Membenci Televisi


Sama seperti pemuda-pemudi seumurannya, Jati tidak punya pilihan. Walaupun penghujung bulan menjadi salah satu waktu yang ditunggu-tunggu, kesempatan untuk rehat dari segala sesak tuntutan masyarakat dan terutama keluarga, ia ogah untuk pulang. Tenang saja, kondisinya cukup stabil. Seorang mahasiswa dengan keadaan ekonomi yang serba pas, ia memiliki keseharian yang cukup dan patut disyukuri mengingat ia masih bisa makan nasi dengan lauk sederhana sejuta umat; telur. Kadang ia menempuh waktu di warkop seberang kampus, bersenda gurau dengan teman-temannya. Apa boleh buat, mereka semua sudah pulang ke kampung halaman masing-masing.

Sebagai putra semata wayang, ia sudah biasa dengan kesendirian, membentuknya menjadi pribadi yang terobsesi dengan detail. Suara galon di tengah malam, raung kucing liar di atap, cicit tikus di sudut kamar merupakan musik pengiring hidupnya. Bapak dan ibunya sama-sama bekerja sebagai buruh di perusahaan swasta, mereka cukup setia, sudah lima belas tahun mereka berada. Namun, itu sebelum ibu menggugat bapak di pengadilan, menuntut perceraian. Kalau boleh jujur, Jati tidak begitu kaget lantaran setiap bulan mulai bersinar, suara-suara aneh mulai bermunculan. Bahkan lebih nyaring dan heboh dibanding suara galon, raung kucing liar, dan cicit tikus di sudut kamarnya. Siapa sangka, suara tamparan dan perabotan rumah yang pecah ialah puncak dari retaknya status perkawinan orang tuanya lima tahun yang lalu.

Lelaki cungkring ini sama sekali tidak terkejut. Toh di layar kaca ada ratusan tayangan semacam itu. Setiap ia menemani eyang putrinya mengiris bawang putih, Jati mengernyitkan dahi akan adegan yang super klise nan dramatis sebegitu rupa sangat digemari oleh eyangnya sendiri. Alurnya selalu sama, wanita yang telah mempunyai pasangan sah berupa lelaki brengsek mulai ketahuan bobroknya di tengah hubungan mereka yang tampak harmonis. Selidik punya selidik, ternyata lelaki itu memiliki hubungan dengan wanita lain selain istrinya sendiri. Biasanya rekan sekantor yang terlanjur jatuh dalam perangkap yang mereka buat secara sadar. Setelah itu, tokoh utama wanita yang digambarkan sangat saleh ini rajin mendoakan supaya suaminya insaf dan menyudahi khilafnya itu.

Baca juga: Sambat Omah (Cerpen)

Namun percuma, suaminya memilih bersama dengan selingkuhannya yang biasanya digambarkan centil dan angkuh, namun mudah mempesona orang lain dengan rupa fisiknya. Setelah itu tentu saja, istri yang saleh ini dikabulkan doanya. Sementara itu mantan pasangannya dilanda oleh musibah demi musibah dan perlahan ditinggalkan oleh wanita rekan sekantor yang telah ia pilih sebelumnya. Yang menarik, di akhir tayangan ada dua kemungkinan bernuansa sama. Tewas tertimpa azab yang tidak dapat dinalar akal sehat atau insyaf selepas ia berkilas balik akan kenangan perjuangan bersamanya dan merayakan semua pengorbanan itu dengan sederhana, lalu ia akan kembali di hadapan tokoh utama wanita saleh ini dengan berlutut dan membanjiri lantai rumah dengan tangisan buaya. Selesai. Lagu religi melantun dan mbah menggeleng-gelengkan kepala sambil berdecak keras, terbawa suasana dan hanyut dalam perasaan yang takkan pernah dimengerti Jati sendiri. Apakah jangan-jangan mbah pernah mengalami hal serupa? Atau bisa saja itulah satu-satunya hiburan bagi mbah yang penglihatannya kian meredup sehingga percuma saja Jati menawarkan mbah bacaan kesukaannya untuk disimak. Ia tak tega menyiksa neneknya seperti itu.

Jati menggapai ponsel yang telah retak layarnya di sebelah bantalnya. Sudah waktunya beli yang baru. Tetapi ia lebih memilih untuk menyuapi lambungnya yang masih sering keroncongan daripada ponsel baru yang nantinya bakal terganti lagi. Tidak ada pesan dari siapapun, bahkan temannya. Namun terlihat notifikasi lima panggilan tak terjawab dari ibunya.

