JNM Bloc, Menciptakan Ruang Kreatif yang Berkelanjutan di Yogyakarta

Beberapa waktu lalu muncul akun media sosial JNM Bloc. Postingan pertamanya (16/6), mengumumkan adanya kerjasama antara Yayasan Yogyakarta Seni Nusantara (YYSN) yang menaungi Jogja National Museum (JNM) dan PT Radar Ruang Riang (M Bloc Group). Seperti diketahui, dua entitas ini memiliki benang merah dalam pengelolaan ruang kreatif untuk seni dan budaya.

JNM sebelum pada tahun 2006 direnovasi oleh KPH. Wironegoro, M.Sc., telah memiliki sejarah yang panjang. Di dalamnya mengalir darah seni yang kental. Tercatat pada tahun 50-an, JNM merupakan gedung Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) sebelum menjadi Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) pada tahun 80-an. Sesudah pada tahun 1998 Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta berdiri di Sewon, kawasan ini otomatis kosong dan kurang terawat sampai akhirnya dipugar. 

Setelah tahun-tahun itu, JNM adalah tempat perhelatan dan pertemuan berbagai acara kesenian, seperti pameran, konser musik, dan kegiatan lainnya. Yang paling besar, misalnya ARTJOG yang sejak tahun 2016 pindah ke JNM.

Sementara PT Radar Ruang Riang (M Bloc Group) merupakan induk dari M Bloc Space yang mengubah kompleks bekas Percetakan Uang Republik Indonesia (Peruri) menjadi ruang kreatif dan venue musik untuk komunitas lokal. Di sana juga ada M Bloc Shophouse yang memajang jenama lokal mulai dari makanan, komik, hingga pakaian. Tempat ini sudah kesohor jadi jujukan muda-mudi ibukota untuk nongkrong. 

Belakangan diketahui mereka juga akan mengelola aset milik PT Pos Properti, dengan nama Pos Bloc. Walaupun baru berusia dua tahun, M Bloc Group terbukti adaptif dan berkomitmen untuk tetap menghadirkan ruang kreatif berbasis komunitas lokal yang berkelanjutan. 

Dalam kaitannya dengan peluncuran JNM Bloc, Sudut Kantin Project berkesempatan melakukan wawancara dengan CEO JNM Bloc, Lance Mengong. Kami berusaha mencari tahu apa itu JNM Bloc, persiapan peluncuran, dan kegiatan ke depannya.

Apa itu JNM Bloc? Mengapa akhirnya terjalin kerjasama antara JNM dan PT Radar Ruang Riang (RRR)?

JNM Bloc adalah penyatuan dari dua DNA yang sama kuat. JNM kan sudah punya sendiri karakteristiknya. Kalau menurut istilah teman-teman, JNM itu adalah kanvas kosong. Setelah dari kampus ASRI ada beberapa saat (JNM) kosong, terus diaktifkan sama teman-teman yayasan. Akhirnya dianggap sebagai kanvas kosong, tempat melaksanakan aktivitas seni dan budaya di Jogja. Kan sudah kelihatan itu ada ARTJOG, Biennale, JAFF dulu pernah di situ, Pinastika juga awal-awal di situ. Itu kekuatan (JNM) ada di situ. Sementara di RRR, kami punya karakteristik juga. Selama dua tahun ini kami coba membangun ekosistem bisnis yang punya creative hub, tetapi dilapisi dengan sustainability ekosistem bisnisnya. Itu dua hal yang akhirnya kami gabungkan.

Bagaimana awalnya pengembangan jaringan ini terjadi, antara RRR dan JNM?

Sekitar dua bulan yang lalu, ada teman-teman JNM berkunjung ke M Bloc, Jakarta. Mereka datang langusng ke tempat ini, melihat bagaimana M Bloc punya ekosistem bisnis yang sustain. Dua kali kami bertemu dalam minggu yang sama. Dari sana mungkin ada kecocokan, muncul chemistry yang baik, seperti baut yang ketemu murnya. JNM punya akses yang sangat baik, salah satunya luas cakupan wilayahnya, 1,4 hektare. Kemudian ketemu sama bautnya, M Bloc yang punya pengalaman mengelola area yang luas dan punya ekosistem bisnis yang sustain. Jadi itu yang mempertemukan kita.

Jadi nantinya akan ditanamkan DNA sustainability di JNM?

Sekarang kan JNM itu ibarat kanvas kosong. JNM menyediakan ruang buat komunitas mengadakan program di situ. Kalau di luar program-program itu, tidak terjadi aktivitas lain. Misalnya kalau ARTJOG sudah selesai, ada enam sampai tujuh bulan yang kosong. Paling ada kegiatan kecil, tetapi belum memikirkan kegiatan bisnis yang sustain. Kalau di M Bloc kan kami mendatangkan orang setiap hari dengan adanya program dan diskusi, disediakan juga seperti Mr. Roastman, Titik Temu, Connectoon. Ini adalah usaha untuk membuat ekosistem bisnis yang berkolaborasi tetap dengan teman-teman komunitas atau start up, tetapi berkelanjutan. Jadi dari hari ke hari ada aktivitas.

Apakah nanti JNM Bloc akan memiliki bentuk seperti M Bloc?

Sebenarnya sebelum ini juga sudah ada benih-benihnya. Dulu kan (JNM) disiapkan menjadi tempat interaksi komunitas juga. Dulu sempat ada kegiatan-kegiatan pop up lepasan gitu yang melibatkan musik dan seni. JNM sendiri sudah sangat kaya dengan aktivitas seni dan budaya.

Bagaimana nanti pengembangan ruang di JNM?

Pengembangan ruangnya nanti akan bertahap. Kalau ruangan utama seperti yang di depan akan tetap jadi ruang untuk kolaborasi dengan publik. Sementara, ruang lain ada yang sudah dikelola yayasan dengan FnB, studio musik, Casa Wirobrajan, dan juga kantin. Itu akan tetap ada. Secara model bisnis nantinya akan mengembangkan kekuatan basis yang ada di Jogja, komunitas seni atau musik. Untuk ekonomi kreatif saya rasa nanti akan sangat kolaboratif di ruang yang kami sediakan.

Sampai sekarang, bagaimana animo tenant yang ingin kolaborasi di JNM Bloc?

Udah lumayan, animonya sejak awal sudah banyak banget yang ingin bergabung. Ada semacam kerinduan untuk membuat sesuatu yang menarik di dalam kantong yang baru dan cukup netral. (JNM Bloc) nantinya juga bisa didatangi oleh berbagai macam pihak. Dengan adanya ruang yang cukup luas ini harapannya bisa jadi tempat bertemu, dan berdiskusi untuk membuat sesuatu yang baru.

Apakah kunci untuk membuat ruang kreatif berkelanjutan?

Kami baru juga di model bisnis ini. Baru dua tahun menjalankan M Bloc Space. Dalam enam bulan pertama berjalan, lalu ada Covid-19. Jadi kami banyak melakukan pivoting bisnis secara internal. Ada usaha untuk merespons Covid-19 agar kami tetap bisa berjalan.

Kuncinya adalah sustainability, bagaimana membuat ekosistem yang berkelanjutan. Caranya adalah memperkuat jaringan komunitas. Jadi kami adalah ekosistem bisnis yang sangat bergantung pada basis kekuatan komunitas yang ada di Indonesia. Kami berusaha menyamakan visi dengan mereka.

Sebenarnya, ada beberapa DNA kita yang terbaca jelas. Di antaranya adalah historical, kami mengelola situs bersejarah, jenama lokal, UMKM, dan ketelusuran. Nah, ketelusuran ini maksudnya asal usul. Anak sekarang punya keingintahuan yang besar terhadap apa yang mereka pakai, bikinnya di mana, barangnya dari mana. Curious customer itu yang kami manfaatkan sebagai kekuatan kami. Selain itu, ekosistem kami juga cashless, ini berguna untuk mengurangi kekeliruan. Masih ada beberapa DNA yang kami bangun di RRR. 

Melihat karakteristik anak muda di Yogyakarta dan Jakarta yang berbeda, bagaimana strategi untuk menggaet pasar?

Kami berhadapan dengan situasi yang sama di M Bloc Space dan market. Tidak semua market bisa kami rangkul. Tugas kami adalah mencari bagian mana saja yang punya kesamaan DNA dan visi misi. Jadi kami juga mencari dan mendatangi pelaku seni yang ada di Jogja untuk berdiskusi, kira-kira dengan ekosistem yang kita hadirkan di JNM Bloc apa yang bisa kita kolaborasikan. Masukan dari teman-teman Jogja ini yang menjadi dasar untuk melakukan sesuatu yang menarik.

Di website sudah diumumkan ada Paviliun JNM Bloc, apa sebenarnya ini?

Ya sama seperti M Bloc, ada tahapan-tahapan untuk setiap tempat yang kami buat. Kadang untuk fokus dalam satu tahapan itu butuh waktu enam sampai delapan bulan. Nah, di JNM sama, mungkin nanti baru berjalan seluruhnya itu Desember tahun ini atau Februari 2022. Namun, karena tanggal 8 Juli 2021 ada ARTJOG, kita akan bikin dulu ruang kecil yang bisa memberikan gambaran kalau nanti JNM Bloc ada, akan seperti ini. Ada pola-pola kolaborasi, misalnya dengan Papermoon, ada Patjar Merah dan Reda Gaudiamo, ada pameran dari arsitek dan desainer Jogja. Ini akan menampilkan miniatur dari semangat yang ditemui di JNM Bloc.

Bentuk fisiknya kami buat juga, nanti kalau dilihat di Gedung Patung kita respons dengan terusan gedung berbentuk mini amphitheater yang menghadap ke pohon beringin. Di lantai tiga ada pameran Papermoon, nanti di lantai dasar ada kolaborasi pameran teman arsitek dan desainer dari komunitas Yogyakarta.

Harapannya JNM Bloc bisa jadi ruang kreatif publik sekaligus pusat kebudayaan yang bisa jadi regional dan internasional, tapi core-nya seni, budaya, dan hiburan itu saling menghubungkan, melalui kolaborasi, edukasi, dan partisipasi. 

Dengan kondisi pandemi yang sedang naik, apakah cukup mengganggu persiapan JNM Bloc?

Terganggu lumayan, kami sedang mengumpulkan data-data yang lebih valid dan resmi, bukan dari media sosial. Kami tidak reaksional. Pasti ada plan A, plan B, plan C. Kami ikut teman-teman ARTJOG juga bagaimana. Simulasi jika keadaan berubah juga sedang kami buat.

 

Editor & Foto: Arlingga Hari Nugroho
Ilustrasi: Amry Hidayat (Jogja Method)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts