
Kaki Pincang Dab Supri: Kumpulan Puisi Valentino S.
Kumpulan puisi ini: Kaki Pincang Dab Supri, Hujan di Atap Seng, dan Lampu Merah, Cerita Kita ditulis oleh Valentino S. Mahasiswa Sastra…

Yogyakarta Art Book Fair: Kenapa Penerbitan Artistik? Kenapa Sekarang?
Dengan Yogyakarta Art Book Fair, setidaknya ada potensi keterkaitan antara penerbitan artistik dengan gelombang demokratisasi produksi seni dan budaya yang berlangsung dua…

Menjaga Alam Melalui Titi Luri Adat: Perjuangan Kariadi dari Tengger
Kariadi, warga Desa Tosari, gerakkan masyarakat desa untuk pelestarian alam berbasis spiritualitas dan filosofi Tri Hita Karana.

Dari Tribun Jadi Gerakan Jurnalisme Akar Rumput Zine Sepak Bola di Yogyakarta
Yang menarik, praktik zine sepak bola ini tumbuh dari obrolan di warung kopi, dari keresahan yang sama-sama dirasakan, dan dari semangat untuk…

EP ‘Hyacinth’: Repertoar Ketidakbahagiaan yang Menenangkan dari Noire
Mendengarkan EP “Hyacinth (Prologue To Three Stages Of Unhappiness At The Remains And…)” seperti melamun dengan tatapan kosong tanpa memikirkan apapun.

“Jiwa Ketok” Seni dan Kebebasan Berekspresi
Merawat ‘Jiwa Ketok’, sudah sepatutnya dalam praktik kerja kesenian, seniman harus mendapatkan ruang kebebasan dan hak asasinya.

Cinta yang [Dilarang] Marah: Kumpulan Puisi Ayup Armaddi
Kumpulan puisi ini: Cinta yang [Dilarang] Marah, Sebentar Lagi, Namamu Jadi Tabu, dan Menu Santap Malam Penghabisan. Ditulis oleh Ayup Armaddi, seorang…

‘No-Brain Dance’ Y-DRA: 1000% Koplo Eksperimental Asli Indonesia
Enam tahun yang lalu, Y-DRA merilis album ‘No-Brain Dance’ bersama netlabel Yes No Wave Music, sebuah eksperimen liar yang mengacak-acak batas antara…

Anatomi Musik B.O.A.R dan Album Penanda Zaman
Album “Membabi Buta” B.O.A.R menjadi catatan yang jujur dan kontekstual atas situasi sosial dan politik yang sedang terjadi.

Film ‘Cinta Tak Pernah Tepat Waktu’: Problem Tiga Peran untuk Perempuan
Dalam film ‘Cinta Tak Pernah Tepat Waktu’, sang sutradara terkesan terlalu ekstrem memangkas interpretasi cerita dalam novel.

Anti-Tur dan Demiliterisasi: Membongkar Monumen, Melawan Kekerasan Epistemik
Melalui anti-tur dan inisiasi berbasis publik, Kolektif Arungkala membayangkan militerisme perlu dilampaui dengan cara yang sangat beragam, melebar, dan meluas.

Mata Gelap Ali Moesa
Kisahku ini telah menyebar luas di seantero Hindia Belanda melalui surat kabar, hal ini bisa kuketahui ketika persidangan, dimana banyak orang penasaran…