Ia bangkit dari kasurnya dan mengucek-ucek mata. Tumben sekali, gumamnya. Dari dua puluh menit lalu, belum terlambat untuk menghubunginya kembali. Jati menekan tombol angka satu demi satu, mengetikkan nomor telepon ibunya. Nada sambung berbunyi.

“Halo bu? Ini Jati, maaf tadi Jati ketiduran, jadi telepon ibu nggak keangkat.”

“Oalah Jati, ibu mau minta tolong sama kamu.”

Nada bicara ibunya begitu serius. Pasti ada sesuatu.

“Iya bu, ada apa?”

“Tolong kamu berangkat ke rumah eyang ya sekarang, biasanya di terminal jam segini busnya tidak terlalu ramai. Tadi eyang cerita, rumah sepi. Tolong Jati temani eyang kira-kira seminggu lah ya. Ibu takut nanti asam uratnya kambuh. Liburmu masih lama kan?”

Jati menghela napas panjang, “Iya bu, masih empat belas hari lagi kok. Tidak apa, setelah ini Jati berkemas. Ibu gimana kabarnya?”

“Oh, baik nak. Kamu juga kan ya? Kalau uang makanmu mau habis telpon saja bapakmu itu, mosok mau ninggal anaknya mati kelaparan. Mana kamu itu kurus dari dulu lho.”

Ada jeda agak panjang, Jati teremenung lalu tertawa kecil.

“Iya bu, santai kok Jati pintar berhemat, biar bisa makan terus nih.”

“Bagus kalau gitu. Maaf ya Jati, ibu belum bisa kirim uang saku bulan ini, cicilan kontrakan ibu masih belum lunas. Tapi kalau kamu kekurangan, jangan ragu buat telpon bapakmu. Itu hakmu lho. Oh ya, hati-hati di jalan nak. Ibu tutup dulu ya.”

Sambil menatap layar ponselnya ia memencet hidungnya, merebahkan badannya sebentar di atas kasur dan memandang sekeliling kamar kosnya yang pengap. Mungkin ia harus bergegas mencari pekerjaan sampingan sebentar lagi. Pikirannya masih melayang memikirkan ucapan ibunya barusan. Entah kenapa ia begitu sungkan meminta tolong perihal urusan uang dengan bapaknya. Sejak perpisahan kedua orang tuanya, pandangan Jati terhadap bapaknya tidak pernah sama lagi. Lagipula ia sudah menginjak usia dua puluh tahun, wajar jika ia mulai mencari mata pencaharian. Hidup penuh ketidakpastian dan ia harus memilih dengan betul-betul biar tidak berantakan.

Ia menggaruk kepalanya dan menengadah ke arah jam dinding. Sudah pukul sembilan menjelang siang. Seharusnya sekarang ia berkemas bersiap menemui mbahnya yang begitu menggemari sinetron yang mendayu-dayu. Jati bangkit dari kasurnya dan mengambil beberapa buku di atas mejanya, amunisi jaga-jaga kalau ia bosan di sana. Jarak kabupaten tempat tinggal mbahnya tidak begitu jauh, kalau naik bus cukup tiga jam saja. Di ujung pusat kota yang berbatasan dengan pegunungan langsung. Biasanya Jati akan menikmati sore hari di balkon rumah eyangnya itu dengan merokok, pemandangannya indah. Sia-sia jika tidak dinikmati. Sepertinya ini waktu yang tepat untuk berkunjung, ia rindu pada kenampakan dan suasana itu.

Dua jam berlalu, Jati menyenderkan kepalanya ke kursi butut bus ini, setidaknya armada yang satu ini lumayan kencang dan nyaman baginya. Sedikit pengap karena penuh dengan peluh keringat penumpang yang berkumpul menjadi bau yang khas. Tapi siapa peduli, tujuan merekalah yang utama. Tentu sambil diiringi tembang-tembang dangdut koplo khas orkes pantura. Kalau boleh jujur, terkadang Jati menikmatinya. Lirik yang agak sedih dan dibumbui melankolia oleh bahasa Jawa dan nada ala musik SKA atau reggae. Seperti hidup, dalam beberapa momen tertentu, kita hanya bisa mengikuti arus dengan berjoget untuk menerima dan melupakan semuanya.

Tiba-tiba Jati teringat mbahnya lagi, terpikir mengapa beliau asam uratnya hampir kambuh. Ini bukan sekali waktu saja Jati diminta tolong untuk menemani mbah secara langsung. Kalau sedang kesepian, bisa-bisa asam uratnya kambuh dan ia harus segera diperiksakan ke puskesmas setelah itu. Anak-anak mbah, termasuk ibu Jati sendiri sudah sibuk dengan urusan masing-masing sampai tidak sempat untuk menilik orang tuanya sendiri. Dulu Jati pernah bertanya kepada ibunya, apakah ia tidak merasa bersalah? Ibunya hanya bisa menundukkan kepala saat itu, malu karena kesibukannya juga demi menafkahi darah dagingnya sendiri.

Sejak saat itu ibu Jati rutin meminta tolong kepadanya untuk rajin menjenguk mbah. Jati hanya bisa memaklumi, tapi ia tidak ada rasa keberatan sedikitpun. Lagipula teman-temannya juga ramai-ramai pulang kampung. Anggaplah ini sebagai kesempatan Jati untuk pulang kampung.

Bus berhenti di terminal Pilangsari, Jati melangkahkan kakinya keluar dan mencari pangkalan ojek. Delapan kilometer lagi ia akan berjumpa dengan mbahnya dan televisi kesayangannya. Jati sebenarnya sangat membenci tayangan-tayangan yang dinikmati mbah di televisi. Formulanya selalu sama dan generik, dimana coba letak hiburannya?

Ia terkekeh dalam hati mengetahui siklus itu akan terulang lagi mulai nanti, menemani mbahnya mengiris bawang putih dan sayur-mayur sembari sambat tentang kelakuan antagonis di serial sinetron kesukaanya itu membuat ulah. Pemandangan sawah kehijauan yang begitu luas, kalau di bulan ini mereka semua baru ditanam, memanfaatkan musim hujan. Kakeknya yang biasa ia panggil kakung, sudah meninggalkan mereka setahun lalu di suatu pagi yang terlihat damai. Sayangnya bendera kuning harus dipasang beberapa jam setelahnya. Kakung tampak tertidur di atas kursi rotan kesayangannya, segelas kopi yang ia letakkan di meja masih menyisakan setengah volume gelas. Tidak ada yang mampu menebak dengan pasti apakah malaikat pencabut nyawa berkompromi terlebih dahulu dengan almarhum mengenai segelas kopi yang masih belum sempat ia habiskan. Mungkin itulah alasan mengapa asam urat mbah lebih sering kambuh akhir-akhir ini? Rasa ingin tahunya kalah oleh rasa sungkan yang ia ukur dalam-dalam.

Sepeda motor yang ia tumpangi kini berhenti, telah sampai di depan rumah yang telah lama ia kenal. Tidak ada yang berubah kecuali kursi rotan kesayangan kakung yang raib, dirongsokkan selepas kepergiannya. Terlihat mbah yang menyapu pekarangan sempit namun ramai dengan tumbuhan. Ah, di sini suhunya memang dingin, namun Jati merasakan kehangatan masa kecilnya yang lama tidak ia rasakan. Sebelum bapak dan ibunya berpisah, sebelum kakung menjadi nama saja, dan sebelum mbah sering kambuh penyakitnya.

“Le, kok wis teko wae? Jan saiki kendaraan podo banter yo,” celetuknya.

Jati tertawa.

“Inggih mbah, supire ngebut gak nanggung-nanggung.”

Mbah semakin keriput dan tulang punggungnya semakin menekuk ke bawah, itu semua tak mengubah suaranya yang cempreng dan familiar di telinga Jati sejak ia bocah. Jati mencium tangannya. Mbah mengayunkan tangannya menuju pintu masuk, menyuruhnya untuk membereskan barangnya. Matanya mengamati tiap inci rumah yang semakin tua ini, begitu lenggang tanpa kehadiran kakung. Jam segini biasanya kakung mendengarkan sandiwara radio melalui ponselnya yang masih bertombol, tidak layar sentuh seperti keluaran gawai akhir-akhir ini. Lalu mbah akan meminta tolong kakung untuk mengecilkan volumenya karena ia jadi sulit mendengar tayangan di televisi kesayangannya itu.Kini mbah tidak gusar akan volume televisinya yang kalah keras dengan radio kakung, namun benar ada yang ikut sirna dari diri mbah sepeninggalan kakung.

“Le, tulung mrene yo!” panggil mbah dari dapur. Jati segera bergegas ke sana, ada baskom-baskom berisi sayuran dan bumbu-bumbu seperti bawang putih, bawang merah, sampai daun mlinjo. Tangannya dengan cekatan membawa baskom-baskom itu secara bergiliran ke kamar mbah.

“Mangan karo sayur asem yo, sing akeh mangane ben awakmu gak cungkring ae,” sahut mbah sambil memegang lengannya yang seakan-akan hanya tulang yang menempel dengan kulitnya yang gelap.

“Inggih mbah, kula ugi seneng masakan buatane mbah kok.”

Sebenarnya Jati malu, ia tidak begitu lancar berbahasa Jawa Krama, padahal untuk berbicara kepada orang yang lebih tua sepatutnya ia gunakan bahasa Jawa Krama. Untunglah sampai sekarang mbah tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut, kecuali jika ada ibu atau bapak di dekatnya, sudah pasti kupingnya dijewer.

Baca juga: Julia dan Jelita: tentang Bahagia (Cerpen)

Mbah mengambil remote televisi di sampingnya, ia menekan tombol merah lalu mulailah rutinitas mbah yang paling dipertanyakan Jati. Jati menatap heran ke arah mbah, walaupun sepasang matanya yang rabun itu fokus menatap layar kaca, beliau bisa tetap fokus mengiris bawang putih tanpa melukai jarinya sedikitpun. Jati mengupas bawang yang belum diiris dengan tangan telanjang, ia takut pisau dapat melukai jarinya sebagaimana keisengan itu ia lakukan beberapa bulan lalu dan malah membuatnya trauma.

Mbah tertawa terbahak-bahak sampai baskom yang ada di depannya hampir jatuh, untung saja Jati sadar akan hal itu, tangannya sigap menangkap baskom plastik itu.

“Sepurane le, kuwi lho kok anak lanange isok ketipu marang wong tuwone dhewe,” ujar mbah sambil menahan tawanya. Jati mengangguk.

Oh Tuhan, tayangan apalagi yang mereka siarkan? Ia menyipitkan matanya. Ada-ada saja, menyiarkan anak kecil yang diisengi oleh orang tuanya sendiri di televisi, apakah mereka tidak malu? Sesaat setelah pikiran itu terkelebat di kepalanya ia cekikikan. Mungkin inilah cara meperkaya diri di abad dua puluh satu, gumamnya. Kasihan anak itu, ia memakai sepatu bermerk yang konon harganya lima kali lipat dibandingkan ponsel yang layarnya retak itu. Setidaknya waktu ia kecil bapak dan ibunya tidak sampai hati menipunya demi kejar tayang di televisi. Mbah meletakkan talenan dan pisau yang tuntas ia pakai, menatap paras Jati lekat-lekat dan menyunggingkan senyum.

“Le, kowe iki asline ngganteng tenan kok. Koyok arek cilik iku.”

Jati membetulkan posisi duduknya supaya bisa menghadap pada sosok mbah lebih jelas dan ia membalas senyuman mbah dengan tawa kecil. “Hahaha, mosok mbah? Aku ket cilik cungkring terus lho.”

“Irungmu koyok irunge kakungmu, cilik nanging landhep tenan.”

Jati merangkul tubuh mbah yang semakin ringkih. Garis bibirnya menurun, sungguh kuat mbah ini. Bayangkan saja ditinggal oleh orang yang tulus dan berapa dasawarsa telah mereka lewati bersama? Sekarang tanpa kakung, mbah harus tetap menjalani hari-hari seperti biasa.

Mbah menghela napas dalam.

“Nanging aku gak ngeroso dewean kok le. Manungso iku gak tansah dhewean,” ujarnya tenang.

“Onok aku mbah, hehehe.”

“Haish, gak onok kowe yo aku isih ditemeni Gusti Agung lan teveku kok.”

Mbah bangkit dari duduknya dan membawa baskom berisi sayur yang telah ia potong. Sementara cucunya yang kurus itu tertegun akan kata-kata yang terakhir diucapkan. Lagi-lagi ia malu, perannya sebagai makhluk sosial telah tergantikan oleh benda berbentuk balok, berantena, dan menyiarkan gambar-gambar bergerak yang dilengkapi audio seadanya. Ialah yang benar-benar teralienasi di sini.

Bersama asap yang mengepul mbah yang sudah di dapur berteriak, “Le, ojok diganti saluran yo. Mbah arep nonton pelem sakwise masak!”

Ia terbangun dari lamunannya dan bergegas. Inilah kesempatan buat Jati untuk merajut hubungan yang lebih sehat dengan neneknya yang sedang bergelut dengan kesepian, melawannya seorang diri.

“Lho, isok masak le?” Sindir mbah sambil mengaduk isi panci. Jati menyilangkan kedua lengannya.

“Yo nyuwun tulung mbah, ajari kulo hehehe.”

Mereka berdua; cucu yang lelah dengan hidupnya dan wanita lanjut usia yang tak lama kehilangan suaminya, telah sibuk di tengah kepul dan aroma masakan sederhana, namun menyimpan banyak rahasia dan rasa. Puncak dari kebosanan manusia dan kebimbangannya akan hidup. Akhirnya, usai sudah sesi demo memasak kecil-kecilan itu. Jati membawa nampan dengan dua mangkuk nasi dan sayur asem yang masih hangat. Mbah sudah duluan duduk di kamar menyimak sinetron kesukaannya.

Baca juga: Debu di Tanah Kelabu (Cerpen)

Cucunya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat mbah yang kembali sambat sebab ulah antagonis di sinetron yang begitu stereotipikal itu.

“Kesel mbah ndelok rai wong iku. Mosok bojone wong direbut lho, le.”

“Walah isok ngono mbah…aku gak paham sisan,” jawab Jati berpura-pura tidak tahu. Berani taruhan, Jati sudah hafal alur sinetron yang biasanya ditonton oleh neneknya itu. Hanya saja, sebagai seseorang yang pengertian, ia takkan membocorkan hal tersebut pada neneknya yang terlanjur tenggelam dalam adu peran mereka.

“Pas mbah seumuran biyungmu, onok wadon sing ameh ngerebut kakungmu, le. Opo yo gak jan kebacut!”

“Walah mbah, jenengan wes gak onok penggantine gae kakung. Aku reti dhewe kok,” ujar Jati menenangkan.

Mungkin ini alasan bagi mbah menggemari sinetron-sinetron itu. Jati pun begitu menyukai suatu buku, biasanya itu karena dia mengalami rasa yang mirip dengan tokohnya. Jadi ia merasa tidak sendirian. Mbah kembali menyimak layar kaca, kalau sudah seperti ini biasanya Jati akan menyibukkan diri membaca buku yang telah ia bawa. Ia tidak kuat menyimak akting mereka yang begitu dramatis dan dibuat-buat. Tiba-tiba Jati teringat sesuatu.

“Mbah sepurane, nduwe nomor hapeku gak? Ben isok tak telepon kapan-kapan,” celetuknya.

“Gak nduwe le, arep lapo?”

Jati mengambil ponsel mbah yang butut, ponsel zaman dahulu yang populer di awal abad dua puluh satu, ketika Nokia masih memimpin. Ia mengetikkan nomor teleponnya.

“Niki mbah, sampun. Opo mbah isih isok mirsani tulisan hape iki?” Jati prihatin akan kondisi penglihatan mbah yang semakin menurun.

“Aku isih isok nelpon biyungmu kok, le.”

Jati menutup halaman bukunya. Cuma seminggu dia bisa menemani mbah secara langsung. Jati tidak mau dikalahkan oleh gengsi dan seleranya, diputuskanlah Jati menemani mbahnya menonton sinetron ala opera sabun itu. Pemuda itu tidak tahu berapa tahun lagi ia sempat mengeratkan hubungannya dengan mbah sebelum ajal menjemputnya seperti kakung, siapa tahu Jati duluan yang bakal di alam kubur. Tidak ada yang tahu. Televisi, balok berantena itu telah menemani mbah bertahun-tahun, saat kakung ada hingga tiada. Saat Jati lahir hingga dewasa, mbah hanya menyimak karena tidak ada manusia yang memilih untuk peduli padanya, bahkan buah hatinya sendiri. Inilah alasan mengapa Jati tidak jadi membenci televisi. Sesungguhnya kepedulian itu lebih berharga daripada kebencian yang semu terhadap benda yang sejatinya mengalienasi makna kemanusiaan itu sendiri.

-selesai-


Leave a Comment