Wajah Kontemporer Dieng, Sebelum Matahari Terbit

DIENGHostel Tani Jiwo melalui penerbitannya baru saja meluncurkan buku perdananya berjudul “Dieng, Sebelum Matahari Terbit” pada Sabtu, (18/9). Buku ini merupakan hasil dari kelas menulis yang diadakan pada Mei lalu. Pesertanya adalah sembilan anak muda lokal yang tinggal di lereng Dieng, Wonosobo, dan Banjarnegara. Acara peluncuran buku diawali dengan diskusi bersama Farid Gaban, jurnalis dan Faiz Ahsoul, pegiat pendidikan komunitas.

“Literasi sangat penting!” Ungkap Farid Gaban ketika diskusi berlangsung. Memelihara dongeng dan cerita lokal adalah memelihara keberagaman dari upaya penyeragaman belakangan ini. Untuk itu, buku ini menjadi penting sebab memotret cerita lokal dan masyarakat desa. Menurutnya, masyarakat desa juga memiliki pengetahuan yang lebih holistik.

Sementara itu, Faiz menegaskan, pengetahuan literasi mula-mula berarti ‘melek’ melihat realitas. Dia juga bilang, buku ini hanya akan jadi tulisan jika tidak diikuti dengan aksi nyata untuk menanggulangi krisis di Dieng.

Pemilik Tani Jiwo, Bob Singadikrama dalam acara peluncuran mengatakan, adanya buku ini bertujuan untuk memalingkan sejenak pandangan orang-orang agar melihat Dieng dan tidak hanya berfokus pada apa yang terjadi di pusat. Peluncuran buku ini juga berguna untuk menambah literasi tentang Dieng yang masih terbatas.

“Buku ini sebagai langkah awal untuk melihat Dieng secara kontemporer,” tambah Farid Gaban. Rancangan membuat buku ini bermula saat Tani Jiwo membuka donasi buku untuk mengaktivasi perpustakaan. 

Buku “Dieng, Sebelum Matahari Terbit”

Berhasil mengumpulkan lebih dari 50-an buku membuat mereka sadar bahwa buku tentang Dieng jumlahnya terbatas. Dari sini muncul inisiatif untuk mengundang teman-teman asli Dieng menuliskan cerita mereka tentang kampung halamannya.

Sembilan orang yang mengikuti kelas menulis Dieng ini yaitu Agas Nugroho, Ali Zaenal Abidin, Annisaa Putri Desihana, Dhimas Ferdhiyanto, Doni Singadikrama, Fuad Khasbiantoro, Jourdan Abdullah, Shinta Dewi, dan Yosi Basuki. Sembilan penulis tersebut menjalani tiga pertemuan bersama mentor sekaligus editor dari buku ini, yakni Rifai Asyhari. Ia adalah editor EA Books yang juga berasal dari Wonosobo.

Rifai Asyhari bilang, buku ini berusaha untuk membicarakan Dieng dengan narasi yang ringan. Hal ini bertujuan agar buku ini tidak mandeg di kalangan akademisi saja, tetapi dibaca lebih banyak orang. Meski demikian, setiap tulisan merajut benang merah yang sama yakni ditulis secara naratif, didukung data riil, dan diperkuat dengan wawancara.

“Dieng tidak cukup dilihat sebagai tempat wisata, tetapi juga sebagai ekosistem ruang hidup. Ada manusia, hewan, dan alam yang bergesekan. Masing-masing itu saling berpengaruh dan hari ini banyak masalah yang belum ideal,” terang Rifai.

Menurutnya, salah satu tulisan yang sangat menggambarkan krisis di Dieng adalah milik Doni Singadikrama. Temuannya mengatakan lahan Cagar Alam Telaga Dringo ternyata dialihfungsikan menjadi lahan kentang oleh oknum. Walau demikian, tidak hanya wajah krisis yang tampil di buku ini.

Rifai memberi sorotan untuk tulisan Ali Zaenal Abidin. Tulisan Ali justru menampilkan harmonisasi yang akhirnya terjalin antara petani dan pendaki Gunung Prau di pos Patak Banteng. Awalnya tanaman kentang petani sering rusak karena volume pendaki yang naik. Sepanjang tahun 2019 saja tercatat lebih dari 100 ribu pendaki lewat jalur pendakian Patak Banteng.

Hal ini membuat pengelola Gunung Prau kerap mengganti tanaman petani yang rusak. Namun, sekarang petani lebih terlibat sebagai bagian dari wisata Gunung Prau. Beberapa petani membuka warung di samping kebun kentang mereka. Semenjak itu, jarang petani yang protes karena tanamannya rusak.

Ali Zaenal Abidin sendiri selaku penulis yang juga hobi naik gunung menemukan hal menarik lainnya selama penyusunan naskah untuk buku ini. Ia mengakui hal tersebut mungkin akan terlewatkan begitu saja jika ia tidak berinteraksi dengan penduduk di sekitar pos pendakian. Dari sana ia tahu, warga sangat menggantungkan diri pada kondisi Gunung Prau.

“Gunung Prau bagi penduduk sudah seperti penjaga, menjaga mereka dari kekeringan. Masalahnya dulu pernah terjadi ketika Gunung Prau gundul, mata air ikut kering,” jelas Ali.

Ia memaparkan, semua penduduk sekitar Gunung Prau selalu menjaga kelestarian alamnya. Salah satunya adalah Mbah Basri yang selama 25 tahun belakangan mengabdikan dirinya untuk menjaga kelestarian Gunung Prau melalui reboisasi. Konsistensi tersebut membuat ia diganjar dengan penghargaan Kalpataru peringkat 1 Jawa Tengah tahun 2019.

Selain Ali, ada Dhimas Ferdhiyanto yang memilih topik sejarah kepercayaan di Dieng. Pusat kebudayaan Jawa Kuno dipercaya ada di sana. Sebab itu, ia tertarik menulis hal tersebut.

“Saat ini sekitar 99% masyarakat Dieng beragama Islam. Sementara di Dieng ditemukan banyak candi Hindu. Masyarakat Hindu di Dieng terus mengalami penyusutan, hanya bertahan sampai tahun 1980-an,” jelasnya.

Menurut Dhimas, sejarah kepercayaan di Dieng menarik karena selalu mengajarkan manusia untuk menjaga alam. Kepercayaan tersebut selalu menganggap alam sebagai bagian keluarganya. Sebab itu, tak jarang ditemukan nama anak berunsur alam atau sebuah pohon yang diberi nama layaknya manusia. Dengan demikian, masyarakat pasti menjaga alamnya.

“Kepercayaan yang pernah ada di Dieng dan kepercayaan ini mengajarkan manusia menjaga alam, tapi sekarang terlupakan. Semoga masyarakat tidak hanya sembahyang, tetapi juga mengamalkannya,” harap Dhimas.

Penulis lain, Yosi Basuki mengangkat cerita prosesi pemotongan rambut gimbal dari perspektif berbeda. Ia menaruh perhatian pada keluarga dan tetua yang menjalankan ritual pemotongan rambut.

“Pembahasan tentang rambut gimbal sendiri sudah banyak banget, tapi selalu terfokus ke anak. Aku ingin memberikan sudut pandang lain yang menarik tentang ritual ini,” papar Yosi.

Dalam tulisan, ia juga menceritakan bagaimana lokasi larungan rambut gimbal dipindah ke Telaga Warna saat Dieng Culture Festival 2019 untuk kepentingan pariwisata. Padahal, dipercaya prosesi larungan seharusnya dilakukan di saluran air yang mengalir ke Samudra Hindia, mengacu pada tempat Nyi Roro Kidul, atau ke Telaga Balekambang tempat Kyai Kolodete dulu bersemayam.

Yosi berharap buku ini dapat menjadi bukti bahwa masyarakat lokal Dieng mampu menuliskan cerita dari sudut pandangnya sendiri. Harapan lainnya, semoga buku ini dapat dibaca lebih banyak orang. Secara pribadi, ia masih akan melanjutkan menulis tentang tumbuhan dan tanaman yang ada di Dieng.

“Meskipun terbilang singkat, kami semua sangat enjoy dengan proses penulisan. Bisa dibilang kami bela-belain waktunya untuk ini,” tegasnya.

Setelah peluncuran buku pertama ini, Penerbit Tani Jiwo tidak akan akan berhenti. Nantinya akan dikumpulkan lebih banyak anak muda lokal untuk menulis tentang Dieng melalui Kelas Menulis Dieng.

 

Editor: Andreas Pramono
Foto: Sinlu Adji

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Related Posts