Berkat Semesta dalam Sebuah Telur

telur penyu
Foto: Bima Chrisanto

Ada telur lagi mas

Sebuah pesan singkat masuk ke salah satu gawai teman. Pesan tersebut diteruskan ke grup untuk menunggu siapa yang hendak ikut ke Pantai Samas untuk memindahkan telur penyu tersebut ke tempat yang lebih aman. Kurang lebih begitulah kegiatan saya beberapa minggu terakhir. Pulang pergi ke selatan Yogya untuk membantu jalannya karya semesta.

Pantai Samas adalah benteng terakhir konservasi penyu yang ada di Yogyakarta. Tidak banyak yang tahu keberadaan konservasi ini, bahkan untuk orang Yogyakarta asli sekalipun. Minimnya sorotan dan perhatian tidak menyurutkan semangat anak-anak muda yang tergabung dalam komunitas Reispirasi untuk menjalankan tugasnya.

Saya sendiri sudah dua tahun terakhir aktif berkegiatan di Reispirasi. Pertemuan awal dengan komunitas ini karena ketidaksengajaan. Mungkin semesta sudah merencanakan bahwa saya akan menjadi salah satu tangan dari banyak tangan lainnya yang membantunya bekerja.

Komunitas yang berdiri sejak 2010 ini diprakarsai oleh Deny Widyanto dan Lukas Nopembrian. Berbekal kenekatan, mereka menyambangi konservasi penyu Pantai Samas yang sudah dimulai oleh Pak Rujito, nelayan Pantai Samas. Pak Rujito sendiri sudah memulai konservasi sejak tahun 1998, tanpa sorotan siapapun, tanpa bantuan siapa-siapa. Sekarang Reispirasi hadir membantu Pak Rujito mengelola konservasi penyu Pantai Samas, baik dari segi publikasi maupun kegiatan fisik seperti merelokasi telur penyu.

Sesampainya kami di Pantai Samas, kami langsung menuju rumah Pak Rujito untuk membawa telur yang sudah dikumpulkan ke kompleks kolam yang berada di barat rumah Pak Rujito. Proses pertama yang harus kami lakukan adalah mengganti pasir yang ada di buis sumur dengan pasir baru dari bibir pantai.

Penggantian pasir berfungsi untuk mengurangi kemungkinan adanya kepiting kecil yang bisa merusak telur. Biasanya perlu 8-16 ember cat besar ukuran 25 liter untuk membuat buis sumur tersebut penuh.

Proses selanjutnya adalah memadatkan pasir-pasir tersebut guna mencegah terjadinya longsor pada saat pembuatan lubang sarang untuk meletakkan telur-telur penyu. Caranya, pasir cukup diinjak-injak sampai dirasa sudah lumayan padat.

Pembuatan lubang sarang harus dilakukan manual sedalam lengan orang dewasa, kurang lebih 45cm. Meletakkan telur pun tidak boleh asal-asalan. Menurut pengalaman Pak Rujito, bagian telur yang cekung harus diletakkan menghadap samping, dan disusun seperti piramida. Setelahnya, cukup tutup dengan pasir yang ada di sekitarnya tanpa perlu dipadatkan.

Waktu inkubasi telur kurang lebih 40-50 hari sejak dipindahkan. Namun, hitungan tersebut bisa saja maju ataupun mundur beberapa hari, tergantung cuaca.

Masa peneluran penyu dimulai sejak bulan Mei sampai awal Agustus. Jika sudah memasuki masa puncak, dalam seminggu, bisa 2-3 kali saya dan teman-teman harus ke pantai untuk relokasi telur. Apakah melelahkan? Bisa dikatakan seperti itu, tapi jika dijalani dengan hati, senang saya rasanya. Lelah tersebut akan terbayar lunas jika bisa melihat penyu-penyu itu berenang kembali ke laut.

Perjalanan saya dan teman-teman menuju ke selatan tidak sebanding dengan perjalanan telur-telur itu kembali ke laut. Dimangsa predator alami, krisis lingkungan, perburuan ilegal, sampah plastik, bahkan wisata yang tidak mengindahkan kaidah konservasi masih sering terjadi di Samas.

Manusia sebagai makhluk yang diberikan akal budi sering kali lupa akan kodratnya, yakni menjaga titipan semesta. Sifat serakah mengambil alih pikiran dan merugikan banyak pihak termasuk telur-telur penyu yang tidak berdosa itu.

Sikap tidak bijak kita dalam merawat titipan semesta tercermin lewat kehidupan kita sehari-hari. Penggunaan plastik sekali pakai yang tidak benar bisa meningkatkan jumlah sampah plastik. Di kota, kita mungkin membuangnya di tempat sampah, tapi apa kita tahu ke mana semua sampah plastik itu benar-benar berakhir? Ke laut, habitat dari telur-telur yang nantinya bakal hidup.

Total 3.2 juta ton sampah plastik lari ke laut lepas tanpa pengolahan yang benar. Tidak jarang bila kita kerap menemukan berita penyu terdampar mati dan di dalam perutnya terdapat sampah plastik dengan jumlah yang besar.

Wejangan dari Mas Deny (Deny Widyanto) yang selalu saya ingat adalah bahwa ketika kita membicarakan konservasi, kita tidak hanya berbicara tentang penyunya saja. Lebih luas dari itu, konservasi berarti habitat penyu itu berada serta masyarakat yang ada di sekitarnya. Bahkan yang sebenarnya perlu dikonservasi adalah pola pikir manusianya, agar bisa hidup selaras dengan alam tanpa perlu saling menyakiti.

Dari sebutir telur penyu, kita harus belajar bahwa perjalanan konservasi penyu di Pantai Samas masih panjang dan tidak akan mudah. Meski demikian, bukan berarti kita harus menyerah pada keadaan.

 

Editor: Endy Langobelen

Foto: Bima Chrisanto

2 comments
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts