New Normal yang Lama

New Normal
Foto: Raditya Ananta Nugraha

Tahun 2020 dapat dikatakan sebagai tahun yang penuh musibah. Salah satu penyebabnya adalah pandemi Corona Virus Disease 2019 atau sering dikenal dengan Covid-19.

Dengan hadirnya pandemi ini, seluruh dunia jadi terkena dampak yang besar, baik dari segi kesehatan, perekonomian, pendidikan, hingga aspek lainnya. Hal ini pun membuat pemerintah dan seluruh rakyat Indonesia kesulitan.

Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk mengurangi penyebaran Covid-19. Mulai dari diberlakukannya social distancing hingga penutupan jalur keluar masuk kota yang dianggap zona merah.

Namun, pada akhirnya, kebijakan-kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah tetap belum mampu untuk menangani pandemi Covid-19 di Indonesia dengan baik. Penulis dapat mengatakan hal tersebut karena masih ditemukannya penyebaran Covid-19 melalui transmisi orang yang berasal dari zona merah.

Hal itu kemudian memicu masyarakat untuk bergerak sendiri dalam rangka mengurangi penyebaran ­­Covid-19 terutama di lingkungan-lingkungan sekitar. Upaya yang dilakukan masyarakat adalah melakukan lockdown desa.

Lockdown desa atau penutupan desa dilakukan dengan cara menutup akses keluar masuk desa dan hanya menyisakan satu hingga dua jalur saja. Selain itu, diterapkan pula protokol keluar masuk desa yang berbeda-beda dari setiap desa.

Secara umum, protokol yang diberlakukan adalah mengenakan masker saat keluar masuk desa, menunjukkan identitas diri (bagi orang luar desa yang akan masuk), serta mencuci tangan sebelum memasuki desa. Ada juga beberapa desa yang bahkan melakukan penyemprotan disinfektan dan melakukan pengecekan suhu kepada orang yang akan masuk desa. Hal ini dilakukan secara mandiri atas kesadaran warga untuk ikut mengurangi penyebaran Covid-19 di desa mereka.

Berlakunya lockdown desa tentunya mengubah perilaku dari warga desa dan lingkungan sekitar yang berinteraksi dengan desa yang menerapkan lockdown. Perubahan perilaku yang dirasakan oleh penulis adalah pada awal dimulainya lockdown, muncul kebingungan di masyarakat karena aktivitas warga tentunya akan terpengaruhi. Tidak sedikit warga yang merasa cemas sehingga desa terlihat sepi, setiap orang mengurangi aktivitas dengan tetangga dan melakukan interaksi yang secukupnya saja. Lalu, ketika warga mulai tidak nyaman dengan “di rumah saja”, interaksi-interaksi langsung dengan tetangga mulai dilakukan kembali.

Seiring waktu berjalan, interaksi yang dilakukan pun semakin sering dan mulai memiliki agenda bersama tiap harinya. Agenda harian yang penulis kerap lihat adalah olahraga bersama seperti bersepeda santai, voli, hingga tenis meja.

Pada malam hari, dijumpai pula anak muda dan bapak-bapak yang berkumpul di pos akses keluar masuk desa. Kegiatan berkumpul yang dilakukan mungkin saja tidak mengindahkan himbauan social distancing, namun masyarakat hanya mencari tempat untuk berinteraksi tanpa harus keluar desa sekaligus menjaga desa mereka tetap aman.

Pemberlakuan lockdown juga memancing masyarakat untuk berpikir bagaimana cara untuk memenuhi kebutuhan pangan dengan cara seminimal mungkin untuk keluar desa. Alhasil banyak warga yang mulai menanam tanaman yang dapat dikonsumsi dan memiliki masa panen yang terbilang cepat serta memelihara hewan yang memiliki nilai guna untuk dikonsumsi.

Penulis melihat perubahan aktivitas masyarakat pada saat pandemi seperti yang telah disebutkan di atas adalah perilaku yang mirip seperti sekitar 15 tahun yang lalu. Aktivitas interaksi antartetangga masih sangat sering dilakukan, kehidupan di desa-desa sangat hidup dengan masyarakat yang berkumpul secara santai. Anak-anak berlarian dan bersepeda waktu sore hari di gang-gang desa. Orang-orang tua yang terlihat merawat tanaman-tanaman di depan rumah sembari memberi makan hewan ternaknya.

Pada bulan Juni 2020, pemerintah Indonesia mulai membuka kembali tempat-tempat umum secara bertahap hingga muncul istilah “New Normal”. Istilah ini dimaksudkan untuk mengartikan kehidupan normal kembali, namun tetap dengan protokol yang dianjurkan. Penulis berharap New Normal ini akan menjadi aktivitas seperti dulu kala, yang mana kepedulian sosial masyarakat semakin meningkat.

 

 

Editor: Endy Langobelen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts