Self Love: Memiliki Kecintaan Berlebihan Terhadap Diri Sendiri

Self love terjadi dalam suatu momen ketika kita sudah menerima diri kita sepenuhnya. Momen itu datang pada saat kita telah menerima dengan ikhlas segala sesuatunya di dalam diri kita, mulai menyukai kekurangan bahkan mulai mengetahui dan memanfaatkan kelebihan diri sendiri.

Hari ini, apa yang disebut sebagai self love nampaknya menjadi suatu bahasan yang menarik untuk dibicarakan. Bagi sebagian orang self love nampaknya menjadi sangat penting. Bahkan, pembahasan mengenai hal ini terkadang dimuat dalam beberapa pelajaran di sekolah atau materi seminar tertentu.  Namun, apa itu self love? Self love secara harafiah berarti mencintai diri sendiri. Kalau kita belum mencintai diri sendiri, bagaimana kita mau mencintai makhluk lainnya? Sampai di titik ini, nampaknya kita perlu bersepakat bahwa self love itu memang suatu hal yang penting.

Bagi saya, self love terjadi dalam suatu momen ketika kita sudah menerima diri kita sepenuhnya. Momen itu datang pada saat kita telah menerima dengan ikhlas segala sesuatunya di dalam diri kita, mulai menyukai kekurangan bahkan mulai mengetahui dan memanfaatkan kelebihan diri sendiri. Meskipun demikian, self love tidak dicapai dan berhenti dalam satu momen penerimaan diri saja. Mencintai diri melibatkan suatu proses panjang dan kompleks.

Selang waktu berlalu, orang-orang mulai menyadari betapa pentingnya self love. Mungkin beberapa orang justru sudah muak dengan kata ‘self love’ ini, namun izinkanlah saya menyampaikan beberapa hal tentang fenomena self love ini. Saya akan memulainya dengan melontarkan pertanyaan; Apa jadinya jikalau kita melakukan self love ini secara berlebihan? Apakah bagus atau mungkin akan menjadi petaka? Bagi saya, ketika kita mulai menyukai diri kita sendiri, itu adalah hal yang baik. Namun, jika kita mulai menyukai diri kita sendiri secara berlebihan atau dalam batas tidak wajar, hal ini malah akan membuat diri kita sendiri tidak dapat menerima keberadaan orang lain. 

Mengapa hal ini dapat terjadi? Ketika kita mencintai diri kita sendiri secara berlebihan, maka segala hal dalam diri kita akan terlihat sempurna. Sama halnya ketika kita menyukai seseorang, segala hal tentang orang itu akan terlihat indah dan sempurna di mata kita. Ada yang bilang, bahwa cinta itu buta, mungkin hal ini ada benarnya. Idiom ini, dapat menjadi multitafsir, namun dalam konteks ini, rasa cinta yang berlebihan terhadap diri sendiri akan membutakan kita ketika melihat apa yang ada dalam diri orang lain.

Rasa cinta terhadap diri sendiri, lantas membuat kecenderungan narsistik dalam diri kita menjadi dominan. Merasa menjadi makhluk paling sempurna ada kalanya membuat kepercayaan diri meningkat. Tetapi merendahkan orang lain karena merasa bahwa mereka tidak sesempurna kita justru akan menimbulkan masalah. Lalu bagaimana hal ini dapat terjadi? Apa yang membuat fenomena yang seharusnya berdampak baik ini menjadi suatu masalah?

Narsisme dalam diri manusia menjadi salah satu penjelasan logis terhadap self love yang seharusnya menjadi sesuatu yang berdampak positif justru berpotensi menjadi masalah. Munculnya istilah narsisme, berkaitan erat dengan kisah Narcissus dalam mitologi Yunani kuno. dalam mitologi tersebut, dikisahkan bahwa Narcissus adalah seseorang yang begitu rupawan hingga ia jatuh cinta dengan bayangannya sendiri. Ada satu versi yang menceritakan bahwa Narcissus dikutuk oleh para dewa untuk melihat bayangan dirinya di permukaan air, lalu jatuh cinta terhadap bayangannya sendiri. Saking kagumnya ia ketika melihat dirinya, Narcissus tidak beranjak dari pinggir kolam tempat ia melihat bayangan dirinya hingga kematian yang tragis menjemputnya.

Dalam versi lain mengenai kisah Narcissus, diceritakan bahwa ada seorang pemuda bernama Ameinias, yang jatuh cinta kepada Narcissus, namun ditolak. Narcissus kemudian memberi Ameinias sebuah pedang sebagai hadiah dan menyuruhnya untuk menjauh. Ameinias kemudian menggunakan pedang tersebut untuk bunuh diri dan ia berdoa kepada Nemesis agar suatu hari Narcissus mengerti bagaimana rasanya memiliki rasa cinta yang bertepuk sebelah tangan. Doa Ameinias lantas terkabul ketika Narcissus terpesona dengan bayangan dirinya sendiri dan ia mencoba menggoda sosok tersebut. Narcissus tidak menyadari bahwa sosok yang membuatnya terpesona itu adalah bayangan dirinya. Narcissus kemudian putus asa, mengambil sebuah pedang, lalu bunuh diri.

Kisah mengenai Narcissus yang terlalu mengagumi dirinya sendiri, lantas menunjukkan bahwa apa yang disebut sebagai self love dapat menjadi suatu hal yang toxic, bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Kecenderungan narsistik dalam diri seseorang, yang kemudian membuat seseorang berpikir bahwa ia adalah orang yang sempurna berpotensi membuatnya merendahkan orang lain dan menyakiti perasaan orang lain. Ketika itu terjadi, orang lain pun akan cenderung tidak menghormati kita pula. Seorang bijak pernah mengatakan; perlakukanlah orang lain sama seperti engkau ingin diperlakukan. Jika kita ingin dihormati, maka kita juga perlu menghormati orang lain.

Seperti juga telah disebutkan di atas, bahwa mencintai diri sendiri itu perlu, supaya kita juga bisa mencintai orang lain. Namun, cinta diri yang berlebihan justru membuat kita tidak dapat mencintai orang lain. Ketika otak telah memproses bahwa diri kitalah yang paling sempurna diantara manusia lainnya, orang-orang disekitarnya pun menjadi tidak terlihat, ada saja kekurangannya. Kemudian, faktor traumatis terhadap orang lain yang kita cintai, juga dapat menyebabkan terjadinya fenomena self love berlebihan ini. Trauma tersebut memungkinkan seseorang untuk memiliki semacam ketakutan untuk mencintai orang lain.


Editor: Michael Pandu Patria
Foto sampul: Akwila Chris Santya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts