Single ketiga Sunlotus, “Sunroof Shelter (This Old House)” Kegelisahan di Tengah Modernitas

Sunlotus, band shoegaze asal Blora baru saja melepasliarkan single ketiga mereka yang berjudul Sunroof Shelter (This Old House). Mereka merilis sebuah video lirik di kanal Youtube pada 25 Oktober yang lalu. Momentum ini juga disertai dengan perilisan album This Old House (Héma Label, 2019) dalam format digital di platform The Store Front pada tanggal yang sama. Album pertama mereka ini sebenarnya telah dirilis sejak 8 Mei 2019.

Single ketiga mereka spesial, Sunroof Shelter (This Old House) berusaha menangkap gejala perubahan lingkungan baik secara geografis atau sosiologis. Mengutip tulisan Indra Menus di Siasat Partikelir, Blora kota asal Sunlotus, boleh dibilang sebagai kota yang tandus. Kota ini memiliki hutan jati terbesar di Indonesia. Jadi, bisa dibayangkan bagaimana suasana ketika musim meranggas datang.

Baca juga: Produktif, Gilang Kurniawan Rilis Single Ke-3 “Yang Tersimpan”

Sementara itu, ruang-ruang lain yang tumbuh kian cepat menciptakan perasaan teralienasi atas kehidupan. Di sisi lain, Sunlotus melihat bagaimana menariknya mengamati cara ingatan bekerja untuk mengingat rumah atau kampung halaman. Perasaan terjebak dalam ruang yang telah termodernisasi membawa Sunlotus menangkap kompleksitas dari masalah-masalah di dalamnya.

Single ketiga ini lahir atas pengaruh lingkungan dan perubahan yang terjadi dalam masyarakat. Kondisi manusia di tengah realitas modern tak jarang justru memunculkan perasaan tidak nyaman.

Dalam video liriknya, disajikan potongan-potongan dari daerah paling urban di Indonesia, Jakarta. Potongan-potongan gambar dari moda transportasi paling mutakhir, MRT dan eskalator sepi yang menukik ke dalam tanah menghiasi video ini. Juga bagaimana melenggang di jalan paling sibuk di kota besar itu, melihat gedung-gedung pencakar sembari berderet pelan dengan beberapa taksi di jalanan.

Kolase-kolase yang dirangkai menyajikan kota yang justru terkesan sepi. Atau mungkin dalam bahasa lain, ampang. Beberapa potongan berganti dengan gambar bersaturasi pekat, sebelum menampilkan sudut-sudut gedung tinggi lainnya.

Beberapa potongan lain menampilkan sosok-sosok anak kecil dan orang yang berlalu lalang. Video musik berdurasi 8 menit ini dipenuhi dengan suara gitar yang mengawang dan tajam.

Baca juga: Pertemuan-Perpisahan dalam EP “Titik Temu” Ronaswara

Situasi dalam video musik tersebut mungkin berbeda dari tempat mereka berasal, Blora. Nyatanya, boleh dibilang Sunlotus adalah oase untuk musik shoegaze dari Jawa Tengah. Sunlotus membuktikan, musik shoegaze tidak lagi hanya menjadi hajatan band-band dari kota besar.

Band yang dihuni Made Dharma (gitar), DF Ahmad (gitar) dan Wiwit Nugroho (drum) ini merumuskan musik mereka seperti keadaan iklim di kota Blora. 

Akhirnya walaupun terhimpit pandemi, Sunlotus menjanjikan sebuah upaya produktif untuk memulai tahap rekaman materi EP mereka yang baru. Curi dengar, mereka akan merilisnya dalam waktu dekat. Tentu saja, karya terbarunya nanti juga patut disimak.

Editor: Arlingga Hari Nugroho

Foto: Vito Hogantara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts