Memikul Beban Buruh Gendong Wanita di Pasar Beringharjo

Buruh Gendong Wanita di Pasar Beringharjo
Foto: Rika Ramadhanti

Sore belum matang benar. Puluhan buruh gendong menyesaki bus menuju ke rumah. Hampir semuanya wanita dan sudah sepuh. Meminjam mata Rika Ramadhanti, ibu-ibu itu bercengkrama menceritakan bagaimana hari ini berjalan dan akan berakhir.

Selendang untuk menggendong sudah terlipat rapi. Seorang ibu merogoh sakunya menarik tujuh ribu rupiah sebagai ongkos, menyisakan selembar lima ribuan sebagai penghasilan hari itu. Besok saat matahari sepenggalah, mereka akan kembali lagi ke Pasar Beringharjo, Yogyakarta.

“Biasanya saat perjalanan pulang, mereka senang karena akan bertemu cucu dan anak-anaknya. Ada juga yang cerita kalau tadi dapat bantuan makanan, jadi bisa buat oleh-oleh cucunya. Kadang ada juga yang mengeluhkan keadaan pasar yang sepi,” ujar Rika Ramadhanti mahasiswi Prodi Fotografi, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Awalnya, Rika sedang menjalankan penelitian skripsinya di Pasar Beringharjo. Sejak November tahun lalu, ia getol mendokumentasikan kehidupan sehari-hari dari para buruh gendong wanita di sana. Namun, kehidupan para buruh gendong wanita ini kian bungkuk sejak pandemi melanda di awal tahun.

Rika menjelaskan, dalam satu hari, biasanya seorang buruh gendong wanita bisa memikul sampai tujuh gendongan. Asal tahu, satu gendongan beratnya bisa mencapai 20 sampai 25 kg. Sedangkan semenjak pandemi, dalam satu hari paling hanya mendapatkan satu gendongan, atau jika tidak beruntung, bisa saja nihil.

Pasalnya, pengunjung pasar jelas berkurang. Toko-toko banyak yang tutup. Hanya sebagian penjual sayuran tetap buka. Jam operasional pasar juga dipangkas. Tadinya, pasar tutup pukul empat. Sekarang, pukul dua siang, pasar sudah harus tutup.

Buruh gendong wanita itu kebanyakan berasal dari Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta. Mereka berasal dari desa yang berbeda-beda. Setiap hari, bolak-balik naik bus. Beberapa lainnya indekos di sekitar pasar. Bahkan ada juga yang tidur di emperan pasar.

Berdasarkan cerita Rika, mereka berjumlah sekitar 200 orang. Rika bisa tahu setelah bertanya pada Mbah Lubikem yang sudah dikenalnya sejak tahun lalu. Dari situ, dia kemudian membuat postingan di akun Twitter-nya mengenai keadaan buruh gendong wanita di Pasar Beringharjo.

Tak dinyana, cuitannya mendapatkan respons baik dari warganet. Postingannya menggugah perasaan banyak orang yang bersimpati dengan para buruh gendong wanita. Sekarang, postingan tersebut mendapatkan 6,5 ribu retweet dan 11,5 ribu likes di Twitter.

Dari sana, Rika berniat menggalang donasi untuk buruh gendong wanita itu. Tadinya, ia berniat merogoh koceknya sendiri untuk membantu buruh gendong. Namun, banyak warganet yang ingin turun berdonasi juga. Rika melihat ada peluang untuk bisa membantu lebih lewat penggalangan donasi di platform *Kitabisa.com.

Sebelum menggalang dana, ia meminta saran dari teman-temannya yang tergabung dalam Komunitas Dapur Balirejo. Komunitas ini sering memberikan bantuan makanan untuk buruh gendong di pasar-pasar Yogyakarta.

Setelah itu, dia mantap membuka penggalangan dana di platform crowdfunding tersebut. Untungnya, banyak teman yang sigap membantunya dengan mengirimkan tautan pranala sehingga membuat aksinya diketahui lebih banyak orang.

Rika menggalang donasi dengan tajuk “Bantu Buruh Gendong Wanita Pasar Beringharjo”. Sampai tanggal 14 Mei 2020, donasi yang terkumpul sebanyak Rp9.951.380,- dari Rp20 juta yang ditargetkan. Donasi ini dibuka selama 30 hari, terhitung sejak tanggal 6 Mei 2020.

Jumlah uang yang terkumpul hingga saat ini berasal dari 191 orang.  Jika dihitung, rata-rata setiap donator menyumbangkan Rp50 ribu rupiah. Dalam banyak kasus, orang Indonesia memang terkenal dermawan untuk hal patungan atau memberi sumbangan.

Cerita menarik muncul saat unggahannya di media sosial mulai ramai. Banyak orang jadi bersyukur atas hidupnya dan tidak banyak mengeluh. Yang lain mulai tergerak hatinya dan mau turun langsung memberi bantuan. Ada juga cerita anak SMA yang mendonasikan uang sakunya dan meminta maaf karena jumlahnya dinilai sedikit.

“Ada juga katanya netizen yang tidak sengaja buka Twitter, terus baca postingan saya yang di-retweet. Dia kepo dan dibaca, lalu dia menangis,” cerita Rika.

Nantinya, berapapun donasi yang didapat akan dialokasikan merata untuk buruh gendong wanita di pasar. Rencananya dia akan memberikan bantuan dalam bentuk sembako. Dalam distribusi, Rika akan meminta bantuan teman-temannya.

Sementara untuk pelaporan hasil dari aksinya, pihak Kitabisa.com berjanji akan mendampingi. Sedangkan Rika berinisiatif untuk mendokumentasikan proses distribusinya kelak sebagai tanggung jawab kepada donator di media sosial.

“Saya dari keluarga orang susah, tapi saya anggap lebih dari cukup. Di luar sana, banyak orang yang lebih susah, jadi harus banyak bersyukur. Semoga teman-teman di luar sana punya kesadaran dan peka terhadap hal-hal kecil yang ada di sekitarnya,” cerita Rika.

Awalnya, Rika tidak menyangka akan sampai seperti hari ini. Dia memilih buruh gendong wanita di pasar karena sosoknya yang sering dianggap remeh sebagai pekerja kasar. Padahal nyatanya, mereka justru lebih ulet dan tekun dalam menjalani pekerjaannya. Mereka juga mampu membawa beban yang berat.

Selain itu, sebenarnya mereka sangat jarang mematok tarif saat melakukan pekerjaannya. Dalam bahasa Jawa, mereka hanya menerima sak ikhlase.

Suatu hari, Rika menemani Mbah Lubikem mengantar 25 kg beras dari Pasar Beringharo ke daerah Juminahan. Jaraknya mungkin beberapa ratus meter dari pasar. Anak tangga di pinggiran Kali Code jadi tumpuan berjalan naik dan turun.

Peluh jelas bertetesan membasahi wajah. Lelah bisa jadi urusan belakangan. Kita tidak boleh lupa, Mbah Lubikem bisa jadi adalah eyang kita, ibu kita, saudara kita, atau tetangga kita yang dalam usia senja masih giat bekerja untuk bertahan hidup sehari saja, hari ini.

 

*Donasi masih dibuka dan membutuhkan uluran tangan kalian. Informasinya ada dalam pranala berikut: https://kitabisa.com/campaign/peduliburuhgendong

 

Editor: Endy Langobelen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Related Posts