

“Bapak tidak tidur, bu?” Balas Budi.

“Bapak belum bisa tidur, Bud. Kita tinggal saja. Kalau Budi tidak tidur, pagi-pagi tidak
bisa bantu ibu ke pasar nanti.”

Budi tak bisa menolak. Matanya sudah tinggal sayup-sayup saja. Matanya hanya memandang bapaknya di luar dan sambil merokok. Aku arahkan Budi untuk segera masuk kamar kecil yang ditutup dengan spanduk bekas pemilihan lurah.

Budi… Budi…

Bagaimana masa depanmu esok? Maafkan kami yang melahirkanmu di dunia ini. Dunia ini sudah keras. Tapi, baru seumur jagung, kamu juga sudah harus ikut bekerja keras dengan bapak dan ibumu. Seharusnya, kamu mengenakan seragam sekolah dengan menggendong tas ransel dan mencangking kotak bekalmu.

Setelah kutidurkan Budi, aku memandangi Budi. Sosok yang kelak akan menjadi orang baik–melebihi kami yang melahirkannya. Aku hanya ingin Budi menjadi anak yang senyatanya anak pada umumnya. Belajar, bermain, sekolah, pulang membawa tas ransel dan tas bekal yang ditenteng, baju yang dikeluarkan karena udara yang
sangat gerah, dan topi merah yang ia kenakan sebagai tanda sekolah dasar. Itu semua harus kalah dengan nasib orang tuamu, Budi.

“Mas Yusuf, belum tidur?” Kususul mas Yusuf yang duduk di depan rumah sambil merokok.

“Budi sudah tidur?”

“Sudah. Sudah nyenyak sekali tidurnya.”

“Syukurlah. Hari ini, aku tidak mendapatkan pemasukkan apa-apa. Tidak ada bendera yang laku dijual. Uang yang aku pegang pun sudah tinggal berapa rupiah saja. Tadi, aku menuruti Budi untuk membeli es krim. Menurutinya untuk beli ayam goreng tepung terlalu banyak mengeluarkan uang.”

Mendengar perkataannya itu, aku naik pitam. “Mas Yusuf itu gila, ya! Sudah tahu kita kesulitan untuk makan, tapi kenapa Budi dibelikan es krim? Pantas saja, dia pilek. Dari hidungnya, ingus keluar tak ada henti. Uang berkurang untuk beli es krim. Ditambah lagi untuk beli obat. Sudah tahu sulit, kenapa harus mempersulit, mas?”

Mas Yusuf hanya diam sambil menghisap rokoknya. Tak ada respon. Tetap pada rokoknya. Karena aku sudah merasa tak dihargai, aku mengambil gelas kopinya dan kusiramkan ke kepalanya.

Mas Yusuf masih belum bereaksi. Ia membersihkan ampas kopi yang tertinggal pada rambutnya. Saat itulah, aku juga meninggalkannya dari malam yang kelam. Antara anak dan hidup. Aku masih belum bisa memilah. Aku terlalu membela anak, tapi aku lupa untuk mengedepankan hidupku dengan bekerja yang layak. Mau kerja apa saja sulit. Katanya ibu kota itu penuh sayang dan penuh hati. Nyatanya, ibu kota keras. Bukan seperti rahim yang menghangatkan, tapi persaingan panaslah yang selalu menjadi hidup di sini.

“Mas Yusuf, aku sudah muak dengan hidup ini. Aku sudah tak kuat lagi. Biarkan aku pergi ke mamak dan bapak di desa. Biarkan aku hidup bersama mereka dengan bertani. Aku tak bisa hidup di sini. Tak ada tanah subur untukku. Rasanya, aku memupuk kematianku sendiri di sini.”

“Sri, tolong. Apakah keputusanmu kembali ke desa itu menyelesaikan masalah kita di sini? Ibu kota menempa kita. Kita sedang dibentuk dengan derita dan air mata.

Kenapa kau malah semakin menempa hatiku?”

“Kau juga tidak realistis, mas. Menempa apa? Kau mulai gila! Kau hidup susah.

Kenapa masih saja berpikir tidak realistis? Rasakan tempaan Ibu kota. Aku tak kuat lagi berada di sini! Rawat juga si Budi. Aku pamit.”

Malam yang kelam. Aku harus menembus sepinya jalan Ibu kota. Keramaian orang-orang berdendang dan bernyanyi bersama seakan sepi mereka lepas begitu saja. Aku hanya membawa tiga ratus ribu untuk sampai ke desa. Dengan menumpang truk di dekat terminal Pulo Gadung, aku meremas nyaliku berhadapan dengan supir dan kernet truk.

“Om, boleh numpang sampai Jogja?”

“Asal diberi kesempatan memelukmu malam ini,” jawab kernet truk itu.

“Aku ada tiga ratus ribu. Ambil saja, asal jangan apa-apakan aku”

“Perjalanan kita akan sangat panjang. Kami yang melek harus mendapat hiburan,” saut kernet itu mengejar.

“Tolong, om. Aku tak bisa memenuhi keinginanmu.”

Sopir truk yang dari tadi menyalakan rokok tiba-tiba menyahut percakapanku dengan kernetnya.

“Sudah, bu. Ikutlah dengan kami saja. Jangan hiraukan perkataannya. Tapi, kau mau duduk berhimpitan di depan?” katanya.

“Kalau bisa jangan. Aku ini ibu satu anak. Aku juga sudah bersuami. Biarkan aku duduk di bak terbuka. Yang penting, aku bisa sampai desa.”

“Aih, bang. Kau tidak mau memanfaatkan malam ini. Kau tidak butuh hiburan yang menghidupkan malam ini? Walaupun beranak satu dan sudah ada penjaganya, apa salahnya kita manfaatkan?”

“Hidupmu masih terlalu dangkal. Untuk apa kita memanfaatkan penderitaan orang lain, kalau kita juga masih menderita dengan hidup. Cukupkanlah kebaikan kita, walaupun kita masih menderita. Malam ini akan menjadi malam yang penuh berkah karena kita akan ditumpangi wanita ini.”

“Berkah apa lagi, bang. Pikiranmu itu tidak pernah benar.”

Kulihat-lihat, sopir dan kernet itu masih terus bertengkar. Kernet yang terus-menerus ingin memanfaatkanku. Tapi, sopir itu yang terus-menerus membelaku.

“Kalau kau tidak mau sejalan denganku, ambil saja kemudi ini. Aku yang akan menjadi kernet. Aku tak mau pikiranku kacau selama perjalanan. Toh juga kita akan melakukan perjalanan yang sangat panjang, jangan sampai kita berbuat yang tidak-tidak. Tidak tahu juga semester berkehendak apa,” kata sopir truk itu sambil menghisap dalam-dalam rokoknya.

“Om, kalau aku tidak boleh menumpang di bak tidak masalah. Biarkan aku mencari truk yang lain saja.”

“Naiklah. Sebentar lagi kita berangkat,” sopir truk itu berteriak keras.

Kulemparkan tasku ke dalam bak truk yang tinggi itu dan aku mencoba menaiki bak itu dan masuk ke dalam bak yang kosong itu.

Aku menangis dalam kesepian. Suara tak beraturan dari bak truk ini mengingatkanku pada Budi dan mas Yusuf. Mengapa aku memutuskan pulang? Aku hanya berpikir pulang adalah jalan terbaik yang mesti ditempuh. Tapi, pulangku bukan berarti meninggalkan yang telah menjadikan tempatku berpulang.

