Kali Nadi Kota Kami: Menanam Kebaikan dari Bawah Jembatan Kali Gedhe Boyolali

(dok. Arlingga/Sudut Kantin)

Republikasi artikel “Kali Nadi Kota Kami: Menanam Kebaikan dari Bawah Jembatan Kali Gedhe Boyolali” yang ditulis oleh Arlingga Hari Nugroho dalam Saba Magz vol. 1/September 2021.


Kawanan burung sriti terbang dan berkicau di sepasang lorong kaki Jembatan Gedhe, Kecamatan Boyolali, Jawa Tengah. Setiap lorong kaki jembatan dialiri sungai kecil dari sela-sela bebatuan di depan Taman Kali Gedhe. Pada salah satu sisi Taman Kali Gedhe, terdapat lukisan dinding (mural) bertuliskan “Kali Nadi Kota Kami”.

Boyolali tidak hanya hidup dalam bayangan lanskap pegunungan. Kota yang memiliki julukan New Zealand van Java ini juga punya ekosistem kali (sungai) yang dekat dengan masyarakat. Kali-kali ini melintas dalam tata ruang kota hingga pedesaan.

Sebelum pandemi, perayaan hari jadi Kabupaten Boyolali kerap digelar di Taman Kali Gedhe dengan acara Niti Tilas Ki Ageng Pandan Arang. Masyarakat setempat percaya, asal usul nama Boyolali tercetus ketika Ki Ageng Pandan Arang beristirahat di sebuah batu besar yang ada di tengah kali. Saat itu, ia menunggu istri dan anaknya dalam suatu perjalanan menuju Gunung Jabalakat, Tembayat (Klaten).

Selanjutnya, nilai historis itu menjadikan ekosistem kali menjadi relevan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Boyolali, tak terkecuali anak-anaknya.

“[Ketika] kecil kami petualangannya di kali. Hunting bersama teman-teman pakai sepeda. Lalu pernah ketemu mata air,” ucap Adi ketika mengenang masa kecilnya. Adi merupakan seorang seniman asal Boyolali yang sempat menempuh studi desain interior di ISI Surakarta.

Setelah sempat belajar dan bekerja di luar kota, Adi memilih untuk pulang dan menjawil beberapa teman di kota kelahirannya. Adi bersama teman-temannya; Rudy, Parcil, Radit, Galing, Dodo, dan lainnya, melakukan pembacaan ulang atas ruang berkehidupan bersama, salah satunya adalah Taman Kali Gedhe.

Adi bersama teman-teman berkumpul di bawah jembatan Kali Gedhe Boyolali (dok. Arlingga/Sudut Kantin)

“Oh ternyata [di] akar ku ada tempat yang bisa buat main-main,” ujar Adi sembari menunjuk ke satu arah, ”ya di kali ini.”

Lokasi Taman Kali Gedhe terletak di Kampung Sumberlerak, Kelurahan Siswodipuran, atau sebelah utara Simpang Lima “Arjuna Wijaya” tepat di belakang bank Boyolali. Mengutip Solo Pos pada tahun 2017, Pemkab Boyolali berencana merevitalisasi sungai ini dengan dibiayai APBD Boyolali senilai Rp968 juta. Sebuah agenda menciptakan pemandangan sungai yang bagus, wahana taman air, dan sarana sekolah sungai.

Namun kini, Taman Kali Gedhe tak tampak seperti yang diharapkan. Beberapa titik sengkedan mulai dipenuhi tumbuhan liar. Begitu pula jalan setapak yang tersusun dari olahan batu berbentuk persegi di tengah sungai mulai hanyut dan terpencar.

Tepat pada malam Satu Suro (10/8) lalu, Adi, Radit dan kawan-kawan lainnya merespons salah satu dinding taman dengan tulisan “Kali Nadi Kota Kami”. Tak hanya itu, mereka juga melakukan bersih-bersih kali dan memetakan ulang ruang yang bisa digunakan kembali. Kegiatan ini mendapat tanggapan positif dari warga kampung sekitar.

Pemilihan diksi “Kali Nadi Kota Kami” menjadi kultus atas pentingnya ekosistem kali bagi kota Boyolali. Mereka yakin, kali memang pernah (dan akan selalu) membawa penghidupan bagi masyarakat luas. Setidaknya, keyakinan itu telah diamini sekelompok pemuda yang kini getol nangkring di Taman Kali Gedhe.

“Jadi tiap kali ya punya manfaatnya sendiri-sendiri buat warga sekitar. Jadi [kata] nadi itu pas buat kita sendiri-sendiri. Seperti nadi pada manusia, nutrisi-nutrisi melewati kota-kota [bisa] digunakan untuk apa saja,” ungkap lelaki gondrong bernama Radit.

Seniman jalanan (street artist) lintas usia lainnya yang terlibat dalam kegiatan ini juga mengusung gagasan yang tak jauh berbeda. Tiap-tiap orang merespons dinding-dinding di kaki jembatan dengan beragam pesan, beberapa di antaranya bertuliskan “Semua Mahluk Berhak Bahagia” dan “Paling tidak mulailah menanam. Boleh tanaman & boleh kebaikan!”.

Bertahan Hidup di Kota Sendiri

Konsekuensi menjadi warga kota yang berada di antara kota-kota besar di sekitarnya adalah godaan hijrah ke luar kota. Keinginan menempuh pendidikan dan pekerjaan di kota besar menjadi salah dua alasan orang-orang untuk meninggalkan kota Boyolali. Setidaknya hal serupa pernah dialami oleh Adi dan Radit.

Larut berkegiatan di kota lain, terkadang menimbulkan kesan terasing dalam diri ketika pulang kembali ke kota asal. Radit mengakui, memilih kota Jogja sebagai ruang singgah menempuh bangku kuliah, justru kerap kali mengasingkan dirinya dengan rumah di kampung halaman.

“Ketika temen-temenku pingin main ke Boyolali, kadang aku suka bingung mau ajak main ke mana,” ujar Radit dalam bahasa Jawa. Bila musim libur tiba, Radit sering kali resah mencari ruang yang ramah bagi siapapun. Sebagai seorang pemuda asli Boyolali, keinginannya menciptakan ruang bersama tak jauh berbeda dengan kawan-kawannya.

Jauh sebelum Radit, Adi justru telah lebih dulu merasa hal yang serupa. Sebagai lelaki yang memiliki umur lebih matang di atas Radit, kekhawatiran akan kultur lokal telah menjadi benang kusut dalam pikiran Adi. Benang kusut inilah yang menggerakkan Adi dan kawan-kawan untuk merapikannya sedikit demi sedikit.

“Bisa nggak sih aku menggerakkan kota ku ini? Dengan teman-teman yang ada yang aku punya, mereka punya niat nggak sih meninggalkan kultur yang baik?” ujar Adi sembari menjelaskan pentingnya menanamkan kultur yang baik bagi generasi selanjutnya.

(dok. Arlingga/Sudut Kantin)

Zaman digital memaksa setiap orang harus bergerak lebih cepat dan gesit. Segala informasi hadir melintas tak mengenal waktu. Bagi Adi, hal ini sering kali justru menjadi batu sandungan bagi siapapun yang tidak sigap menghadapinya, apalagi di masa pandemi.

“Di era digital dan pandemi seperti ini, ya kita harus bisa survive di sini. Nggak usah kemana-mana. Semua [bahan] bisa kita olah,” jelas Adi ketika membahas fenomena pandemi yang sedang terjadi, “harus hidup dan menghidupi,” tambahnya.

Bagi Adi, kemampuan bertahan hidup di segala kondisi kelak mampu menjadi kultur yang baik untuk diwariskan. Adi menuturkan, kolong jembatan sering kali menjadi tempat beristirahat bagi kaum tunawisma. Hal ini membuktikan bahwa keterbatasan ruang dan gerak masih dialami sebagian orang.

“Mungkin karena aku pernah lahir di sini, aku juga pingin punya ruang hidup sama teman-teman yang [di sana] itu kita merdeka. Merdeka dalam artian positif ya, karena ini kita dijadikan contoh sama anak-anak akhirnya,” jelasnya.

Untuk bisa menjadi ruang berkehidupan bersama sebagai tempat bertahan hidup di kota sendiri, Adi dan kawan-kawan memiliki harapan untuk nantinya membentuk usaha dagang bersama. Usaha ini dapat berbentuk angkringan atau semacamnya. Angkringan ini bisa jadi salah satu upaya mengurangi krisis kelaparan di tengah pandemi seperti saat ini.

“Kalau ada yang luwe (lapar), makan, ada angkringannya. Gratis untuk yang benar-benar tidak punya uang,” ungkap Adi. Dalam bayangan Adi dan kawan-kawan, usaha ini akan dikelola mandiri oleh warga kampung agar mampu menghidupi ekosistem kali dan sekitarnya.

 

Editor: Agustinus Rangga Respati
Foto: Arlingga Hari Nugroho

 

1 comment
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts