Sirkus Barock Berdialog Mengenang WS Rendra


Sirkus Barock, pada Sabtu 7 November kemarin baru saja menghelat acara bertajuk Dialog Dengan Sejarah Sirkus Barock Mengenang WS Rendra. Acara ini guna memperingati hari lahirnya sastrawan sekaligus budayawan besar negeri ini WS Rendra.

Acara yang disiarkan di akun Youtube Sirkus Barock Official tersebut dibuka dengan sebuah catatan dari Sue Piper, istri dari Sawung Jabo, yang pernah bergabung dengan Bengkel Teater Rendra. Dia memaparkan beberapa sepak terjang Rendra dan Bengkel Teater, termasuk juga pementasan yang pernah dijalani bersama. 

Terselip salah satunya cerita tentang Panembahan Reso, sebuah pementasan berdurasi 7 jam. Konon, hanya seperempat dari total penonton yang pulang sebelum pentas selesai. Sue Piper menceritakan bagaimana penonton seperti sedang pergi berpiknik tikar dan bekal makanannya.

Bagi Sue Piper, Rendra termasuk salah satu orang Indonesia yang sangat berharga. Bukan hanya sebagai teman maupun guru, namun sebagai orang yang berani menggugah hati nurani Indonesia dalam drama dan puisinya.

Dalam pentas musik berbalut dialog ini, Sirkus Barock menampilkan lagu-lagu yang liriknya dibuat oleh almarhum Rendra. Sebuah pelataran rumah yang bercorak bata dan ornamen kayu dengan alas tanah kosong menjadi latar pentas lagu-lagu Sirkus Barock dibawakan.

“Kemarin dan esok / adalah hari ini / bencana dan keberuntungan sama saja / langit di luar / langit di badan / bersatu dalam jiwa” – Kemarin dan Esok

Bagus Mazazupa (keyboard), Joel Tampeng (gitar), dan Ucok Hutabarat (violin) bersahutan menyajikan repertoar pertama. Di samping mereka, Ruben Pangingkayon (gitar), Sinung Garjito (bass), dan Denny Dumbo (drum) mengiringi pembukaan set list ini.

Sayang, pada sore itu, Sawung Jabo tidak turut serta dalam jajaran pemusik yang tampil. Namun demikian, Sawung Jabo tetap tersambung dalam jaringan dari Sydney, Australia.

Sawung Jabo mengatakan, WS Rendra adalah cenayang sekaligus lawan bicara baginya. Suatu saat setelah sebuah pentas bersama Bengkel Teater, Sawung Jabo yang masih tergabung dalam Kelompok Kampungan dihampiri Rendra. Kata dia, jika Sawung Jabo melakoni jalur ini dengan serius, dia akan orang yang ‘jadi’ di dunia kesenian ini. Setengah sadar, Sawung Jabo mengiyakan perkataan itu dan menganggap Rendra sebagai peramal. Setelah itu, akhirnya Rendra juga yang jadi guru hidup dan berkesenian bagi Sawung Jabo.

“Banyak orang hilang nafkahnya / aku bernyanyi menjadi saksi / banyak orang dirampas haknya / aku bernyanyi menjadi saksi / mereka dihinakan / ya, tanpa daya / terbiasa hidup sangsi“ – Kesaksian

Ruben Pangingkayon yang juga pernah hidup bersama dengan WS Rendra menceritakan bagaimana Rendra adalah seorang guru sekaligus ayah di Bengkel Teater. Sedangkan, lewat penulisan Rendra di lagu Kesaksian, Sinung Garjito memegang suatu pesan untuk selalu menjaga hidup bersama sebagai manusia.

“Jangan merasa suci / jangan suka membenci / dengarkan nuranimu / bicaralah dengan cinta / jaga kata-katamu / jaga kelakuanmu / dengarkan nuranimu / bicaralah dengan cinta” – Bicaralah dengan Cinta

Sebenarnya ini bukan kali pertama Sirkus Barock mengadakan acara untuk mengenang WS Rendra. Denny Dumbo mengingat, setidaknya sudah empat kali acara seperti ini diadakan, baik di Jakarta, Surabaya, atau Yogyakarta sendiri. 

Hari lahirnya WS Rendra juga diperingati sebagai Hari Kebudayaan Nusantara. Ucok Hutabarat mengatakan, Rendra telah memulai dengan menyebarkan bibit-bibit kebaikan di masa lalu. Sekarang, tinggal bagaimana kita merawat bibit itu untuk tetap tumbuh.

“Mungkin banyak yang sudah kita kerjakan / banyak lagi yang belum kita lakukan / jatuh bangun jatuh lagi / bangun bangun bangun lagi / lebih baik merangkak dari pada berhenti” – Bisikan Langit

Sore itu, selain mengenang WS Rendra, Sirkus Barock melalui Bagus Mazazupa juga mengumumkan peluncuran buku Senandung Anak Wayang. Ini adalah buku notasi balok yang berisi 69 lagu Sirkus Barock. Angka 69 dipilih sekaligus untuk merayakan usia Sawung Jabo yang menginjak 69 tahun ini. Seperti diketahui juga, Sirkus Barock telah dirintis Sawung Jabo sejak tahun 1976. Artinya, tahun ini Sirkus Barock telah berusia 44 tahun. 

“Di lingkaran kami berpandangan / di lingkaran kami mengucapkan / aku cinta padamu” – Lingkaran, Aku Cinta Padamu

Sore itu begitu banyak pihak yang mendukung acara tersebut. Video testimoni berderetan selepas lagu terakhir selesai dibawakan. WS Rendra mungkin telah meninggalkan kita, tapi bibit baiknya selalu dirawat setiap hari. 

Selamat Hari Kebudayaan Nusantara.

 

Editor: Arlingga Hari Nugroho

Foto: Sirkus Barock (Youtube)


Leave a Comment