Budi dan mas Yusuf adalah tempatku berpulang. Tapi, Ibu kota tidak memelukku hangat. Ia memelukku erat sampai aku kehabisan nafas. Nafas untuk mengadu nasib menjadi nafas yang berat. Nasib belum jelas sedangkan aku dituntut harus bernafas. Tak kuat lagi rasanya. Maafkan aku, Budi. Aku harus meninggalkanmu tanpa kecup di dahimu. Aku tak mengucapkan salam perpisahan denganmu. Mas Yusuf, maafkan aku. Sikapku yang tak beraturan ini membuatmu harus bekerja keras berkali-kali untuk menjamin nasib kami. Aku tak pernah sadar diri atas segala hidup ini. Kau yang mengarahkanku, tapi aku juga-lah yang mematahkan arahanmu.

“Bu, bangun. Makan dulu,” Sopir truk itu membangunkanku.

“Sudah sampai, bang?”

“Kita sudah sampai Purwokerto. Sebentar lagi, kita sampai. Kurang lebih tiga jam. Di mana rumah ibu? Biar saya antar sampai rumah.”

“Tidak merepotkan, bang? Rumahku di Deles. Tiga kilometer ke utara dari Klaten”

“Cukup jauh juga. Tapi, tidak apa-apa. Istirahatlah, bu. Kantung matamu sangat besar. Kau pasti menyimpan masalah dalam hidupmu di Ibu kota. Jika sudah sampai, aku akan bangunkanmu lagi.”

Aku hanya mengangguk. Sopir itu tahu apa yang aku alami dan rasakan. Aku tak bisa lagi menyembunyikan rasa pedih ini. Suap demi suap nasi padang aku makan. Yang ada dalam pikiranku hanya Budi. Apakah malam ini dia terbangun dari tidurnya? Bagaimana jika dia menangis minta gendong? Maafkan ibumu, Bud. Ibu harus memutuskan ini.

Pagi telah tiba. Aku merasakan truk berhenti. Dari atas, sopir memanggil namaku. Aku terbangun dan ternyata, aku sudah tiba di Deles. Udara sejuk yang masuk dalam hidung terasa tidak asing lagi. Inilah desaku.

Aku berlari menuju rumah yang tidak jauh dari pasar Deles. Di sana, bapak dan mamak terkejut. Mereka segera berlari menghampiriku dan memelukku dengan erat.

“Sehat, pak, mak?”

“Alhamdulillah, sehat kabeh, nduk. Kok ora bali karo Yusuf? Budi ora dijak?”

“Mboten, pak.” Aku tak bisa membendung air mataku. Aku menangis di pundak bapak dan mamak mengelus pungguku sambil memelukku dari belakang.

“Duh, nduk. Wes, atine digedekne maneh ya. Urip iku terus mlaku, bebarengan karo wektu, sing bisa gawe lakumu, supaya apik nasibmu,” kata-kata bapak menenangkanku. Tapi, aku belum bisa menahan air mataku untuk tidak mengalir.

Sambil mengelus pundakku, mamak berkata, “Yen urip mung isine isih nuruti napsu, sing jenenge mulya mesti soyo angel ketemu. Elingono witing tresno jalaran soko kulino. Witing mulyo jalaran wani rekoso”.

Inilah alasan aku memutuskan untuk pulang. Keputusan yang bodoh bagi orang lain. Tapi, persetan dengan perkataan orang lain. Ini adalah keputusanku. Hanya aku yang mendapatkan apa itu arti rumah. Bapak dan mamak-lah yang bisa menenangkanku dari semrawutnya hidup.

“Nduk, sabar iku ingaran mustikaning laku. Nek wes niat kerjo iku, ojo golek perkoro, nek wes diniati golek rejeki iku ora usah golek rai. Lakoni kanthi andhap ati. Sabar iku lire momot kuat nandhang sakehing coba lan pandhadharaning urip.

Urip iku koyo kopi, yen ndak iso nikmati rasane panggah pait. Cekelana impenanmu, amarga yen impen mati, urip iku kaya manuk sing swiwine rusak, mula ora bisa mabur. Impenanmu iku ono nang Yusuf lan Budi. Koe kui sang rahim, pangurip-urip. Urip iku terus mlaku, bebarengan karo wektu, sing bisa gawa lakumu, supaya apik nasibmu.”

Pak, mak. Dengan rasa apa lagi, aku dapat membalas semua perasaanmu? Dengan materi apa lagi, aku dapat menebus segala usaha-usahamu? Aku sangat berhutang rasa padamu. Itulah hutang yang tak akan pernah selesai kupenuhi, pak, mak.

“Wes, nduk. Muliho nang Ibu kota. Njaluko ngapura nang Budi. Tresnani Budi. Wes, pesenku mung kuwi wae, nduk,” kata bapak menutup pertemuanku sore itu. Rasanya, aku seperti tidak lelah. Perjalanan panjang hanyalah waktu, tapi rasaku sudah terbayarkan ketika mendengar kata-kata yang menghidupkan dari bapak dan
mamak.

“Pak, mak. Kulo pamit. Nyuwun dongane kagem mas Yusuf lan Budi.” Kupeluk bapak. Bapak memberikan pelukannya dan mencium dahiku dengan penuh perasaan haru. Mamak sudah tak henti-hentinya menangis. Aku hanya bisa memeluk mamak. Seketika itu pula, tangis mamak makin deras. Kupeluk erat dan
tangis mamak mulai reda.

Berat rasanya melepas pertemuan ini. Tapi, hidupku yang sesungguhnya sudah menanti di Ibu kota.

Hari sudah mulai gelap. Aku turun ke Terminal Klaten. Mencari tumpangan apa saja. Penting aku bisa sampai ke Ibu kota lagi. Ketika ada satu truk berisi sayuran berhenti, aku menghampiri supir truk itu. Tiba-tiba, sebuah sepeda motor melaju pesat hampir menabrakku dari belakang. Aku kaget. Untung saja aku tidak celaka. Setelah aku berbincang-bincang dengan sopir itu, aku diperbolehkan menumpang di bak truk yang penuh dengan sayur-sayuran.

Perasaanku biasa saja. Seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Aku sampai di pasar Pulo Gadung setelah delapan jam perjalanan. Hari sudah lebih terang. Aku segera berlari untuk menengok rumah.

Ketika aku sudah dekat dengan gang rumahku, aku melihat bendera kuning berkibar. Pertanyaanku dalam hati, siapa yang meninggal? Dari pada aku malu karena tampilanku yang sudah tidak mandi dua hari ini, aku memutar lewat gang lain. Di gang lain, juga ramai orang menggunakan kopyah dan berpakaian gelap.

“Siapa yang meninggal, bang?”

Bang Syarif menengok ke belakang dan dia sangat kaget ketika mengetahui bahwa
yang bertanya itu aku.

“Sabar ya, mpok. Sabar. Mas Yusuf sudah tenang,” Bang Syarif menjabat tanganku erat sambil mengelus pundakku. Orang lain juga mengikuti.

“Ada apa ini?”

Tidak ada yang menjawab.

Mengapa makin mendekat ke rumahku, orang-orang makin banyak?

“Ibu… Ibu…”

Kupeluk Budi seakan tidak terjadi apa-apa.

Tapi, tubuh siapa yang sudah tidak bergerak itu?

Kain putih menutup sekujur tubuhnya.

Kenapa ibu-ibu mengelus pundakku?

Ada apa ini?

“Ibu, ayam tepungnya enak. Satunya untuk ibu dan bapak.”

Mas Yusuf…

Air mataku tak tertahankan lagi. Aku tidak menyangka Mas Yusuf tidak bernyawa lagi. Tangisku tak bisa kutahan seutuhnya. Diriku lepas. Aku hanya bisa menyesali semua perbuatanku selama Mas Yusuf hidup.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Related Posts