semoga langitmu tidaklah mendung kali ini: Kumpulan Puisi Tsaqifah Zeiliana Ardifta

Kumpulan puisi ini: merayakan laraselatan, dan semoga langitmu tidaklah mendung kali ini, ditulis oleh Zeiliana Ardifta. Seorang yang suka menulis racauan isi kepala. Mahasiswi fakultas hukum UNSOED dan aktif di Teater Timbang.


merayakan lara

9 Mei 2023

terima kasih karena sudah berkenan untuk datang
dan menerima beberapa jamuan,
dari undangan yang ku kabarkan kemarin;
aku mengundangmu ke dalam sebuah perayaan akbar satu malam,
dan kami terbiasa menyebutnya dengan pesta bunuh diri.

seperti apa yang sudah ku tuliskan di awal,
kamu diharapkan untuk datang sebagai tamu undangan,
sungguh sebuah kehormatan bagi kami.

di sana kamu akan melihat dari sisi gelap yang berbeda,
pun dengan beberapa orang yang lain.
lalu, ketika tanganmu terangkat pada sulang yang ke sekian,
kamu akan mulai bertanya-tanya;
tentang hidup yang sudah tak ada maknanya lagi.

satu persatu peserta mulai merapalkan mantra
sekumpulan lara dan nestapa yang dirangkai dengan indah

ku lihat tatapanmu yang sudah jauh berbeda,
tubuh kurus sedikit bergetar
gerakan-gerakan kecil pertanda gusar
“apakah beberapa teguk kegelisahan yang kami suguhkan berhasil merasuk dan mendarah?”

kemudian datang seorang penggoda dari meja seberangmu,
wanita bertubuh elok dengan dandanan bak pelacur kawakan
—yang gemar mencicipi satu tubuh ke tubuh lain,
hanya untuk merasakan hangatnya sebuah pelukan.
“aku gagal dalam mencari arti dari hidup ini, bagaimana denganmu?”
ajakan bersambut hangatnya genggaman,
sudah saatnya bersenang-senang.

hingga kiranya pukul dua belas malam,
hanya tersisa tamu undangan yang masih kuat menggenggam iman
sedangkan mereka yang sudah terlanjur dijemput resah
semakin asik menghiasi panggung perhelatan;
dengan kalimat-kalimat putus asa dan beberapa adegan melodrama.

sudah terbuang puntung yang ke sekian kalinya
tetapi aku masih enggan menyudahi semuanya,
bagiku ini adalah sebuah pementasan yang luar biasa;
semua yang mereka berikan begitu organik dan tulus terasa
— persembahan terakhir dari orang-orang yang ingin segera mengakhiri hidupnya.

satu malam penuh untuk bermain-main dengan duka dan luka,
suatu malam yang cukup besar untuk merayakan lara.

selatan

24 maret 2023

apabila nanti engkau bertemu denganku lagi,
mungkin aku sudah bukan seseorang yang seperti dulu;
yang pernah sekuat karang
di tengah deburan ombak kencang di pantai selatan.

yang pernah menawarkan satu juta ton buah angan
yang pada akhirnya kau hempas dan sia-siakan

seperti perahu kecil yang berada di tengah ganasnya samudera;
aku terombang-ambing tak terkendali,
aku kacau tanpa kemudi.

sampai bosan rasanya aku menyalakan api,
tetap saja, satu persatu lentera harapanku kau pupuskan
satu kali, dua kali, tiga kali,
sampai habis tak bersisa sama sekali.

berada di ambang pilu,
mempertanyakan kesungguhan itu.
akhirnya akupun menyerah.
aku juga bisa lelah.

mungkin benar,
bukan aku pelabuhan yang dituju.
bukan aku tempat bersandar yang dimau.

semoga langitmu tidaklah mendung kali ini

1 Maret 2023

langit yang merekah,
semburat jingga memerah
— sama merahnya dengan pipiku
sisa malu semalam sampai terbit sang surya.

dadaku berdebar kencang sekali
ketika beberapa tangkai puisi jelek itu kau haturkan,
jantung ini pun rasanya seperti mau copot
tak kuat menahan setiap gejolaknya.

untuk kali ini,
satu-satunya hal yang ingin ku bunuh hanyalah waktu.

bagaimana rasanya menerjang rimbunnya lautan sepi?
— seperti hari-hari sebelumnya yang hening dan mengheningkan.
maka akan ku tuliskan surat kabar kepada yang terkasih,
apabila akhirnya matahari akan segera ternggelam di batas sore ini
setidaknya ia masih punya bacaan untuk dikenang malam nanti.


Penyelaras aksara: Arlingga Hari Nugroho
Foto sampul: Tsaqifah Zeiliana Ardifta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts