Baca Juga: That Breakfast, We Turned Into Rockstars | Bagian Pertama Fiksi Sejarah Britpop
Aku buru-buru membereskan gulungan kabel yang menghabiskan waktuku sedari toko buka. “Kau tidak akan percaya kalau kuberitahu, Ron.” “Aku tidak percaya kau tidak memberitahuku sebelumnya!” sergah Ron. Ia tidak kesal, hanya tidak percaya aku mengenal sang musisi tanpa memberitahunya. Asal tahu saja, Ron sudah menunggu-nunggu sejak Weekend Classics Radio Show minggu lalu mengumumkan akan mendedikasikan akhir pekan berikutnya untuk lagu-lagu Donovan. “Maaf,” Donovan menyela, “Kukira kau ada waktu untuk minum kopi?” “Tentu,” jawabku segera. Aku menyambar jaket dan mengikutinya keluar toko. Kami berjalan melewati beberapa bangunan tanpa ada tujuan pasti. Donovan menanyakan berbagai hal yang fasih dibicarakan orang-orang Denmark Street—toko gitar yang hendak tutup, kafe yang sepi, pemburu instrumen musik klasik, harga sewa semakin mahal, dan sejarah yang selalu menjadi kebanggaan. Kami harus melewati restorasi dan beberapa proyek berisik lainnya. Umum diketahui, kini Denmark Street menghadapi peremajaan demi peremajaan. Baja dan beton terpasang berkilau seperti baru. Sejumlah gedung terdaftar sebagai bangunan bersejarah yang tidak boleh dihancurkan, tetapi tentu saja tak luput dari modernisasi kecil-kecilan. Mereka hanya dapat digunakan untuk tujuan industri musik. Sekelompok pekerja sedang membersihkan 12 Bar Club yang terletak di nomor 26. Sejak berdiri pada 1994, klub bar itu mengadakan pertunjukan terakhirnya semalam. Ia kini menjadi bagian dari proyek pembangunan ulang. Adele, Damien Rice, Keane, hingga The Libertines tampil di sana pada awal karier mereka. Namun pada akhirnya klub bar itu hanya menjadi salah satu proyek peremajaan yang bisa dibongkar-pasang. Live Music 7 Nights A Week, demikian tulisan di dinding bagian depannya. Kami memandang bar yang kosong itu dari seberang jalan. “Sulit dibayangkan akhirnya ia bernasib seperti La Gioconda,” singgungku. Donovan tampak setengah melamun. Baru setahun yang lalu, Donovan tampil di depan La Gioconda. Orang-orang berkumpul menikmati nada-nada riang yang dibawakannya. Sudah lama tak ada sesuatu yang menghebohkan di Denmark Street. “Tin Pan Alley, Denmark Street. Where the worlds and music meet,” lantun Donovan. Melihat penonton bertepuk tangan meriah, ia semakin bersemangat. Seusai penampilan spontan itu, Donovan dan beberapa musisi lainnya meresmikan plang Tin Pan Alley berwarna biru yang terpampang di dinding kafe bagian depan. Plang itu menjadi penanda—setidaknya pengakuan—terhadap urun sejarah Denmark Street. This street was Tin Pan Alley. 1911-1992. Home of the British Publishers and Songwriters and their meeting place in The Giaconda.***
“Seumur hidupku, aku pernah sekali menjadi peramal.” Donovan tersenyum mengingat momen tersebut. Sepotong lirik lamat-lamat terdengar dari balik etalase berkaca. Lagu itu tak mengganggunya, justru membawa suasana nostalgia yang menyenangkan. “Aku belum pernah bertemu dengannya sampai satu tahun kemudian. Linda datang dan menjawab lagu itu,” kata Donovan, menyebut nama istrinya. “Single pertama yang cukup membanggakan, bukan?” Ia mengedikkan bahu. Beberapa tahun sebelumnya Donovan hanyalah remaja yang sibuk mengamen, belajar gitar, sembari mengulik musik folk dan blues. Ia masih pemuda bermata sayu dengan alis lebat. “Aku tak pernah bermaksud menjadikannya naif. Lagu itu tahu apa yang dikatakannya. Ia menceritakan cinta tak berbalas; sesuatu yang kau inginkan tetapi tak bisa kau dapatkan. “Saat sedih, lagu sedih menghibur kita. Tidakkah kita merasa bisa bangkit kembali? Sesuatu dalam lagu itu menyentuh kita.” Donovan menepuk dadanya lalu memegang tanganku erat. “Ia membawa keberuntungan kepadaku.”… For standin’ in your heart is where I want to be, and I long to be. Ah, but I may as well, try and catch the wind.
— Catch The Wind, Donovan
*) Kisah ini merupakan bagian kedua dari 4 babak cerita fiksi sejarah Britpop karya Brigitta Winasis. Editor: Tim SudutKantin
1 comment